Kebijakan Tanpa Tiket Genjot Pengunjung, Outlet Edukasi Jamur Mikutopia Diserbu Wisatawan
BATU – Destinasi wisata tematik Mikutopia di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mengalami lonjakan signifikan jumlah pengunjung setelah pengelola memberlakukan kebijakan akses tanpa tiket masuk outlet yang sudah berlangsung dalam tiga hari ini. Pantauan pada Selasa (25/8/2026) pagi menunjukkan area Edukasi Jamur menjadi episentrum keramaian, dipadati wisatawan dari berbagai daerah yang antusias mengikuti program Mikutopia Mushroom Edu Experience.
![]() |
| Momen karyawan Mikutopia |
Fenomena ini menunjukkan daya tarik konsep edutainment perpaduan edukasi dan rekreasi yang diusung destinasi wisata di lereng Gunung Arjuno tersebut. Outlet Edukasi Jamur yang menjadi primadona menawarkan pengalaman agrowisata berbasis pembelajaran budidaya jamur secara langsung, mulai dari pengenalan jenis-jenis jamur konsumsi,serta praktik media tanam baglog.
Yunita, salah satu edukator di Mikutopia, mengungkapkan kebijakan tanpa tiket berdampak masif terhadap kunjungan. "Pagi ini sejak pukul 08.00 WIB, pengunjung sudah memadati area edukasi. Kami melayani antusiasme masyarakat yang ingin belajar budidaya jamur," ujarnya di sela-sela mendampingi rombongan pengunjung yang tengah mengikuti kegiatan edukasi jamur .
![]() |
| Yunita saat menunjukan jamur |
Yunita menambahkan, program edukasi yang telah berlangsung tanpa tiket semenjak tiga hari ini dan sampai pemberitahuan selanjutnya, mendapat apresiasi dan respon positif dari wisatawan.
"Pengunjung tidak sekadar rekreasi, tetapi mendapatkan transfer knowledge tentang mikologi terapan ilmu tentang jamur yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sangat antusias saat diajak melihat langsung proses pertumbuhan jamur dari baglog," jelasnya.
Salah satu pengunjung asal Surabaya, Fira, mengaku terkesan dengan pengalaman edukatif yang didapat. "Saya datang bersama keluarga setelah mendengar kabar tiket masuk gratis untuk outlet edukasi jamur, dan ternyata di sini ada program belajar jamur yang sangat menarik. Kami bersama rekan dan keluarga senang sekali bisa melihat langsung jamur tumbuh dan belajar membedakan jamur yang bisa dimakan dengan yang beracun," tuturnya.
![]() |
| Tengah, Fira, tariska |
Vina menilai konsep wisata yang menggabungkan unsur hiburan dan edukasi ini menjadi nilai tambah dibanding destinasi wisata konvensional. "Biasanya liburan hanya bermain, tapi di sini anak-anak bisa sambil belajar. Pengetahuan tentang budidaya jamur ini sangat bermanfaat dan jarang ditemukan di tempat wisata lain,selain itu kami berencana suatu saat akan kami terapkan untuk salah satu solusi perolehan pendapatan." imbuhnya.
Sementara itu, Panji Akbar Ramadhani, Manajer Operasional Mikutopia, menuturkan kebijakan tanpa tiket masuk merupakan bagian dari strategi pengenalan program edukasi jamur kepada masyarakat luas serta bentuk apresiasi kepada wisatawan. "Kami ingin masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut tumbuh bersama berkembangnya destinasi wisata ini. Outlet Edukasi Jamur kami bangun bersama Sahabat Mikutopia yang merupakan warga lingkungan sekitar sebagai bentuk community-based tourism," ujarnya.
![]() |
| Momen Edukator jamur,Muhammad Zaki, saat memberikan penjelasan |
Panji menjelaskan, Mikutopia Mushroom Edu Experience menghadirkan pendekatan pembelajaran interaktif yang melibatkan pengunjung dalam setiap tahapan budidaya jamur. "Peserta dikenalkan berbagai jenis jamur, diajak melihat proses budidaya menggunakan media tanam baglog, hingga memahami tahapan dari penyiapan media, pertumbuhan, hingga panen. Ini pengalaman belajar yang aplikatif," terangnya.
Program ini kami rancang dengan pendekatan experiental learning belajar melalui pengalaman langsung agar wisatawan tidak hanya mendapat hiburan tetapi juga wawasan baru tentang agrowisata jamur," pungkas Panji.
![]() |
| Momen pengunjung saat edukasi jamur, tahap awal hingga panen |
Dengan lonjakan pengunjung pasca kebijakan tanpa tiket, Mikutopia membuktikan bahwa konsep wisata berbasis edukasi memiliki daya tarik kuat di tengah masyarakat. Perpaduan antara rekreasi, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat sekitar menjadikan destinasi ini tidak sekadar tempat liburan, melainkan laboratorium alam bagi siapa pun yang ingin mendalami dunia jamur secara langsung dan menyenangkan.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-RI












