Kamis, 23 April 2026

Tradisi Metri Sumber Umbul Gemulo, Wujud Syukur dan Jaga Ekologi Warga Batu


Suasana metri sumber umbul gemulo


BATU – Suasana berbeda menyelimuti kawasan Sumber Umbul Gemulo, Desa Bulukerto, Kota Batu, Kamis (23/4/2026). Bukan sekadar udara sejuk pegunungan yang terasa, melainkan getaran syukur yang mengalir dari setiap warga yang hadir. Mereka duduk melingkar membawa tumpeng dan aneka hasil bumi. Inilah Metri Sumber, ritual adat turun-temurun yang dikemas dalam Festival Sumber Mata Air tahun ketiga.


Hasan Asyari, Ketua Panitia Festival Sumber Mata Air, menjelaskan dengan nada haru. “Metri Sumber Umbul ini sudah menjadi darah daging budaya kami. Ini bentuk rasa syukur kepada sumber mata air yang selama ini memberi kehidupan,” ujarnya kepada awak media.

Momen doa bersama di Sumber Umbul Gemulo

Bagi masyarakat Bulukerto, air bukanlah komoditas. Air adalah ibu yang membasuh dahaga, bapak yang menumbuhkan padi, dan leluhur yang mengajarkan harmoni. Tradisi yang rutin digelar dalam Selamatan Desa dan Selamatan Dusun ini kini mendapat ruang lebih istimewa. Festival mengemasnya lebih hidup agar tak tergerus zaman.


Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, menegaskan bahwa acara ini bukan nostalgia semata. Ada dua misi besar: pelestarian ritual adat dan keseimbangan ekologi. “Kami ingin menjaga sumber air tidak hanya dengan pagar beton, tetapi dengan kesadaran budaya. Ketika orang menghormati ritual, mereka otomatis menjaga lingkungan,” tegasnya.

Kenakan kemeja merah, Kepala Desa Bulukerto bersama Ketua Panitia Festival Sumber Mata Air

Pesan ini jarang ditemukan di kota-kota besar. Di Bulukerto, nilai-nilai lokal masih menjadi tameng dari eksploitasi alam. Tradisi mengajarkan bahwa mengambil air harus secukupnya, membersihkan sumber mata air adalah ibadah, dan merusak sekitar umbul adalah dosa adat.


Misto, Ketua Lembaga Adat Bulukerto, duduk sambil memegang nasi tumpeng. Baginya, bentuk tumpeng yang mengerucut ke atas bukanlah kebetulan. “Itu simbol bahwa segala doa kita terkabulkan. Kita pusatkan segalanya kepada Yang Maha Kuasa,” kata Misto.


Namun Misto jujur mengakui tantangan terbesar: regenerasi. Anak-anak muda sekarang lebih akrab dengan gawai ketimbang sesaji. Tapi ia tak putus asa. “Kami rangkul sedikit demi sedikit. Biarkan mereka melihat dulu, merasakan dulu, lama-lama akan cinta dengan sendirinya.”


Assc. Prof. Rachmadi Kristiono Dwi Susilo, S.Sos., M.A., Ph.D., dari Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM ), memberikan perspektif lebih luas. Menurutnya, karakter masyarakat Batu yang ramah dan menjunjung tinggi pengetahuan lokal adalah aset luar biasa. “Di tengah derasnya urbanisasi dan merosotnya nilai budaya, Kota Batu masih mempertahankan kearifan lokal. Ini bukan sekadar identitas, tapi sistem keseimbangan hidup.”


Kenakan kacamata, Assc. Prof. Rachmadi Kristiono Dwi Susilo, S.Sos., M.A., Ph.D., dari Universitas Muhammadiyah Malang ( UMM ),dan Ketua Lembaga Adat Bulukerto,Misto bersama seluruh pelestari adat 

Prof. Rachmadi menyoroti tiga dimensi penting tradisi seperti Metri Sumber. Pertama, masa lalu: menghormati leluhur yang membuka lahan dan menjaga mata air. Kedua, masa kini: menjadi pusat aktivitas sosial, gotong royong, dan selamatan desa. Ketiga, masa depan: menciptakan keberlanjutan ekologis karena keyakinan mistis membuat orang takut merusak alam.


Ia mengingatkan, jangan sampai festival ini hanya seremoni kosong. “Seremoni tanpa makna tidak akan lestari. Kita harus menanamkan kesadaran bahwa sumber air adalah hidup kita. Jika itu tertanam, maka perilaku kita otomatis menjaga ruang terbuka hijau, tidak ikut-ikutan investor rakus, dan tidak merusak ekologi demi pariwisata instan.”


A.Riono , Anggota Lembaga Adat saat bawakan acara, 


Pesan penutup datang dari para tetua adat dan akademisi. Mereka sepakat: generasi muda adalah kunci. Festival Sumber Mata Air bukan sekadar acara tahunan, tapi gerakan budaya untuk menyelamatkan air dan adab.


“Ayo anak-anak muda, ikutlah. Ini bukan untuk desa saja, ini untuk kebaikan kita semua,” ujar penyelenggara.


Jika tradisi ini terus dirawat, maka setengah abad lagi, ketika krisis air melanda banyak tempat, Umbul Gemulo akan tetap jernih. Bukan karena teknologi canggih, tetapi karena masyarakatnya masih ingat cara bersyukur dengan Metri Sumber.


Momen foto bersama 

Metri Sumber Umbul Gemulo menjadi contoh nyata bahwa budaya, agama, dan ekologi bisa berjalan beriringan. Dengan kemasan festival yang hidup, tradisi ini tidak hanya lestari tetapi juga relevan. Bagi para pendidik, ini materi luar biasa tentang kearifan lokal berbasis lingkungan. Bagi masyarakat umum, ini pengingat bahwa rasa syukur paling sejati diwujudkan dengan menjaga sumber kehidupan, bukan merusaknya.


Festival Sumber Mata Air yang memasuki tahun ketiga ini diharapkan terus menginspirasi daerah lain. Sebab, menyelamatkan air berarti menyelamatkan peradaban. Dan masyarakat Pulekerto telah membuktikannya: air adalah kehidupan, dan syukur terbaik adalah merawatnya dengan adat.


Kontributor: Agus

Editor : Tim EDUKASI-R I 

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2

Labels

Aceh AFK Akademik Associantion of Polri ATR BPN Bali Bantengan BHP BI Bilateral Blitar BMKG BPBD Budaya Budaya Jawa Bumiaji Catur cuaca Daerah Delegasi Desa Desa Tulungrejo Destinasi Disabilitas Dishub Dispendukcapil Disperkim DPUPR Dusun Junggo education Edukasi Esai essay Event Lokal Futsal Gempa gibran Grebek Suro Gubernur Gusdur Hotel Hukum dan Kriminal Hukum dan HAM Hukum dan Kriminal Info Pasar informasi publik Inklusi Internasional Jakarta Jawa Timur Jenang Kalimantan Kampung Warna-Warni Batu Kampung Wisata Batu Karnaval Kartini Karya Bakti KBLI Kecelakaan Kehutanan Kemah 2024 Kesehatan Koni Kota Baru Kota Batu KPPPA KPU Kuda Lumping Lakalantas Lingkungan Madrasah Malang Malqng Mancanegara Medan Memberamo Tengah Mikutopi Mikutopia MTs Hasyim Asy'ari Musik Muslimat Nasional Nasional. TNI AD National Police Chief Ngantang Non Akademik OJol Olahraga Opini OSS Palestina Papua Papua Pegunungan Pawai PBB PDI Pekanbaru pekerja migran Pelajar Pendem Pendidikan Penghijauan Perhutani Peristiwa Pertanian Piala Dunia Polda Jatim Police Polisi Polres Batu Poltekad Pontianak PPM Primbon Jawa PSSI Puasa Membisu Pujon Religi Ritual Kearifan Lokal Kota Batu RUN FUN Rupiah Sampah Sanduk Sarpras satgas pamtas Sekda Selamatan Desa Seni Seni Budaya Spiritualitas Masyarakat Adat Sumberbrantas Surabaya Suro Suroan tentang Kami Timor Timur TMP TNI TNI AL TPU Tradisi Selamatan Desa Bumiaji Transmigrasi UMKM UMKM Batu Universitas Universitas Terbuka Malang Veteran Vidio Berita Wapres RI WBTB Wisata Budaya Batu Wisata Kota Batu Yonif 512/DIY
EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts