Bumiaji Gelar Wilujengan Agung Suran Perdana Bersama LABUNI
![]() |
Kota Batu– Di tengah gempuran arus digitalisasi dan homogeneisasi budaya global, Lembaga Budaya dan Seni Kecamatan Bumiaji (LABUNI) menggagas sebuah manifestasi kebudayaan kolektif melalui gelaran Wilujengan Agung Suran perdana. Berlangsung di pendopo Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada Rabu malam, 15 Juli 2026, festival ini mengusung tema "Memayu Hayuning Bumiaji"sebuah falsafah Jawa yang bermakna upaya bersama untuk memperindah, menjaga, dan menyelamatkan keharmonisan serta keselamatan bumi Bumiaji.
![]() |
| Suasana peserta Agung Suran |
Ajang yang terbilang spektakuler ini merupakan inisiasi strategis dari LABUNI, lembaga yang baru terbentuk pada tahun 2025 sebagai wadah koordinasi antar pegiat seni dan budaya di tingkat kecamatan. Melibatkan secara aktif sembilan desa yang berada di wilayah administratif Bumiaji, gelaran ini menjadi simbol monumental kebangkitan identitas kultural sekaligus representasi dari kesadaran kolektif akan pentingnya pelestarian warisan leluhur di tengah modernitas.
![]() |
| Antusias peserta |
LABUNI lahir dari sebuah kegelisahan epistemologis di kalangan budayawan dan seniman lokal. Mereka mengobservasi bahwa potensi besar berupa seni pertunjukan, ritual adat, tradisi lisan, hingga cerita rakyat yang tersebar di sembilan desa Bumiaji belum terdokumentasi secara sistematis dan komprehensif. Kondisi ini dinilai rentan terhadap erosi budaya akibat minimnya transmisi pengetahuan antargenerasi.
![]() |
| Camat Bumiaji sekaligus pembina LABUNI, Thomas Maydo, S.Sos |
"Kegiatan ini masih perdana dari LABUNI. Alhamdulillah, dengan semangat pengurus lembaga budaya tingkat kecamatan maupun desa, serta dukungan bapak-bapak kepala desa dan BPD, kegiatan ini bisa berjalan sangat baik dan meriah," ujar Camat Bumiaji sekaligus pembina LABUNI, Thomas Maydo, S.Sos. Pernyataan ini menegaskan bahwa keberhasilan festival bukan semata-mata capaian seremonial, melainkan bukti konkret dari sinergi struktural antara pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta para pegiat seni dan budaya.
![]() |
| Momen Wali Kota Batu, H. Nurochman SH MH saat potong tumpeng |
Wali Kota Batu, H. Nurochman, S.H., M.H., turut hadir memberikan apresiasi dan arahan moral. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa gelaran Wilujengan Agung Suran bukan sekadar ritual tahun baru Islam dan Jawa, melainkan momentum untuk melakukan refleksi antropologis tentang hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta. Menurutnya, tema "Memayu Hayuning Bumiaji" selaras dengan visi pembangunan Kota Batu yang berkelanjutan dan berbasis kearifan lokal.
![]() |
| Ketua LABUNI Kecamatan Bumiaji, Sukadi |
Sementara itu, Ketua LABUNI Kecamatan Bumiaji, Sukadi, menyampaikan bahwa festival ini merupakan langkah awal dari program jangka panjang lembaganya. "Kami tidak berhenti di sini. Ke depan, LABUNI akan melakukan pendataan budaya secara menyeluruh di seluruh desa. Seluruh kesenian tradisional, upacara adat, cerita tutur, hingga kearifan lokal akan didokumentasikan secara sistematis sebelum dibukukan sebagai arsip budaya," ungkapnya.
Pendekatan ini mencerminkan metodologi dokumentasi etnografis yang diharapkan dapat menjadi referensi ilmiah bagi pengembangan kebudayaan daerah dan warisan pengetahuan bagi generasi mendatang.
Keunikan gelaran ini terletak pada durasi persiapan yang hanya terhitung hari, sebuah pencapaian organisatoris yang menunjukkan tingginya kohesivitas sosial antar elemen masyarakat. Camat Thomas Maydo menambahkan bahwa LABUNI diharapkan menjadi wadah pemersatu yang efektif bagi seluruh ekspresi adat, seni, dan budaya yang selama ini bergerak secara parsial dan terbatas dalam lingkup desanya masing-masing.
Lebih dari sekadar pertunjukan, Wilujengan Agung Suran menjadi simbol kebangkitan budaya lokal sekaligus upaya menjaga identitas masyarakat Bumiaji agar tidak tergerus perkembangan zaman. Dalam diskursus kajian budaya, upaya revitalisasi tradisi seperti ini merupakan bentuk resistensi terhadap hegemoni budaya populer dan strategi adaptasi kreatif agar nilai-nilai luhur tetap relevan dalam konteks kekinian.
Dengan terselenggaranya festival perdana ini, LABUNI telah menorehkan sejarah baru dalam peta kebudayaan Kota Batu. Gelaran ini bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah gerakan sadar budaya yang diharapkan mampu menjaga "Memayu Hayuning Bumiaji"merawat keindahan dan keselamatan bumi Bumiaji untuk masa depan yang lebih baik.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-RI








