Bersih Dusun Pendem Kota Batu, Tradisi Tahunan Perkuat Kearifan Lokal dan Kebersamaan
KOTA BATU – Komitmen masyarakat dalam menjaga kearifan lokal kembali tercermin melalui penyelenggaraan Bersih Dusun Pendem, Desa Pendem, Kota Batu. Tradisi tahunan yang telah mengakar secara turun-temurun tersebut tidak hanya menjadi ekspresi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen memperkuat kohesi sosial, mempererat solidaritas warga, serta menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah dinamika modernisasi.
Kegiatan yang berlangsung meriah ini melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pengurus RT dan RW, pemerintah desa, hingga kalangan pelajar. Mengusung tema "Merajut Kebersamaan dan Budaya-Budaya yang Ada di Dusun Pendem", rangkaian acara menjadi ruang kolektif untuk memperkuat identitas budaya sekaligus memperingati masa pengabdian Kepala Dusun Pendem, Muji, yang selama bertahun-tahun mengabdikan diri melayani masyarakat.
Kepala Dusun Pendem, Muji, mengatakan tradisi Bersih Dusun merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya yang diwariskan para leluhur dan terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas masyarakat.
![]() |
| Kepala Dusun Pendem, Muji |
"Tujuan utama kegiatan ini adalah menguri-uri budaya dan tradisi peninggalan leluhur. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum mempererat persatuan, memperkuat gotong royong, dan membangun kebersamaan masyarakat Dusun Pendem," ujarnya.
Ia menjelaskan, seluruh rangkaian kegiatan dipersiapkan secara kolaboratif oleh panitia yang terdiri dari pengurus RT, RW, tokoh masyarakat, serta didukung penuh oleh warga setempat. Model partisipasi tersebut mencerminkan kuatnya modal sosial (social capital) yang menjadi fondasi pembangunan masyarakat berbasis kebersamaan.
Prosesi diawali dengan pawai budaya yang mengelilingi sejumlah ruas jalan di Dusun Pendem. Beragam kesenian tradisional ditampilkan sebagai representasi kekayaan budaya lokal sekaligus media edukasi bagi generasi muda agar tetap mengenal akar budayanya.
![]() |
| Suasana pawai dusun pendem |
Penampilan drumband dari siswa-siswi SD Negeri 02 Pendem membuka kemeriahan kirab budaya dengan atraksi yang memadukan kreativitas, disiplin, dan semangat kebersamaan. Suasana semakin semarak dengan hadirnya Seni Sanduk, salah satu kesenian tradisional yang masih lestari di Dusun Pendem, serta pertunjukan Seni Bantengan, ikon budaya khas Malang Raya yang sarat nilai historis, filosofis, dan spiritual.
Puncak prosesi budaya berlangsung di kawasan punden yang menjadi tempat bersemayamnya makam Mbah Bedar dan Mbah Sumiar, dua tokoh yang diyakini sebagai pembabat atau pendiri awal Dusun Pendem.
Bagi masyarakat setempat, punden tidak hanya dipandang sebagai situs sejarah, tetapi juga menjadi simbol memori kolektif (collective memory) yang merepresentasikan hubungan harmonis antara generasi masa kini dengan para pendahulu. Nilai historis tersebut terus dijaga sebagai bagian dari identitas sosial dan budaya masyarakat.
Memasuki malam hari, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan tasyakuran yang berlangsung khidmat melalui pengajian, tausiyah keagamaan, serta doa bersama yang dipimpin Kyai Munir. Masyarakat juga melaksanakan sujud syukur sebagai bentuk penghambaan kepada Allah SWT sekaligus ungkapan terima kasih atas limpahan nikmat, keamanan, dan keharmonisan yang dirasakan selama ini.
Tradisi tumpengan menjadi penutup yang sarat makna. Warga membawa tumpeng dari rumah masing-masing untuk dinikmati bersama sebagai simbol persaudaraan, pemerataan rezeki, dan penguatan ikatan sosial antarmasyarakat.
![]() |
| Kepala Desa Pendem, Tri Efendi |
Sementara itu, Kepala Desa Pendem, Tri Efendi, menegaskan bahwa Pemerintah Desa Pendem memberikan dukungan penuh terhadap seluruh tradisi selamatan yang diselenggarakan di setiap dusun sebagai bagian dari hak asal-usul masyarakat yang telah hidup dan berkembang selama puluhan bahkan ratusan tahun.
"Pemerintah desa menghormati tradisi selamatan dusun karena merupakan bagian dari budaya dan hak asal-usul masyarakat yang harus terus dijaga serta diwariskan kepada generasi berikutnya," katanya.
Menurut Tri Efendi, tradisi yang berkaitan dengan punden dan sejarah dusun bukanlah sekadar kegiatan seremonial, melainkan manifestasi rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai sejarah, budaya, dan kearifan lokal yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat.
Dari perspektif ilmiah, Bersih Dusun Pendem mencerminkan konsep cultural resilience atau ketahanan budaya, yakni kemampuan masyarakat mempertahankan identitas budaya melalui adaptasi terhadap perubahan sosial tanpa kehilangan nilai-nilai fundamentalnya. Tradisi ini juga sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development) karena memperkuat partisipasi masyarakat, menjaga harmoni sosial, serta melestarikan warisan budaya sebagai aset pembangunan daerah.
Selain memiliki dimensi spiritual dan sosial, Bersih Dusun Pendem juga menyimpan potensi sebagai atraksi wisata budaya (cultural tourism) yang mampu memperkuat citra Kota Batu sebagai daerah yang tidak hanya kaya akan destinasi alam, tetapi juga memiliki kekayaan tradisi dan kearifan lokal yang autentik.
Di penghujung kegiatan, Muji berharap tradisi Bersih Dusun tetap menjadi ruang pemersatu masyarakat sekaligus warisan budaya yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.
"Semoga semangat gotong royong tetap terjaga, budaya leluhur terus dilestarikan, dan masyarakat Dusun Pendem semakin maju, harmonis, serta sejahtera," pungkasnya.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I



