Refleksi Pancasila dari Kota Batu di Tahun 2026 Menuju Indonesia Emas
![]() |
| Foto : Tim EDUKASI-R I |
Kota Batu, 1 Juni 2026. Di tengah semilir angin sejuk yang menjadi ciri khas Kota Apel, sebuah momentum kebangsaan kembali diperingati dengan khidmat. Seluruh jajaran Pemerintah Kota Batu, mulai dari kantor balaikota hingga unit-unit pelayanan publik, kompak menyematkan atribut merah putih. Namun, ada satu suara yang sarat makna keluar dari kompleks pendidikan kota. Kepala Dinas Pendidikan Kota Batu, Ir. Alfi Nurhidayat, ST., MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng., secara resmi mengucapan selamat Hari Lahir Pancasila yang jatuh tepat pada hari ini, 1 Juni 2026.
Bagi Alfi, sapaan akrabnya, tanggal 1 Juni bukan sekadar seremonial penghormatan kepada sejarah. “Ini adalah batu uji,” ujarnya. “Sejak 1 Juni 1945, Bung Karno menyajikan konsep yang mempersatukan bangsa dengan latar belakang 17.000 pulau, 1.340 suku, dan ratusan bahasa. Kini, di tahun 2026, Pancasila harus menjadi ‘lem kerja’ (working adhesive) bagi pembangunan sumber daya manusia unggul di Kota Batu.”
Sebagai seorang profesional dengan segudang gelar teknik dan rekayasa (Ir., ST., MT., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.), Alfi membawa pendekatan yang berbeda. Ia memandang Pancasila sebagai sebuah framework sistem operasi untuk pendidikan. “Jika sila pertama adalah core system moral, sila keempat adalah protokol kolaborasi, dan sila kelima adalah algoritma keadilan,” jelasnya.
Di tahun 2026 yang semakin digital, disruptif, dan penuh tantangan global, narasi Pancasila tidak boleh usang. Karena itu, Dinas Pendidikan Kota Batu meluncurkan program "Digitalisasi Pancasila" untuk jenjang SD dan SMP, yang mengintegrasikan nilai-nilai luhur ke dalam aplikasi pembelajaran gamifikasi.
Di bawah kepemimpinan Ir. Alfi, pendidikan di Kota Batu sedang berbenah untuk menyongsong puncak Indonesia Emas 2045. Ia menekankan bahwa sila Keadilan Sosial harus diartikan secara nyata: pemerataan akses bandwidth digital di lereng Gunung Panderman sama pentingnya dengan pemerataan nilai rapor. “Hari lahir Pancasila ini mengingatkan kita untuk tidak melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi tumpul secara empati,” tegas Kepala Dinas.
Selain itu, dengan latar belakangnya sebagai Insinyur di bidang teknik, Alfi menyoroti aspek ketekunan. Ia menyebut bahwa proses perumusan Pancasila oleh para pendiri bangsa adalah bentuk engineering sosial paling canggih yang pernah ada. Butuh eksperimen, kegagalan sementara, dan perbaikan terus-menerus. Begitu pula dengan pendidikan di era globalisasi saat ini. “Jangan cepat puas,” pesannya. “Pancasila tidak akan berhenti bekerja pada tahun 2026 ini. Pancasila akan terus ‘dilahirkan’ setiap hari di dalam tindakanmu.
Ucapan selamat yang disampaikan oleh Ir. Alfi Nurhidayat ini bukan sekadar basa-basi birokrasi. Ia adalah seruan untuk bertindak. Di usianya yang ke-81 tahun (dihitung sejak 1945), Pancasila kerap kali dianggap sekadar hafalan. Namun di tangan praktisi pendidikan seperti Alfi, ia dihidupkan kembali sebagai kurikulum peradaban.
Sebagai penutup, Ir. Alfi menyampaikan optimismenya. Di tahun 2026, dengan berpegang pada Pancasila, ia yakin Kota Batu yang dikenal wisata tidak hanya melahirkan pemandu wisata yang ramah, tetapi juga ilmuwan lokal yang setia pada bangsanya. “Selamat Hari Lahir Pancasila. Mari kita gunakan momentum 1 Juni 2026 ini sebagai fase ‘restart’ kebangsaan kita. Dari Kota Batu, untuk Indonesia yang adil dan makmur di 2045.” Pancasila tetap hidup, diajarkan, dan dirayakan bukan hanya hari ini, tetapi setiap detik.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I
