Tim Kepolisian Gelar Risk Assessment di Mikutopia Batu, Skor 66,61% Kategori CUKUP
Kota Batu – Tim Risk Assessment Sistem Manajemen Pengamanan (SMP) yang dipimpin langsung oleh Kombes Pol Wawan Kristyanto, S.I.K., M.M. telah melaksanakan evaluasi komprehensif terhadap objek wisata Mikutopia di Kota Batu. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Senin–Selasa, 20–21 Juli 2026 ini menghasilkan temuan penting terkait infrastruktur, keamanan, keselamatan, kesehatan, sistem pengamanan, serta aspek informasi.
Mikutopia yang dikenal sebagai taman rekreasi keluarga bertema "Dunia Jamur" di lereng Gunung Arjuno ini mendapatkan total nilai 66,61% dengan kategori CUKUP. Capaian ini mengindikasikan bahwa meskipun secara umum sistem manajemen pengamanan telah berjalan, masih terdapat sejumlah celah yang memerlukan perbaikan mendasar guna mencapai standar optimal.
![]() |
| Tim Risk Assessment Sistem Manajemen Pengamanan (SMP) |
Berdasarkan hasil asesmen yang dilakukan tim beranggotakan AKBP Fatahul Azmi, S.Pd. (Ketua Pelaksana), AKP Fidiyah Wahyuni, S.H., BRIGPOL Syaiful, serta BRIPTU Wahyu Pramono, S.H. (Sekretaris), berikut rincian capaian setiap aspek:
· Infrastruktur: 12,15% – angka terendah yang mengindikasikan perlunya evaluasi mendalam terhadap kondisi fisik bangunan dan fasilitas pendukung.
· Keamanan: 15,83% – masih memerlukan penguatan sistem pengamanan preventif dan deteksi dini.
· Keselamatan: 14,50% – perlu peningkatan standar prosedur keselamatan pengunjung dan petugas.
· Kesehatan: 8,00% – menjadi perhatian serius mengingat pentingnya aspek kesehatan dalam operasional wisata.
· Sistem Pengamanan: 9,13% – membutuhkan revitalisasi prosedur dan teknologi pengamanan.
· Aspek Informasi: 7,00% – nilai terendah kedua yang menyoroti kelemahan dalam pengelolaan data dan sistem informasi.
Rendahnya skor infrastruktur (12,15%) menjadi sinyal penting bagi pengelola. Sebagai destinasi yang mengusung 25 wahana tematik dengan luas lahan 10 hektare, Mikutopia dituntut untuk memastikan setiap elemen fisik mulai dari jalur evakuasi, struktur bangunan, hingga aksesibilitas memenuhi standar keselamatan yang ketat. Evaluasi ini sejalan dengan rekomendasi Pemerintah Kota Batu yang sebelumnya menekankan kepatuhan administratif dan keselamatan pengunjung sebagai prioritas utama.
Sementara itu, capaian aspek keselamatan (14,50%) mengingatkan pada sejumlah insiden yang pernah terjadi, termasuk kerusakan wahana Tiram akibat kelebihan beban serta kejadian pengunjung pingsan saat mengantre tiket. Meskipun manajemen telah melakukan perbaikan dan memastikan seluruh wahana beroperasi normal, asesmen kali ini menegaskan bahwa sistem keselamatan masih memerlukan penguatan komprehensif.
Skor kesehatan (8,00%) dan aspek informasi (7,00%) menjadi temuan paling kritis. Dalam konteks manajemen risiko berbasis standar internasional seperti ISO/IEC 27005, identifikasi dan evaluasi risiko harus mencakup seluruh dimensi operasional. Kelemahan pada sistem informasi berpotensi menghambat deteksi dini terhadap berbagai ancaman, sementara rendahnya skor kesehatan menyoroti perlunya peningkatan fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga medis, serta prosedur penanganan darurat di lokasi wisata.
Panji Akbar selaku Manager Operasional Mikutopia menyampaikan komitmen pengelola untuk menindaklanjuti seluruh rekomendasi tim risk assessment. Meskipun demikian, masih terdapat sejumlah temuan yang harus segera diremediasi guna menjamin keamanan dan kenyamanan pengunjung secara berkelanjutan.
Ke depan, sinergi antara kepolisian, pengelola wisata, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam mewujudkan ekosistem wisata yang aman, nyaman, dan berorientasi pada keselamatan publik. Risk assessment ini bukanlah akhir, melainkan awal dari transformasi sistem manajemen pengamanan Mikutopia menuju standar yang lebih tinggi dan akuntabel.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-RI


