Kepala Kesbangpol Kota Batu Dalam Hari Lahir Pancasila 2026
![]() |
| Foto : Tim EDUKASI-R I |
Kota Batu, 1 Juni 2026 – Memperingati 81 tahun kelahiran Pancasila yang jatuh tepat pada hari ini, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Batu, Akhmad Dahlan, S.Sos,. M.A.P., menyampaikan dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar leidstar (bintang penunjuk arah) semata, melainkan sebuah paradigma kritis yang harus diinternalisasi secara sistematis dalam setiap sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
"Pada momentum Hari Lahir Pancasila 2026 ini, kita tidak boleh terjebak dalam perayaan seremonial yang hampa makna. Pancasila adalah sine qua non suatu kondisi mutlak bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah gempuran disrupsi digital dan fragmentasi identitas," ujar nya saat berada diruang kerjanya Kantor Kesbangpol Kota Batu.
Lebih lanjut, ia memaparkan pendekatan aksiologis dan epistemologis dalam memahami lima sila. Menurutnya, nilai-nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan sosial tidak boleh hanya dihafal secara tekstual, melainkan diaktualisasikan sebagai etika publik yang teruji. "Kita sedang menghadapi tantangan post-truth dan polarisasi berbasis algoritma. Di sinilah Pancasila berfungsi sebagai filter kultural sekaligus perekat sosial dengan tingkat viskositas yang tinggi terhadap disintegrasi," tambahnya.
Dahlan juga menyoroti pentingnya deradikalisasi konseptual terhadap paham-paham yang bertentangan dengan ideologi bangsa. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menggunakan metode hermeneutika Pancasila suatu pendekatan tafsir yang kontekstual namun tetap berpegang pada original intent para pendiri bangsa. "Jangan sampai kita mengalami anomie normatif, yaitu keadaan tanpa norma yang jelas, karena mengabaikan dialog antara nilai luhur dan realitas empiris," tegasnya.
Lebih jauh, ia menyoroti isu heterogenitas demografis Kota Batu sebagai kota wisata dan pendidikan. Dengan penduduk yang terdiri dari berbagai latar belakang suku, agama, dan budaya, potensi konflik horizontal selalu mengintai. Namun, dengan mengedepankan musyawarah mufakat sebagai prosedur resolusi konflik, "Ini bukti bahwa Pancasila tidak hanya ideal secara filosofis, tetapi juga workable secara sosiologis," katanya.
Pada penghujung penyampaiannya Dahlan mengajak seluruh masyarakat Kota Batu untuk menjadikan Pancasila sebagai habit of mind dan moral compass dalam bertindak. "Mari kita wujudkan Bhinneka Tunggal Ika tidak hanya sebagai motto di lambang negara, tetapi sebagai praksis sosial sehari-hari. Selamat memperingati Hari Lahir Pancasila. Spiritus movens bangsa ini adalah gotong royong!" ungkapnya.
Kepala Kesbangpol juga mengimbau agar peringatan tahun ini tidak berlalu tanpa aksi nyata. Ia mendorong diadakannya focus group discussion (FGD) lintas agama dan lintas profesi untuk membahas revitalisasi pendidikan kewarganegaraan di era kecerdasan artifisial. "Kita harus melakukan rekonsiliasi epistemik antara nilai tradisional dan kebutuhan modernitas tanpa mengorbankan jati diri. Pancasila adalah common denominator kita," pungkasnya.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I
