AS Mundur dari Serangan Iran karena Tekanan Sekutu di Timur Tengah
WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah menerima peringatan keras dari dua sekutu kunci di Timur Tengah, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Keduanya dikabarkan menyampaikan kekhawatiran mendalam bahwa AS tidak memiliki kapasitas militer yang memadai untuk menghadapi konsekuensi dari serangan tersebut. Informasi ini terungkap berdasarkan laporan eksklusif media Axios, Rabu (21/1/2026).
Laporan tersebut, yang mengutip sejumlah sumber militer, politik, dan diplomatik terkemuka di Washington dan Timur Tengah, menggambarkan ketegangan tinggi yang terjadi pekan lalu. Pada pagi hari, para pejabat di berbagai ibu kota masih memperkirakan bahwa serangan AS ke target-target di Teheran akan segera dilancarkan sebagai eskalasi dari konflik yang telah berlarut-larut. Namun, situasi berubah drastis pada sore harinya.
Menurut Axios, dua pejabat AS yang mengetahui perkembangan tersebut menyatakan sudah “jelas bahwa Washington telah menarik diri” dan “perintah [serangan] tersebut tidak akan dikeluarkan.” Titik balik kritis tersebut terjadi setelah Presiden Trump melakukan serangkaian komunikasi intensif dengan Netanyahu dan MBS.
Kedua pemimpin Timur Tengah itu, meski secara historis bersikap keras terhadap Iran, justru meminta pengekangan. Mereka dilaporkan menyampaikan analisis intelijen dan evaluasi strategis yang pesimistis mengenai kemampuan AS untuk mengendalikan situasi pasca-serangan. Kekhawatiran utama mereka terletak pada kapasitas pasukan AS, yang dianggap sudah terlalu terbentang di berbagai wilayah konflik global, termasuk dalam menjaga stabilitas di Gaza dan wilayah sensitif lainnya.
“Netanyahu dan MBS tidak meragukan kekuatan tempur AS, tetapi mereka meragukan kemampuan Washington untuk menanggung gelombang balasan skala penuh dari Iran dan sekutunya di wilayah tersebut tanpa mengorbankan kepentingan sekutunya,” jelas seorang sumber diplomatik yang dikutip dalam laporan itu. Balasan yang dikhawatirkan dapat berupa serangan rudal masif, aksi proxy terhadap Israel dan kepentingan Saudi, serta destabilisasi lebih lanjut di jalur pelayaran internasional.
Analis keamanan internasional, Dr. Evelyn R. dari lembaga think tank The Middle East Institute, menyoroti signifikansi politis dari intervensi ini. “Ini merupakan momen yang luar biasa. Dua sekutu terdekat AS di wilayah itu, yang biasanya mendorong posisi lebih keras terhadap Iran, justru menjadi penahan. Ini menunjukkan betapa dalamnya kekhawatiran mereka tentang ketahanan dan fokus strategis Washington,” ujarnya.
Keputusan pembatalan ini, meski meredakan ketegangan jangka pendek, meninggalkan sejumlah pertanyaan besar tentang postur strategis AS di Timur Tengah ke depannya. Kritik dari dalam negeri AS mulai bermunculan, dengan beberapa anggota Kongres dari partai Republik menilai langkah Trump sebagai tanda kelemahan. Sementara dari kubu oposisi, langkah itu dipandang sebagai pengakuan tidak langsung atas beban militer AS yang sudah berlebihan.
Hingga berita ini diturunkan, Gedung Putih belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai laporan Axios tersebut. Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) hanya menegaskan bahwa “semua opsi tetap berada di atas meja,” namun menolak berkomentar lebih lanjut mengenai dinamika internal pengambilan keputusan.
Kejadian ini menandai babak baru dalam dinamika geopolitik Timur Tengah yang rumit, di mana sekutu-sekutu tradisional AS kini harus mempertimbangkan tidak hanya ancaman dari lawan, tetapi juga keterbatasan dari pelindung utama mereka sendiri. Pembatalan serangan ini diprediksi akan mempengaruhi perhitungan semua pihak, termasuk Iran, dalam konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Sumber: PC
Kontributor: Indah W
Editor : Tim EDUKASI-R I

