Dukungan Palestina Menggema di Piala Dunia 2026 Meksiko
MEKSIKO – Jum'at 19 Juni 2026. Piala Dunia 2026 yang megah, sebuah simfoni persatuan global melalui olahraga, menyajikan narasi yang melampaui rumusan taktik di lapangan hijau. Bagi para pengungsi di Gaza, turnamen ini menjadi pelarian sementara dari realitas konflik yang pahit. Namun, di luar hiburan semata, gelaran yang berlangsung di Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada ini telah menjadi panggung fenomenal bagi ekspresi solidaritas internasional terhadap rakyat Palestina.
Pengalaman seorang warga Palestina yang mengunjungi Meksiko untuk menyaksikan pesta sepak bola terbesar dunia menjadi cermin dari gelombang dukungan yang luar biasa. Di ibu kota, tepatnya di depan Monumen Revolusi, sekitar 200 aktivis dan masyarakat sipil membentuk bendera manusia raksasa Palestina. Aksi yang terorganisasi secara kolektif ini bukan sekadar simbol, melainkan sebuah deklarasi etis melawan apa yang mereka sebut sebagai "genosida brutal" dan pendudukan. Mereka menyerukan agar Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) menjatuhkan sanksi kepada Israel dari semua kompetisi internasional.
"Dunia sedang menyaksikan. Kami menyerukan agar semua pihak tidak berpaling dari kemanusiaan," ujar Daniela González López, Koordinator Internasional Observatorium Hak Asasi Rakyat. Para demonstran yang mengenakan jas hujan berwarna merah, hijau, putih, dan hitam itu bergerak menuju Zócalo, menyuarakan yel-yel seperti "Hidup Palestina Merdeka" dan menyerukan gerakan Boikot, Divestasi, dan Sanksi (BDS).
Di sisi lain, narasi diplomatik yang kontradiktif turut mewarnai perhelatan ini. Ketua Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA), Jibril Rajoub, yang menghadiri pertandingan pembuka Meksiko melawan Afrika Selatan di Stadion Azteca, justru tertahan di Kota Meksiko karena ditolak visa oleh Amerika Serikat. Rajoub mengkritik tindakan tersebut sebagai penyalahgunaan wewenang yang mencederai hak semua pesepakbola dunia. "Saya tidak percaya ini adil," tegasnya, menyoroti ironi di mana Rusia pada 2018 tidak memberlakukan pembatasan visa serupa bagi peserta undangan.
FIFA sendiri telah memastikan bahwa bendera Palestina diizinkan berkibar di seluruh stadion selama Piala Dunia 2026, asalkan sesuai dengan ketentuan penyelenggara. Keputusan ini semakin mengukuhkan posisi sepak bola sebagai ruang publik yang pluralistik. Di berbagai sudut Kota Meksiko, kibaran bendera Palestina dan nyanyian dukungan dari penggemar Bosnia, Qatar, hingga Maroko menjadi pemandangan lumrah.
Kehangatan yang diterima warga Palestina di Meksiko bukanlah fenomena instan, melainkan cerminan dari hubungan historis dan dukungan diplomatik Meksiko terhadap hak-hak rakyat Palestina. Bagi pengunjung dari tanah konflik, pengalaman ini menjadi penegasan bahwa meskipun tim nasionalnya tidak tampil di lapangan, suara Palestina bergema kuat melalui solidaritas massa. Piala Dunia 2026 di Meksiko bukan hanya tentang siapa yang membawa pulang trofi, tetapi juga tentang bagaimana turnamen ini menjadi kanvas bagi perjuangan kemanusiaan dan keadilan global.
Kontributor : Indah W
Editor : Tim EDUKASI-R I
Sumber : Insta
