Sabtu, 24 Oktober 2026

Berpotensi Menjadi Percontohan Nasional Program Satu Desa Satu Dokter di Kota Batu



BATU, EDUKASI-RI.com – Pemerintah Kota Batu meluncurkan program Satu Desa Satu Dokter dan Desa/Kelurahan Siaga Tuberkulosis (TBC) untuk memperluas akses pelayanan kesehatan sekaligus memperkuat upaya pencegahan penularan penyakit di tingkat masyarakat.

Peluncuran program berlangsung di Graha Pancasila, Balai Kota Among Tani, Jumat (23/10/2026). Wakil Menteri Kesehatan RI, dr. Benjamin Paulus Octavianus, mengapresiasi inovasi pelayanan kesehatan berbasis desa yang dikembangkan Pemkot Batu. Program Satu Desa Satu Dokter dinilai berpotensi menjadi percontohan nasional.

Bagi masyarakat, program ini diharapkan dapat mendekatkan akses terhadap tenaga medis, terutama bagi warga yang membutuhkan pemeriksaan kesehatan dan tindak lanjut setelah menjalani skrining.

Wali Kota Batu, Nurochman, menjelaskan bahwa Satu Desa Satu Dokter merupakan bagian dari visi mBatu SAE. Program tersebut diarahkan untuk menjangkau masyarakat hingga pelosok dusun, sehingga kebutuhan pelayanan kesehatan dapat diketahui dan ditindaklanjuti secara lebih terarah.

Wali Kota Batu, Nurochman, saat sampaikan sambutan

“Pemeriksaan kesehatan tidak boleh berhenti pada tahapan skrining. Hasil pemeriksaan wajib ditindaklanjuti secara presisi agar masyarakat segera memperoleh intervensi medis sesuai kondisinya,” tegas Nurochman.

Bukan Sekadar Pemeriksaan, Hasil Skrining Harus Ditindaklanjuti

Salah satu persoalan penting dalam pelayanan kesehatan adalah memastikan hasil pemeriksaan tidak berhenti sebagai data. Warga yang terindikasi memiliki masalah kesehatan perlu memperoleh pemeriksaan lanjutan dan penanganan sesuai kondisi medisnya.

Melalui pendekatan pelayanan berbasis desa, program Satu Desa Satu Dokter diharapkan membantu memperkuat hubungan antara kegiatan skrining dan penanganan medis.

Kehadiran dokter di tingkat desa juga diharapkan mempermudah masyarakat memperoleh informasi mengenai langkah kesehatan yang perlu dilakukan. Meski demikian, mekanisme pelayanan, jadwal dokter, serta tata cara warga mengakses program perlu diketahui secara jelas agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata.

24 Desa dan Kelurahan Bentuk Tim Siaga TBC

Selain pelayanan dokter desa, Pemkot Batu memperkuat penanggulangan tuberkulosis melalui pembentukan tim Desa/Kelurahan Siaga TBC.

Berdasarkan keterangan Pemkot Batu, seluruh 24 desa dan kelurahan telah membentuk tim siaga TBC. Sebanyak 49 kader dilibatkan untuk mendukung upaya penemuan kasus dan pencegahan penularan di lingkungan masyarakat.

Momen Wamenkes RI, bersama Walikota Batu 

Keterlibatan kader menjadi bagian penting karena upaya pengendalian TBC tidak hanya berlangsung di fasilitas kesehatan. Edukasi kepada warga, pengenalan gejala, serta dorongan untuk menjalani pemeriksaan ketika mengalami keluhan yang mengarah pada TBC dapat membantu mempercepat penemuan kasus.

TBC merupakan penyakit menular yang terutama menyebar melalui udara ketika orang dengan TBC aktif di paru-paru mengeluarkan partikel infeksius. Karena itu, pemeriksaan orang yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC menjadi salah satu langkah penting untuk menemukan kemungkinan kasus baru.

Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan, terutama selama dua minggu atau lebih, sebaiknya memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Keluhan tersebut tidak otomatis berarti TBC, tetapi perlu dinilai oleh tenaga medis agar penyebabnya diketahui dan penanganan dapat diberikan secara tepat.

Jika seseorang didiagnosis TBC, pengobatan harus dijalankan sesuai petunjuk tenaga kesehatan. Dukungan keluarga dan lingkungan juga diperlukan agar pasien dapat menyelesaikan pengobatan serta mengurangi risiko penularan.

Kader Dilibatkan dalam Pencegahan Penularan

Dalam kegiatan peluncuran, tiga kader perwakilan dari masing-masing kecamatan menerima bantuan transportasi sebesar Rp500.000 per orang beserta paket sembako.

Bantuan tersebut diberikan secara simbolis sebagai bagian dari kegiatan peluncuran. Sementara itu, peran kader dalam program siaga TBC menjadi unsur yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan di lapangan, terutama terkait edukasi masyarakat dan dukungan terhadap upaya penemuan kasus.

Keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh peluncurannya, tetapi juga oleh kesinambungan kegiatan, koordinasi dengan fasilitas kesehatan, serta keterlibatan warga dalam pemeriksaan dan pencegahan penyakit.

Apa yang Perlu Dilakukan Warga?

Masyarakat dapat ikut mendukung program kesehatan berbasis desa dengan memanfaatkan layanan pemeriksaan yang tersedia, mencari informasi jadwal pelayanan dokter melalui pemerintah desa atau puskesmas setempat, serta tidak menunda pemeriksaan ketika mengalami gejala yang mengkhawatirkan.

Warga juga dapat berperan dalam pencegahan TBC dengan mengikuti anjuran tenaga kesehatan, menjaga ventilasi rumah, menerapkan etika batuk, dan mendukung orang yang sedang menjalani pengobatan tanpa memberikan stigma.

Program Satu Desa Satu Dokter dan Desa/Kelurahan Siaga TBC di Kota Batu diharapkan memperkuat pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan masyarakat. Pelaksanaan yang berkelanjutan, akses layanan yang jelas, dan tindak lanjut medis yang tepat akan menjadi bagian penting untuk mewujudkan manfaat program tersebut.

Kontributor : Agus

Editor : Tim EDUKASI-RI 

.

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
 Gambar 1  Gambar 2  Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2 Gambar 1
gambar 1 gambar 2 gambar 3

Popular Posts