Netanyahu ke AS Bahas Iran Tekan Rudal Balistik dan Hentikan Dukungan Poros
WASHINGTON – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dijadwalkan melakukan pertemuan penting dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, di Gedung Putih pada Rabu (11/2/2026) mendatang. Pertemuan bilateral ini diprediksi akan fokus membahas strategi bersama menghadapi pengaruh Iran, menyusul berbagai ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Menurut pernyataan dari Kantor Perdana Menteri Israel, Netanyahu akan mendesak agar setiap perundingan atau kesepakatan internasional dengan Tehran harus mencakup dua pilar utama: pembatasan ketat terhadap program rudal balistik Iran dan penghentian dukungan finansial serta militer terhadap jaringan proxy atau "poros" yang di-backing Iran di kawasan.
"Perdana Menteri berpendapat bahwa setiap negosiasi harus mencakup pembatasan rudal balistik, serta penghentian dukungan terhadap poros Iran," bunyi pernyataan tersebut, seperti dilaporkan Ahad (8/2/2026).
Pertemuan ini terjadi dalam konteks ketegangan yang meningkat pasca penargetan komandan senior Pasukan Quds Iran, Jenderal Qasem Soleimani, oleh AS awal Januari lalu. Israel, sebagai sekutu terdekat AS di kawasan, secara konsisten menyuarakan kekhawatiran atas ambisi nuklir dan militer Iran, serta peran destabilisasinya melalui kelompok-kelompok seperti Hizbullah di Lebanon, milisi Syiah di Irak, dan Houthi di Yaman.
Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/01/ancaman-shutdown-pemerintah-as-terkait.html
Juga lihat : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/260-jurnalis-tewas-di-gaza-israel.html
Netanyahu diperkirakan akan menyampaikan bukti-bukti intelijen terbaru mengenai perkembangan program rudal Iran, yang diklaim Israel mampu menjangkau seluruh Timur Tengah dan Eropa, serta ancamannya terhadap keamanan nasional Israel. Isu rudal ini sebelumnya sempat luput dari cakupan Perjanjian Nuklir Iran 2015 (JCPOA), yang menjadi salah satu alasan utama AS menarik diri dari kesepakatan tersebut pada 2018.
Kunjungan ini menjadi misi diplomasi krusial bagi Netanyahu, yang secara domestik sedang menghadapi situasi politik rumit setelah tiga kali pemilihan umum yang gagal membentuk pemerintahan stabil. Keberhasilannya mempertahankan dukungan kuat dari Gedung Putih di bawah Presiden Trump menjadi aset politik penting.
Analis hubungan internasional, Dr. Yael Mizrahi-Arnaud, menyebut pertemuan ini sebagai "upaya sinkronisasi kebijakan terakhir" sebelum pemilihan presiden AS bulan November. "Netanyahu ingin memastikan bahwa tekanan maksimum terhadap Iran tetap menjadi kebijakan inti AS, terlepas dari siapa yang nantinya memimpin setelah Trump. Dia ingin mengunci komitmen AS pada prinsip-prinsip yang dia ajukan: 'tidak ada kesepakatan tanpa pembatasan rudal dan penghentian dukungan kepada milisi'," ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah Trump telah menerapkan kebijakan "maximum pressure" terhadap Iran melalui sanksi ekonomi yang melumpuhkan. Namun, belum ada tanda-tanda Tehran bersedia kembali ke meja perundingan dengan syarat-syarat baru yang diinginkan AS dan Israel. Pertemuan ini kemungkinan akan membahas cara memperketat sanksi lebih lanjut dan opsi-opsi lainnya.
Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/01/rencana-as-gaza-baru-diungkap-di-davos.html
Lihat juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/01/as-mundur-dari-serangan-iran-karena.html
Hingga berita ini diturunkan, pihak Gedung Putih belum merilis agenda detail pertemuan. Namun, juru bicara Departemen Luar Negeri AS sebelumnya telah menyatakan keselarasan dengan Israel mengenai ancaman dari Iran. "Kami berbagi keprihatinan yang sama dengan sekutu kami Israel mengenai perilaku destabilisasi Iran, termasuk program rudal balistiknya dan dukungan terhadap kelompok teroris," kata seorang pejabat senior AS yang tidak ingin disebutkan namanya.
Di Tehran, Menteri Luar Negeri Iran, Javad Zarif, telah berulang kali menegaskan bahwa program rudal balistiknya adalah untuk pertahanan dan tidak bisa dinegosiasikan. Sementara itu, media pemerintah Iran menyebut kunjungan Netanyahu sebagai "konspirasi baru untuk menciptakan permusuhan".
Pertemuan Netanyahu-Trump juga akan membahas isu-isu lain seperti rencana perdamaian Timur Tengah yang digagas AS, yang sering disebut sebagai "Kesepakatan Abad Ini", dan normalisasi hubungan antara Israel dengan negara-negara Arab.
Pemantau kawasan memprediksi hasil pertemuan ini akan sangat memengaruhi dinamika keamanan di Timur Tengah dalam beberapa bulan ke depan, terutama dalam menyikapi gerak-gerik Iran dan kelompok-kelompok yang berada di bawah pengaruhnya. Dunia internasional akan menanti apakah duet Trump-Netanyahu akan meluncurkan strategi lebih ofensif atau mempertahankan status quo tekanan melalui sanksi.
Kontributor : Indah W
Editor : Tim EDUKASI-R I
Sumber: Ul Palestine

