Sanggar Budaya Sangguran Membaca Peringatan Alam pada Gempa Bulan Ruwah
Kota Batu, Dalam perhitungan kalender Jawa, Jumat (6) Wage (4) di bulan Ruwah tahun ini jatuh pada malam Lingsir Dalu. Kombinasi waktu yang dianggap sakral ini bukan sekadar penanda tanggal, melainkan membawa serangkaian sasmita atau pertanda yang tertuang dalam kitab primbon. Fenomena ini menarik perhatian banyak kalangan yang masih memegang tradisi, sebagai bahan perenungan di tengah potensi cuaca ekstrem dan dinamika kehidupan sosial.
Bulan Ruwah, yang dikenal sebagai bulan sebelum Ramadan, secara etimologi terkait dengan kata "ruwah" atau "rawuh" yang berarti datang. Dalam primbon disebutkan, "Akeh udan lan angin, sarta akeh manungsa kesusahan". Frasa ini diterjemahkan para ahli budaya sebagai peringatan simbolis tentang periode yang rentan dengan perubahan musim yang drastis.
"Maknanya bersifat simbolis, berlapis," jelas seorang penggiat budaya Jawa, Siswanto Galuh Aji (Cak Penthol) dari Sanggar Budaya Sangguran "Di satu sisi, ini adalah pesan ekologis tradisional yang mengingatkan akan kemungkinan bencana alam terkait air (udan) dan angin besar. Di sisi lain, ini adalah gambaran metaforis tentang bakal adanya kondisi sosial atau ekonomi yang bisa membuat kehidupan manusia susah. Ini ajaran untuk bersiap secara lahir dan batin." Ungkapnya kepada EDUKASI-RI, Jum'at 6 Februari 2026 pagi.
Lebih dalam lagi, kombinasi hari dan pasaran Jumat Wage membawa pesan filosofis yang kental. Dalam penomoran aksara Jawa, Jumat (Ja) bernilai 6 dan Wage (Wa) bernilai 4. Angka 6 dimaknai sebagai dununge rasa (tempat bersemayamnya rasa/hati nurani), sementara angka 4 adalah dununge napsu (tempat bersemayamnya nafsu). Jumlah keduanya, sepuluh (10), dianggap sebagai itungan yang jangkep (lengkap).
"Angka 10 ini melambangkan penyatuan, jubuhing kawula lan Gusti," terangnya. "Angka 1 (kawula/hamba) bertemu dengan 0 (Gusti/Sang Pencipta) membentuk kesempurnaan. Artinya, hanya mereka yang mampu mengelola dan menyelaraskan hati nurani (6) dan nafsu (4)-nya, yang akan mencapai keselamatan sejati (jatine slamet). Ini adalah seruan untuk introspeksi."
Waktu Lingsir Dalu, yang menandai pergantian dari sore ke tengah malam, semakin mempertegas pesan introspeksi tersebut. "Lingsir Dalu di sini dimaknai secara esoteris. E-LING marang SIR-e berarti ingat akan hakikat diri sejati (sir). Kemudian weruh we-DAL-e a-LU merujuk pada pemahaman akan rahasia terdalam yang hakiki," papar sumber tersebut. Hanya orang yang mencapai kesadaran seperti inilah, yang dalam simbolisme tradisional digambarkan akan mampu "mengendalikan bajak dari sela-sela batu", atau mengatasi segala rintangan hidup yang keras sekalipun.
Momentum ini mencapai puncaknya pada Tabuh Siji (jam pertama setelah tengah malam). Waktu tersebut diyakini sebagai saat yang suci, dimana Hyang Suksma (Roh Suci) membersihkan jagat. "Ini dimaknai sebagai waktu yang tepat untuk ikut serta membersihkan diri dari segala yang dudu atau palsu dalam hidup: pikiran, perkataan, dan perbuatan," tambahnya.
Di tengah arus modernisasi, interpretasi terhadap wejangan tradisi Jawa ini tetap hidup. Bagi sebagian masyarakat, ramalan cuaca ekstrem di bulan Ruwah dijadikan sebagai pengingat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, angin kencang, atau tanah longsor di peralihan musim. Secara paralel, pesan sosial dan spiritualnya relevan sebagai alat perenungan kolektif menghadapi tantangan ekonomi dan ujian hidup yang semakin kompleks.
"Pada akhirnya, ini bukan tentang ramalan yang menakut-nakuti," simpul narasumber. "Ini adalah kearifan lokal yang dikemas dalam bahasa simbol, mengajak kita untuk meruhi dununge rasa lan raga (mengenal tempat rasa dan raga), lebih waspada terhadap alam, dan lebih bijak dalam menjalani kehidupan sosial. Jumat Wage Ruwah ini mengingatkan kita bahwa keselamatan (slamet) diraih dengan keseimbangan antara kesiapan fisik dan kedalaman spiritual."
Dengan demikian, malam Jumat Wage di bulan Ruwah ini tidak hanya meninggalkan catatan kultural, tetapi juga menawarkan perspektif holistik untuk menyikapi tantangan alam dan kehidupan yang mungkin datang, dengan bekal kewaspadaan dan pembersihan diri.
Kontributor : AGS
Editor : Tim EDUKASI-R I

