Minggu, 07 Juni 2026

HUT ke-166 Tarian Kemakmuran Ngroto Resmi Dilaunching

 


MALANG – Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, menggelar pawai budaya dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-166 pada Minggu (7/6/2026) siang. Puncak acara yang berlangsung di pelataran Desa Ngroto tersebut dimanifestasikan melalui peluncuran (launching) Tarian Kemakmuran Ngroto atau Prosperity of Ngroto Dance sebagai ikon budaya baru desa.

Gelaran pawai budaya ini melibatkan partisipasi aktif dari tiga dusun di wilayah Desa Ngroto. Dengan Tajuk Wujud Keabadian Kemakmuran Desa Ngroto, Setiap dusun menampilkan ekstraksi seni dan budaya lokal yang telah mengalami proses konservasi dan revitalisasi. Pawai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan publik, tetapi juga sebagai medium reaktualisasi identitas kolektif masyarakat agraris di kawasan dataran tinggi Pujon.


Momen Kepala Desa Ngroto bersama Penari Kemakmuran Desa

Kepala Desa Ngroto, Prayogi, SH., dalam sambutannya menegaskan bahwa peluncuran Tarian Kemakmuran Ngroto merupakan bentuk elaborasi simbolik antara nilai-nilai kearifan lokal dengan aspirasi kemajuan desa. “Tarian ini tidak sekadar gerakan estetis, melainkan representasi antropologis dari siklus kemakmuran yang secara turun-temurun dijalani warga Ngroto. Kami mendesain koreografi yang merefleksikan harmoni antara ekosistem agraris dan dinamika sosial masyarakat,” ujar Prayogi di hadapan ratusan warga yang memadati pelataran desa.

Ditinjau dari perspektif kajian budaya, Tarian Kemakmuran Ngroto mengadopsi pola ritmis yang terinspirasi dari aktivitas bercocok tanam, panen raya, dan gotong royong. Gerakannya dikomposisikan melalui proses penelitian partisipatoris yang melibatkan tokoh adat, seniman lokal, serta generasi muda. Dengan demikian, tarian ini menjadi artefak budaya yang adaptif sekaligus preserveratif terhadap warisan tak benda (intangible cultural heritage) setempat.


Kepala Desa Ngroto, Prayogi, SH., bersama TP PKK Desa 

Acara pawai budaya yang berlangsung semenjak pagi hingga selesai menjelang malam itu juga menampilkan berbagai atraksi pendukung seperti arak-arakan hasil bumi, pertunjukan musik tradisional berbasis alat musik gendang dan saron, serta pameran kuliner khas Pujon serta lukisan. Antusiasme warga terlihat dari padatnya area pelataran desa sejak pukul 10.00 WIB. Tidak sedikit warga dari desa tetangga yang turut menyaksikan prosesi ini.

Prayogi, SH., menambahkan bahwa launching tarian khas desa merupakan bagian dari strategi pemajuan kebudayaan yang terintegrasi dengan rencana pembangunan jangka menengah desa. “Kami ingin menciptakan cultural ecosystem yang hidup. Tarian ini akan diajarkan secara sistematis di sanggar seni desa dan diintegrasikan dalam kurikulum muatan lokal pendidikan dasar. Ini adalah investasi sosial-budaya untuk memperkuat ketahanan identitas generasi mendatang,” tuturnya.


Peserta Penari Kemakmuran Desa Ngroto 

Para pengamat budaya yang hadir dalam acara tersebut menilai bahwa langkah Desa Ngroto meluncurkan tarian khas sebagai ikon kemakmuran merupakan inovasi yang progresif. Hal ini menunjukkan bahwa desa-desa di wilayah Pujon tidak sekadar menjadi penonton atas arus modernisasi, tetapi justru menjadi subjek yang mengelola dan mengontekstualisasikan budayanya secara ilmiah dan terukur.

Dengan digelarnya pawai budaya dan peluncuran Tarian Kemakmuran Ngroto, Desa Ngroto tidak hanya merayakan usianya yang ke-166, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai desa yang adaptif terhadap tantangan zaman tanpa meninggalkan akar budayanya. Peluncuran ini menjadi bukti empiris bahwa diplomasi budaya skala lokal dapat dikonversi menjadi modal sosial yang memperkuat kohesivitas dan kemakmuran masyarakat secara holistik.


SDN Ngroto 

Dengan pertunjukan perdana Tarian Kemakmuran Ngroto yang dibawakan oleh 166 penari dari perwakilan SDN Ngroto. Diiringi alunan gamelan sederhana dan sorak sorai warga, tarian ini sukses mencuri perhatian dan menjadi magnet utama perayaan HUT ke-166 yang sarat makna tersebut.

Sementara itu, Eni, Kepala Sekolah SDN Ngroto, menuturkan bahwa pihaknya berkomitmen mengintegrasikan Tarian Kemakmuran Ngroto ke dalam ekstrakurikuler seni budaya di sekolah. Menurutnya, peluncuran tarian ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah stimulus pedagogis untuk menanamkan kesadaran identitas kultural sejak dini.

“Kami memandang tarian ini sebagai instrumen pendidikan karakter berbasis kearifan lokal. Melalui reproduksi gerakan dan pemaknaan simbolik kemakmuran, anak-anak tidak hanya belajar estetika, tetapi juga mengkonstruksi pemahaman sosiologis tentang harmoni sosial dan ekologi agraris,” ujar Eni di sela-sela acara.


Momen foto tenaga pendidik SDN Ngroto

Ia menjelaskan, SDN Ngroto akan menyusun modul ajar yang mengintegrasikan tarian tersebut dengan mata pelajaran muatan lokal. Pendekatan ini diharapkan mampu menjembatani transfer pengetahuan antargenerasi (intergenerational knowledge transfer) secara sistematis. “Kami tidak ingin budaya ini hanya menjadi tontonan musiman. Dengan kurikulum yang terstruktur, tarian ini akan menjadi living culture yang dihayati dan dilestarikan oleh peserta didik,” tegasnya.

Lebih lanjut, Viki Maulidiyah menambahkan bahwa pihak sekolah telah berkoordinasi dengan Pemerintah Desa Ngroto untuk mengadakan pelatihan rutin bagi guru dan siswa. Pelatihan itu akan melibatkan seniman lokal yang terlibat dalam proses kreatif tarian tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemerintah desa ini merupakan bentuk konkret dari community-based cultural revitalization.


Kolosal Tarian Kemakmuran oleh 166 anak didik SDN Ngroto

“Kami berharap, ketika anak-anak menarikan Tarian Kemakmuran Ngroto di halaman sekolah atau saat acara desa, mereka tidak hanya bergerak, tetapi juga merasakan kebanggaan epistimik bahwa mereka adalah bagian dari sejarah panjang Desa Ngroto,” pungkas Eni.

Dengan dukungan dari sektor pendidikan, peluncuran Tarian Kemakmuran Ngroto di HUT ke-166 tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga fondasi bagi keberlanjutan ekosistem budaya desa secara holistik dan interdisipliner.

Kontributor : Agus 

Editor : Tim EDUKASI-R I 

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2

Labels

EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts