Minggu, 05 Juli 2026

Tradisi Selamatan Desa Bumiaji, Ritual Puasa dan Membisu Warisan Leluhur Dalam Ider Dhungo

 


BUMIAJI, KOTA BATU – Suasana khusyuk dan hening menyelimuti prosesi selamatan tahunan Desa Bumiaji, Jumat (3/6) malam. Di tengah gemericik doa-doa bisu yang terpanjatkan dalam hati, puluhan perangkat desa, tokoh adat, dan undangan berjalan perlahan searah jarum jam mengitari sudut-sudut desa. Bukan sekadar arak-arakan, ritual ini adalah manifestasi filosofis dari tradisi luhur yang telah diwariskan turun-temurun perpaduan antara puasa (menahan lapar dan dahaga), membisu (menahan ucapan), dan ziarah spiritual menuju titik cikal-bakal berdirinya dusun dalam ider Dungo ( Sebar Tabur Doa ) .


Desa Bumiaji, yang dikenal sebagai episentrum berdirinya Kota Batu, memiliki posisi istimewa dalam peta sejarah lokal. Oleh karena itu, doa yang dipanjatkan dalam prosesi ini tidak hanya diperuntukkan bagi keselamatan warga setempat, melainkan juga bagi seluruh masyarakat Kota Batu secara makro. Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto, saat ditemui di ruang kerjanya, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan kontinuitas dari rutinitas tahunan yang sarat dengan nilai-nilai spiritual dan kearifan ekologis.

Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto

“Kami tidak menciptakan tradisi baru. Kami hanya meneruskan apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu. Puasa, membisu, dan berjalan kaki mengelilingi desa adalah metode untuk memusatkan rasa, menyelaraskan pikiran, serta membersihkan hati sebelum kami menghadap kepada Tuhan dan para leluhur,” ujar Edi Suyanto dengan nada penuh khidmat.

Prosesi pemberangkatan 

Prosesi dimulai dari Pendopo Balai Desa Bumiaji, yang menjadi pusat koordinasi dan titik awal perjalanan. Seluruh jajaran perangkat desa, staff, tokoh masyarakat, serta undangan dari berbagai elemen kompak mengenakan pakaian adat serba hitam dan putih, simbol kesucian dan keseimbangan alam semesta. Mereka melangkah dengan hening, hanya suara langkah kaki yang beradu dengan tanah dan lantunan doa-doa sunyi yang terucap dalam batin. Rute perjalanan mengikuti pola sirkular searah jarum jam yang dalam kosmologi Jawa dimaknai sebagai siklus kehidupan yang terus berputar, dari kelahiran hingga kembali kepada Sang Pencipta.


Menarik untuk dicermati bahwa ritual puasa dan membisu yang menjadi inti selamatan ini memiliki landasan ilmiah yang tidak sekadar dogmatis. Dalam perspektif psikologi dan neurosains, puasa atau poso dalam terminologi lokal dimaknai sebagai “mempusatkan rasa” (konsentrasi afektif). Ketika tubuh menahan asupan makanan dan minuman dalam periode tertentu, terjadi proses autofagi mekanisme seluler pembersihan protein-protein rusak yang terbukti secara empiris meningkatkan kejernihan kognitif dan stabilitas emosi. Kondisi ini memungkinkan para peserta mencapai kondisi mindfulness yang mendalam, di mana ambang batas distraksi eksternal menurun drastis.

Suasana peserta ider dhungo


Sementara itu, membisu atau menahan ucapan bukanlah sekadar pantangan fisik, melainkan latihan pengendalian kognitif tingkat tinggi. Dalam kajian komunikasi nonverbal, membisu menciptakan ruang bagi introspeksi internal yang sering tergerus oleh hiruk-pikuk percakapan sehari-hari. Dengan menahan kata-kata, peserta dipaksa untuk menyelaraskan tiga dimensi manusiawi, pikiran (cogito), perilaku (actio), dan ucapan (verbum). Harmoni triadik inilah yang menjadi fondasi etis dalam filosofi Jawa, bahwa keselarasan antara apa yang dipikirkan, dilakukan, dan diucapkan adalah cerminan dari manusia sempurna (manusia sejati).


Ahmad Ruba’i, salah seorang sesepuh desa yang dihormati, menjelaskan bahwa tradisi ini telah berlangsung sejak masa leluhur dan tidak pernah mengalami perubahan signifikan. “Kami hanya melestarikan. Tidak ada rekayasa budaya. Kami berjalan mengelilingi setiap sudut desa, berdoa dalam hati, dan di penghujung acara kami berkumpul di pendopo untuk doa bersama serta menyantap 12 tumpeng. Setiap tumpeng memiliki makna kosmologis yang dalam,” tuturnya dengan bijak.

Ahmad Ruba'i salah seorang sesepuh desa

Kehadiran 12 tumpeng dalam selamatan ini bukanlah sekadar hidangan seremonial. Menurut Ahmad Ruba’i, angka dua belas merepresentasikan siklus bulan dalam satu tahun penanggalan sebuah pengingat bahwa kehidupan manusia selalu terikat dengan dimensi waktu yang siklikal. Tumpeng itu sendiri, dalam etimologi Jawa, berasal dari kata “tumuju pengeran” yang berarti “menuju kepada Tuhan”. Setiap tumpeng diberi nama berdasarkan bulan-bulan dalam kalender Jawa, seperti Suro, Sapar, Djumadil Awal, Djumadil Akhir, dan seterusnya. Nomenklatur ini menunjukkan bahwa setiap bulan memiliki karakter spiritualnya sendiri, dan manusia diharapkan mampu menyesuaikan sikap serta tindakan dengan dinamika temporal tersebut.


Secara antropologis, penyajian 12 tumpeng juga merefleksikan konsep siklus agraris yang erat dengan kehidupan masyarakat Bumiaji yang mayoritas bergerak di sektor pertanian dan perkebunan. Setiap tumpeng yang disusun rapi di atas tampah mewakili harapan akan kesuburan tanah, keseimbangan ekosistem, dan keberkahan hasil bumi sepanjang tahun. Tidak heran jika prosesi ini selalu bertepatan dengan momen-momen tertentu yang dianggap baik menurut perhitungan pranata mangsa—sistem kalender pertanian tradisional yang berbasis pada pengamatan fenomena alam.


Prosesi pemberangkatan 

Di era digital dan globalisasi yang serba cepat, ritual semacam ini sering dipandang sebagai anakronisme oleh sebagian kalangan. Namun, bagi masyarakat Bumiaji, selamatan desa justru menjadi benteng identitas kultural yang semakin langka. Kepala Desa Edi Suyanto menegaskan bahwa tradisi ini bukanlah bentuk eksklusivisme, melainkan upaya kolektif untuk memperkuat kohesi sosial dan menyegarkan ingatan sejarah.


“Desa Bumiaji adalah cikal-bakal Kota Batu. Maka, doa yang kami panjatkan tidak hanya untuk kami, tetapi untuk semua warga kota. Kami ingin generasi muda memahami bahwa pembangunan fisik harus diimbangi dengan pembangunan spiritual. Ritual ini adalah media pendidikan karakter yang bersifat eksistensial,” tambahnya.


Dalam perspektif sosiologi budaya, selamatan desa berfungsi sebagai mekanisme reinforcement nilai-nilai gotong-royong dan solidaritas mekanik. Saat semua peserta berjalan bersama dalam diam, mereka secara tidak langsung membentuk ikatan emosional yang melampaui sekat-sekat status sosial, ekonomi, atau pendidikan. Di sinilah letak keunggulan tradisi lisan dan praktik kolektif yang tidak dapat digantikan oleh media digital mana pun.


Lebih jauh, Edi Suyanto berharap agar tradisi ini tidak hanya lestari, tetapi juga mendapatkan tempat di peta wisata budaya Kota Batu. Dengan kemasan yang autentik dan nilai filosofis yang tinggi, selamatan desa Bumiaji berpotensi menjadi daya tarik bagi wisatawan yang haus akan pengalaman spiritual dan edukatif. “Kami terbuka untuk dokumentasi dan studi akademis. Tetapi yang terpenting, esensi dari tradisi ini yaitu keikhlasan, kesederhanaan, dan kedekatan dengan Tuhan harus tetap utuh,” tegasnya.

Momen prosesi peserta ider dhungo telah sampai di finish

Ahmad Ruba’i menambahkan bahwa tantangan ke depan adalah bagaimana mentransfer nilai-nilai luhur ini kepada generasi milenial tanpa mengurangi kadar sakralitasnya. “Kami sudah mulai melibatkan pemuda-pemudi desa dalam kepanitiaan dan prosesi. Mereka belajar bukan hanya tata cara, tetapi juga makna di balik setiap gerakan. Insya Allah, selama masih ada yang menjaga, tradisi ini tidak akan mati.”


Malam itu, saat langkah kaki terakhir kembali ke pendopo dan doa bersama dilantunkan dengan lantun rendah, suasana haru menyelimuti ruangan. 12 tumpeng yang telah didoakan bersama kemudian disantap secara sederhana bukan untuk kemewahan, tetapi sebagai simbol berbagi rezeki dan mensyukuri nikmat yang telah diberikan. Cahaya lilin yang berkedip di sudut pendopo seolah menjadi saksi bisu bahwa di tengah deru modernitas, masih ada komunitas yang menjaga denyut nadi leluhur melalui diam dan puasa.


Selamatan Desa Bumiaji bukanlah sekadar ritual tahunan. Ia adalah sebuah pernyataan teologis, antropologis, dan ekologis bahwa manusia adalah bagian dari alam semesta yang lebih besar. Dengan berjalan searah jarum jam, mereka mengakui bahwa waktu berputar dan kehidupan bergulir; dengan berpuasa, mereka belajar mengendalikan hawa nafsu; dengan membisu, mereka menemukan suara hati yang paling jernih. Dan di atas semua itu, mereka menyadari bahwa tujuan akhir dari segala perjalanan adalah kembali kepada Sang Pencipta sebagaimana makna hakiki dari setiap tumpeng yang dihaturkan.


Prosesi yang berlangsung khidmat hingga larut malam itu akhirnya ditutup dengan salam dan salaman antar peserta, menghapus segala kelelahan fisik dengan kehangatan batin. Desa Bumiaji, dengan segala kekayaan tradisinya, sekali lagi membuktikan bahwa kearifan lokal bukanlah peninggalan usang, melainkan sumber daya abadi yang terus mengaliri peradaban. Bagi Kota Batu, ritual ini adalah pengingat bahwa kemajuan harus tetap berpijak pada akar sejarah, dan bahwa doa-doa bisu seringkali lebih kuat terdengar di langit daripada ribuan kata yang terucap.


Kontributor : Agus 

Editor : Tim EDUKASI-R I 


Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2

Labels

EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts