Sabtu, 17 Januari 2026

Lestarikan Warisan Langka di Era Modern Ki Nyoto Rafi Suryo Darsono Dalang Muda Gagrak Malangan dan Batu

Gambar 1

 


KOTA BATU. Di tengah hiruk-pikuk industri hiburan digital, seorang pemuda asli Kota Batu dengan tekad baja memilih jalan sunyi melestarikan seni pedalangan Gagrak Malangan. Ia adalah Muhamad Rafi Wahyudin, atau dengan gelar Ki Nyoto Rafi Suryo Darsono, lahir tahun 2004, dalang muda yang menyadari betapa langka dan berharganya warisan budaya lokal di daerahnya. Dengan semangat penerus, Rafi yang akrab disapa Ki Nyoto berkomitmen untuk menjaga nyala tradisi wayang gaya Malang dan Batu agar tidak padam. Dusun Gadon Desa Sumber Gondo. Sabtu 17 Januari 2026.


Perjalanan seni Rafi dimulai bukan dari keluarga dalang, melainkan dari lingkungan orang tua yang bergerak di bidang pertanian dan perdagangan. Ketertarikannya pada dunia tradisi Jawa berakar sejak usia dini di bangku Sekolah Dasar, melalui pembelajaran karawitan di kelompok seni Krido Manggolo Laras (KML) pimpinan Ki Eko Saputro Dari dentingan gamelan, panggilan jiwanya mengarah pada seni yang lebih tinggi yakni pedalangan.


Ia kemudian berguru secara khusus untuk mendalami Gagrak Malangan kepada Ki Suliamat Dusun Gundu, Sumber Gondo, Kabupaten Malang. Menyadari bahwa jumlah dalang beraliran ini sangat minim, Rafi merasa terpanggil untuk serius menekuninya. Untuk memperkaya wawasan lakon, ia juga menimba ilmu tentang penguasaan cerita wayang kepada Ki Tantut Sutanto asal dari Desa Kurung, Klaten, Jawa Tengah. Meski demikian, tokoh yang paling berpengaruh dalam perjalanan kreatifnya tetaplah Ki Suliamat, yang mewakili kekhasan Gagrak Malangan, termasuk varian khas Kota Batu.



Ki Rafi pertama kali tampil sebagai dalang penuh di depan publik pada tahun 2023, menginjak usia 19 tahun. Pentas perdananya di Pujon dengan membawakan lakon “Wahyu Purbo Sejati” menjadi pembuka perjalanan profesionalnya, yang kemudian dilanjutkan dengan pementasan di daerah Sumber Manjing Wetan dan beberapa daerah yang lain.


Tantangan terbesarnya sejak awal justru datang dari kelangkaan itu sendiri. Minimnya peminat dan pelaku seni, khususnya untuk Gagrak Malangan, kerap membuatnya hampir menyerah. “Yaaaa, pernah sih,” akunya. Namun, justru keterbatasan itu yang akhirnya memantapkan tekadnya. “Karena pelaku yang sangat minim, siapa lagi yang akan menjadi penerusnya?” ujarnya penuh kesadaran. Dukungan penuh dari keluarga dan lingkungan menjadi penyemangat yang menguatkan langkahnya.


Dalam mempersiapkan setiap pentas, Ki Rafi tidak hanya berfokus pada persiapan teknis. Ia memulainya dengan ritual doa, lalu menyelaraskan visi-misi dengan seluruh anggota kelompok, mulai dari pengrawit hingga sinden, untuk menciptakan kesatuan paket pementasan yang harmonis.


Ciri khas utamanya tentu saja terletak pada Gagrak Malangan yang ia usung, yang memiliki pakem, dialek, dan karakteristik tersendiri yang berbeda dengan gaya Solo atau Yogyakarta. Dalam hal musik, ia tetap berpegang pada pakem. Namun, untuk cerita, selain mengikuti pakem utama, ia sering menyisipkan pesan-pesan tambahan dari berbagai sumber atau sesuai permintaan pemesan. Pemilihan lakonnya sendiri umumnya disesuaikan dengan permintaan penyelenggara atau penanggap.


Bagi Ki Nyoto, wayang adalah mahakarya yang sarat nilai kehidupan. “Banyak sekali nilai yang terkandung, semisal dalam kehidupan keseharian, tata krama, norma, adat, toleransi, dan sebagainya,” paparnya. Ia meyakini wayang tetap relevan sebagai media pendidikan dan dakwah sosial bagi generasi sekarang, karena lewat hiburan yang disajikan, pesan-pesan religi, edukasi, dan sosial dapat disampaikan dengan lebih mengena.




Meski baru berkarya di tingkat daerah dan provinsi Jawa Timur, prestasinya sudah mulai terukir. Pada Festival Dalang Jawa Timur tahun 2016 dan 2017, ia meraih peringkat, bahkan pada 2017 dinobatkan sebagai dalang favorit se-Jawa Timur ketika masih membawakan gaya Solo. Sejak 2023, ia konsisten kembali mengangkat Gagrak Malangan dan mendapat respons masyarakat yang sangat positif, dan berhasil mendapatkan juara dua di tahun 2025 juga ivent serupa sebagai penyaji terbaik, 


Tantangan terberat di era modern, menurutnya, adalah kurangnya minat generasi muda. Untuk bertahan, seorang dalang harus bisa fleksibel, misalnya dengan menyelipkan lagu campursari atau dangdut dalam repertoar sinden sesuai selera penonton, tanpa menghilangkan esensi pakem.


Ke depan, Ki Nyoto Rafi Suryo Darsono memiliki rencana konkret untuk regenerasi. Ia berencana aktif membimbing calon dalang muda melalui program ekstrakurikuler di tingkat SD, SMP, hingga SMA. Ia sangat mengapresiasi dan merespons positif setiap minat yang datang dari anak muda. “Menurut saya perlu (wayang) dimasukkan pada ekstrakurikuler,” tegasnya.




Harapannya untuk masa depan seni wayang sederhana namun mendalam: semoga tetap lestari dengan banyak pelaku dan pelestarinya. Sebagai profesional, ia menawarkan paket pementasan lengkap dengan tarif yang bervariasi, biasanya antara Rp 14 juta hingga Rp 25 juta, tergantung kompleksitas acara.


Dengan semangat muda dan kesadaran sebagai “penerus yang tersisa”, Ki Nyoto Rafi Suryo Darsono bukan sekadar menunggu wayang Gagrak Malangan punah. Ia aktif menabuh genderang perjuangan, mengajak generasi baru mengenal, mencintai, dan akhirnya melanjutkan warisan agung leluhur yang nyaris terlupakan di tanahnya sendiri. Perjuangannya adalah bukti bahwa pelestarian budaya butuh lebih dari sekadar teori; butuh tindakan nyata, ketekunan, dan cinta yang tulus.


Kontributor : AGS 

Editor : Tim EDUKASI-R I

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 1 Gambar 2

Labels

EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts