Rabu, 22 April 2026

Kolaborasi Perkuat Konservasi Sumber Umbul Gemulo Dalam Rembug Ekologi

 

Foto : Tim EDUKASI-R I 


KOTA BATU – Sebuah simpul kolaborasi lintas sektor terbentuk di lereng Gunung Arjuna, Kamis (23/4/2026). Puluhan unsur masyarakat, mulai dari jajaran eksekutif Kota Batu, kalangan akademisi, pegiat lingkungan, hingga tetua adat, memadati Balai Dusun Cangar, Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. Mereka tidak sekadar menghadiri seremoni, melainkan mengukuhkan komitmen kolektif melalui Festival Mata Air ke-3 yang mengusung tema "Rembug Ekologi". Event ini menjadi ruang dialektika untuk menjawab krisis hidrologis serta ancaman degradasi ekosistem di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas.


Kepala Desa Bulukerto 

Kepala Desa Bulukerto, Suhermawan, mengawali diskusi dengan memaparkan signifikansi Sumber Umbul Gemulo sebagai pilar identitas wilayah. Ia mengungkapkan nomenklatur asli sumber tersebut, "Umbul Sari Kamulyan", yang secara filosofis bermakna pancaran air untuk kemuliaan dan kesejahteraan. "Festival ini merupakan upaya uri-uri atau melestarikan warisan leluhur. Generasi muda harus memahami bahwa air ini adalah amanah, bukan sekadar komoditas ekonomi," tegas Suhermawan. Ia menambahkan bahwa sejak praksis festival digulirkan pada 2016, momentum ini telah menjelma menjadi benteng kultural bagi warga dalam menghadapi tekanan industrialisasi dan ekstraksi air tanah berlebihan.


Plt. Wali Kota Batu saat berikan sambutan

Merespons aspirasi warga, Pemerintah Kota Batu menunjukkan keseriusannya melalui jalur legal-formal. Plt. Wali Kota Batu, H. Heli Suyanto, SH., MH., yang hadir langsung di lokasi, menginstruksikan jajarannya untuk mengamankan aset lahan di sekitar mata air. "Saya telah memerintahkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk segera memproses sertifikasi lahan seluas 6.000 meter persegi di kawasan Umbul Gemulo. Kepastian status hukum merupakan prasyarat mutlak agar lahan tersebut tidak mengalami alih fungsi. Ia harus dipertahankan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) yang berfungsi sebagai zona resapan—'spons bumi' yang vital bagi siklus hidrologi," ujar Heli.


Momen Kepala Dinas LH Kota Batu, sampaikan pemaparan

Kepala Dinas LH Kota Batu, Dian Fachroni, merinci teknis konservasi berbasis zonasi. Ia menekankan pentingnya zona perlindungan ketat (zona inti) dengan radius 100 meter dari titik kemunculan air. "Teknologi filtrasi modern sekalipun tidak mampu menciptakan air dari ketiadaan. Fokus kami adalah menanam pohon berakar keras secara masif serta menjamin kawasan ini bebas dari residu agrokimia yang dapat mencemari akuifer," jelas Dian. Upaya ini, menurutnya, merupakan strategi adaptasi terhadap perubahan iklim yang mengancam keberlanjutan mata air.


Meski pemerintah menjanjikan proteksi, koreksi tajam datang dari akademisi Universitas Islam Malang (Unisma), Fahrudin, SH., MH. Ia menyoroti adanya anomali regulasi dalam Peraturan Daerah Tata Ruang (RTRW) tahun 2022. "Regulasi terbaru mengindikasikan adanya penurunan status kawasan konservasi untuk Bumiaji. Ini celah yang harus kita kawal bersama. Tanpa sinkronisasi data spasial dan regulasi yang berpihak pada lingkungan, mata air kita berada dalam ancaman. Pemerintah perlu memiliki political will dan alokasi anggaran untuk pembebasan lahan sempadan mata air demi kepentingan publik yang lebih luas," kritik Fahrudin.


perspektif sosiologi lingkungan, Prof. Rachmad K.D.S, PhD, Kaprodi S2 Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)


Dari perspektif sosiologi lingkungan, Prof. Rachmad K.D.S, PhD, Kaprodi S2 Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), memuji tingginya modal sosial (social capital) masyarakat Bulukerto. Menurutnya, keberlangsungan Umbul Gemulo hingga kini merupakan bukti empiris adanya kepercayaan (trust) dan jejaring resistensi sipil yang solid. "Umbul Gemulo adalah simbol kemenangan masyarakat atas upaya komersialisasi air. Ekologi telah menjadi 'agama sipil'—sesuatu yang sakral dan dipertahankan dengan kesadaran kolektif. Tugas pemkot adalah melegitimasi kekuatan sosial ini ke dalam instrumen kebijakan formal, misalnya Peraturan Desa (Perdes) yang mengikat," papar Prof. Rachmad.


Pentingnya konservasi mata air di Kota Batu tidak bersifat lokal semata. Sebagai wilayah hulu DAS Brantas, kelestarian sumber-sumber air di Batu menentukan ketahanan air bagi 18 kabupaten/kota di sepanjang aliran sungai. Dengan demikian, Festival Mata Air ke-3 yang ditutup dengan "Rembuk Ekologi" menghasilkan rekomendasi strategis, antara lain penguatan regulasi berbasis desa, optimalisasi sertifikasi lahan kritis, serta pengarusutamaan konservasi dalam kebijakan pariwisata.


Momen foto bersama, seluruh undangan dalam Rembug Ekologi

Pesan mendasar dari festival ini adalah: di tengah arus ekspansi pariwisata masif, kedaulatan air rakyat tidak boleh menjadi korban. Umbul Gemulo bukan sekadar aset Desa Bulukerto, melainkan denyut nadi kehidupan yang menghubungkan ekosistem Jawa Timur secara keseluruhan. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat sipil ini diharapkan menjadi model replikatif bagi wilayah penyangga DAS lainnya di Indonesia.


Kontributor : Agus

Editor : Tim EDUKASI-R I 

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2

Labels

EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts