Jumat, 06 Februari 2026

Gempa di Malam Jumat Wage Ruwah Sasmita Primbon Jawa, BPBD Batu Ingatkan Fokus pada Mitigasi

 


KOTA BATU. Ramalan cuaca ekstrem dan ujian hidup yang tertuang dalam primbon Jawa untuk Jumat (6) Wage (4) di bulan Ruwah, mendapatkan dimensi baru yang menggetarkan. Sasmita yang menyebut "Akeh udan lan angin, sarta akeh manungsa kesusahan" seolah menemukan pengejawantahan awal secara harfiah di wilayah tertentu, bukan melalui hujan dan badai, tetapi melalui getaran bumi. Pada tengah malam Lingsir Dalu, dilaporkan terjadi gempa bumi dengan skala kecil (lindu) di beberapa daerah.


Kejadian ini dengan cepat dihubungkan oleh sebagian kalangan dengan pembacaan pertanda alam dalam tradisi Jawa. Dalam pemahaman primbon, fenomena alam seperti gempa pada waktu-waktu yang dianggap spesifik sering dilihat sebagai bagian dari "sasmita baya" atau tanda peringatan yang lebih besar.

Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/sanggar-budaya-sangguran-membaca.html

"Dalam konteks kemarin, waktu kejadian sangat signifikan," ujar Siswanto Galuh Aji.

Siswanto Galuh Aji (Cak Penthol) dari Sanggar Budaya Sangguran), seorang budayawan yang mendalami makna waktu Jawa. "Lingsir Dalu adalah waktu 'penyingkiran' atau peralihan yang penuh ketenangan. Terjadinya lindu pada saat itu, dalam filsafat Jawa, bisa dimaknai sebagai getaran pengingat. Pengingat bahwa pesan Ruwah tentang perubahan drastis dan kesusahan itu bukan metafora belaka, tetapi ada gejalanya di alam." ungkapnya kepada EDUKASI-RI, Jum'at 6 Februari 2026 pagi.


Siswanto Galuh Aji (Cak Penthol) dari Sanggar Budaya Sangguran

Ia melanjutkan penjelasan filosofisnya, "Tafsir untuk malam itu berbunyi: 'sapa kang e-LING marang SIR-e, lan weruh we-DAL-e a-LU... bakal bisa endhase saka sela-selane garu luku'. Artinya, gempa (getaran) di malam itu adalah panggilan untuk lebih 'eling' (sadar) dan 'weruh' (tahu) akan hakikat terdalam kehidupan. Bagi yang mampu membaca tanda ini secara batin, mereka dianggap akan lebih tangguh menghadapi 'sela-sela batu' atau rintangan hidup yang keras ke depannya." Sambungnya.


Namun, para ahli geofisika dan mitigasi bencana mengingatkan agar kearifan lokal tidak menggantikan kewaspadaan ilmiah. Plt. BPBD Batu, Suwoko menegaskan, "Gempa skala kecil adalah fenomena geologi biasa di wilayah seismik aktif seperti Indonesia. Waktu kejadiannya yang bertepatan dengan hari spesifik dalam kalender Jawa adalah kebetulan statistik. Yang penting, peristiwa ini harus menjadi pengingat untuk kesiapsiagaan, terlepas dari ramalan apapun."


Plt. BPBD Batu, Suwoko

Ia menambahkan, "Pesan 'akeh udan lan angin' dalam primbon justru bisa kita baca secara cerdas sebagai peringatan untuk mewaspadai bahaya hidrometeorologi dan geologi. Musim peralihan seringkali tidak hanya membawa hujan lebat, tetapi juga bisa memicu aktivitas geodinamik di beberapa kondisi. Jadi, kearifan lokal dan sains modern sebenarnya bertemu dalam pesan yang sama: waspadalah dan bersiaplah."


Di tingkat masyarakat, respons terhadap peristiwa ini beragam. Sebagian warga, terutama di pedesaan Jawa, menganggapnya sebagai validasi dari petuah leluhur dan menggelar ritual kecil atau tahlilan untuk menolak bala. Sementara generasi muda lebih melihatnya sebagai momentum refleksi dan pengingat untuk memperkuat mitigasi mandiri, seperti menata rumah agar tahan gempa dan mengetahui jalur evakuasi.

Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/slamet-henkus-desak-dinas-budaya-di.html

"Bagi saya, gempa kemarin malam adalah alarm alam," kata Narto, Ketua Dewan Kesenian Kota Batu, yang merasakan guncangan. "Entah itu kebetulan atau bukan, yang jelas tanda alam sudah mengingatkan tentang kemungkinan kesulitan. Sekarang gempa kecil, besok bisa hujan besar atau angin kencang. Mending kita eling lan waspada untuk mulat sarira ( tetap waspada dan introspeksi diri akan perlakuan kita kepada alam )seperti pesan itu sendiri."


Narto, Ketua Dewan Kesenian Kota Batu

Peristiwa gempa pada Jumat Wage Ruwah malam Lingsir Dalu ini akhirnya berfungsi sebagai katalis. Ia menghidupkan kembali diskusi tentang relevansi ramalan tradisional di era modern, sekaligus mengingatkan ketahanan masyarakat dalam memaknai tanda-tanda alam. Pesan utamanya tetap konsisten: dari sudut pandang budaya, ini adalah seruan untuk eling (sadar) dan introspeksi. Dari sudut pandang ilmiah dan keselamatan publik, ini adalah seruan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap segala bentuk bencana, sesuai dengan pesan inti Ruwah tentang datangnya perubahan dan ujian.


Dengan demikian, "lindu" kecil di malam yang sakral itu bukan untuk ditakuti secara irasional, tetapi untuk dibaca sebagai penguat pesan—baik yang bersifat spiritual maupun praktis—agar manusia senantiasa siap, waspada, dan berusaha menyelaraskan diri dengan dinamika alam yang semakin tidak terduga.

Kontributor : AGS

Editor : Tim EDUKASI-R I 

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2 Gambar 1
gambar 1 gambar 2 gambar 3

Labels

Aceh AFK Agro Akademik Associantion of Polri ATR BPN Bali Bantengan BHP BI Bilateral Blitar BMKG BPBD Budaya Budaya Jawa Bumiaji Catur cuaca Daerah Delegasi Desa Desa Tulungrejo Destinasi Disabilitas Dishub Dispendukcapil Disperkim DPUPR Dusun Junggo education Edukasi Esai essay Event Lokal Futsal Gempa gibran Grebek Suro Gubernur Gusdur Hotel Hukum dan Kriminal Hukum dan HAM Hukum dan Kriminal Info Pasar informasi publik Inklusi Internasional Jakarta Jawa Timur Jenang Kalbar Kalimantan Kampung Warna-Warni Batu Kampung Wisata Batu Karnaval Kartini Karya Bakti KBLI Kecelakaan Kehutanan Kemah 2024 Kesehatan Koni Kota Baru Kota Batu KPPPA KPU Kuda Lumping Lakalantas Lingkungan Madrasah Malang Malqng Mancanegara Medan Memberamo Tengah MI Mikutopi Mikutopia MTs Hasyim Asy'ari Musik Muslimat Nasional Nasional. TNI AD National Police Chief Ngantang Non Akademik OJol Olahraga Opini OSS Palestina Papua Papua Barat Papua Pegunungan Pawai PBB PDI Pekanbaru pekerja migran Pelajar Pendem Pendidiian Pendidikan Penghijauan Perhutani Peristiwa Pertanian Piala Dunia Poktekad Polda Jatim Police Polisi Polres Batu Poltekad Pontianak PPM Primbon Jawa PSSI Puasa Membisu Pujon Religi Ritual Kearifan Lokal Kota Batu RUN FUN Rupiah Sambas Sampah Sanduk Sarpras satgas pamtas Sekda Selamatan Desa Seni Seni Budaya Spiritualitas Masyarakat Adat Sumberbrantas Surabaya Suro Suroan tentang Kami Timor Timur TMP TNI TNI AL TPU Tradisi Selamatan Desa Bumiaji Transmigrasi UMKM UMKM Batu Universitas Universitas Terbuka Malang Veteran Vidio Berita Wapres RI WBTB Wisata Budaya Batu Wisata Kota Batu Yonif 512/DIY
EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts