2 Abad Desa Tawang Sari Pujon Dalam Pawai Budaya, Wujud Heterogenitas dan Kontinuitas Sejarah
Malang – Euforia semangat kebersamaan menyelimuti wilayah dataran tinggi Pujon, Kabupaten Malang, pada Rabu (24/6/2026) pagi. Ribuan warga dan kontingen dari empat dusun di Desa Tawang Sari bahu-membahu menggelar pawai budaya spektakuler dalam rangka memperingati momentum sakral, yakni dua abad atau 200 tahun usia Desa Tawang Sari. Gelaran yang berlangsung meriah dan penuh warna ini bukan sekadar arak-arakan, melainkan sebuah representasi etnografis yang merefleksikan akar sejarah serta kohesivitas sosial masyarakat setempat.
![]() |
| Momen saat pemberangkatan |
Pawai yang mengusung tema pelestarian nilai-nilai luhur nenek moyang ini diikuti oleh 30 kontingen yang tersebar dari berbagai unsur. Mulai dari perangkat desa, lembaga pendidikan, karang taruna, hingga paguyuban seni dan budaya tradisional. Rute pawai dimulai dari halaman Balai Desa Tawang Sari dan melintasi poros-poros jalan utama di Desa Tawangsari. Sepanjang perjalanan, peserta memamerkan beragam atraksi seni, mulai dari tarian khas daerah, reog mini, hingga jathilan, yang dibalut dengan kostum-kostum adat Nusantara yang estetis. Kehadiran drumband dari berbagai sekolah turut menambah dinamika ritmis pada karnaval tersebut, menciptakan harmoni antara budaya tradisional dan modernitas.
Camat Pujon, Sujarwo, dalam sambutannya sekaligus secara resmi membuka rangkaian kegiatan tersebut. Di hadapan ribuan massa, ia menyampaikan apresiasi mendalam atas antusiasme warga yang dinilai sangat tinggi.
![]() |
| Camat Pujon, Sujarwo saat berikan sambutan |
"Pawai budaya ini adalah simbol eksistensi dan keberlanjutan ekosistem budaya di era disrupsi. Masyarakat Desa Tawang Sari telah berhasil menunjukkan bahwa di tengah gempuran modernisasi, identitas komunal dan kearifan lokal tetap terjaga sebagai benteng karakter bangsa," ujar Sujarwo dalam pidato pembukaannya. Ia juga menekankan bahwa momentum dua abad ini seharusnya menjadi titik balik untuk evaluasi komprehensif terhadap pembangunan desa, baik dari segi sumber daya manusia, infrastruktur, maupun ketahanan pangan berbasis lokal.
Senada dengan pernyataan tersebut, Kepala Desa Tawang Sari, Miftahul Anwar, saat ditemui di ruang kerjanya, menuturkan bahwa gelaran pawai budaya ini merupakan rangkaian dari rangkaian selamatan desa yang telah digelar selama beberapa pekan terakhir. Menurutnya, usia 200 tahun bukanlah angka yang singkat dalam tatanan sejarah sosial kemasyarakatan.
![]() |
| Kepala Desa Tawang Sari, Miftahul Anwar |
"Kami memaknai 2 abad ini sebagai sebuah anugerah dan sekaligus tanggung jawab moral untuk terus menginisiasi program-program yang bersifat preservasi budaya. Kami ingin generasi milenial dan Gen Z di desa ini tidak mengalami degradasi pengetahuan (epistemicide) terhadap budaya leluhur," terang Miftahul dengan nada penuh haru.
Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda dalam pawai kali ini mencapai angka 65 persen dari total peserta. Hal ini menjadi indikator positif bahwa regenerasi pelestari budaya di Desa Tawang Sari berjalan secara organik. "Kami tidak hanya berpesta, tetapi kami sedang membangun arsip hidup (living archive) bagi anak cucu kami. Pawai ini adalah narasi visual tentang siapa kami dan dari mana kami berasal," imbuhnya.
![]() |
| Suasana jelang pemberangkatan |
Harapan besar pun disematkan pada perayaan dua abad ini. Miftahul berharap, setelah semarak pawai usai, semangat gotong royong dan inovasi kultural dapat terus terinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi tantangan globalisasi dan perubahan iklim yang mulai dirasakan dampaknya di sektor pertanian dataran tinggi.
![]() |
| Pasukan kibar bendera |
Sebagai penutup, acara yang berlangsung hingga selesai itu berjalan aman dan kondusif berkat sinergitas antara aparat keamanan, TNI, Polri, Linmas serta swadaya masyarakat. Pawai budaya ini diprediksi menjadi salah satu agenda pariwisata event tahunan yang dinanti-nanti, serta menjadi studi kasus menarik bagi para akademisi dan sosiolog tentang bagaimana masyarakat pedesaan di Indonesia mempertahankan kohesi sosial dan identitasnya di tengah hiruk-pikuk modernitas. Ke depan, Desa Tawang Sari optimis dapat bertransformasi menjadi desa wisata budaya berbasis heritage yang tidak hanya lestari, namun juga berdaya saing global.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I





