Sabtu, 18 April 2026

Haul Eyang Djugo ke-156 di Kesamben Blitar Sakral, Meriah, dan Dorong Ekonomi UMKM


Dalam Haul Eyang Djugo ke 156 saat Kirap Pusaka

Blitar, Kesamben — Peringatan Haul Eyang Djugo ke-156 berlangsung khidmat sekaligus meriah di kawasan Petilasan Eyang Djugo, Desa Jugo, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Blitar, Sabtu (18/4/2026). Ribuan masyarakat dari berbagai daerah tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang memadukan dimensi religius, kultural, dan ekonomi berbasis komunitas.


Bupati Blitar, Drs.H. Rijanto, M.M secara langsung memberangkatkan Kirab Pusaka Eyang Djugo yang menjadi salah satu agenda utama. Prosesi kirab dimulai dari Padepokan Makam Eyang Dawud menuju Padepokan Eyang Djugo, dengan partisipasi masyarakat yang dinilai sangat tinggi.


Kenakan kemeja Batik, Bupati Blitar bersama Pemangku Padepokan Eyang Djugo ,dan PPBN, serta para pelestari budaya

“Momentum ini bukan sekadar seremoni, tetapi manifestasi nilai gotong royong, kebersamaan, serta pelestarian budaya yang harus terus dijaga. Jika dikelola secara sistematis, kegiatan ini berpotensi menjadi destinasi wisata budaya unggulan yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi lokal,” ujar Rijanto.


Kegiatan haul tahun ini menghadirkan spektrum acara yang komprehensif, mulai dari selawatan, istigotsah, pengajian, hingga tahlil akbar sebagai representasi dimensi spiritual masyarakat. Di sisi lain, aspek kultural ditampilkan melalui Kirab Pusaka, pagelaran wayang kulit oleh dalang lokal, serta penampilan dalang nasional Sakit Ariyanto dari Rembang.


Kepala Desa Jugo, Kholid Adnan, menjelaskan bahwa rangkaian haul telah dimulai sejak Kamis malam dengan pertunjukan gending dan macapat sebagai upaya konservasi budaya Jawa. Agenda berlanjut dengan khataman Al-Qur’an oleh perwakilan lima dusun, tahlil akbar yang diikuti ratusan jamaah, hingga pengajian akbar bersama KH. Marzuki Mustamar dan selawatan oleh Gus Azmi.


Kepala Desa Djugo

“Puncak kegiatan pada Sabtu siang adalah Kirab Pusaka, sementara penutupan akan diisi dengan Penyekaran Agung serta kegiatan olahraga ‘Mbah Jugo Run 5K’ pada Minggu pagi,” jelasnya.


Secara sosio-ekonomi, haul ini memberikan efek multiplier yang signifikan terhadap pemberdayaan UMKM. Ratusan pelaku usaha dari Blitar dan daerah sekitar seperti Kediri, Tulungagung, hingga Malang turut berpartisipasi, menciptakan ekosistem ekonomi temporer yang produktif.


Padepokan Eyang Djugo , Kesamben , Blitar

Pelestari budaya sekaligus pemangku padepokan, Arif Yulianto Wicaksono yang dikenal sebagai Mbah Semar mengungkapkan bahwa tradisi haul merupakan bentuk penghormatan terhadap Eyang Djugo atau Pangeran Suryo Kusumo, sosok historis yang memiliki pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat.


Pemangku Padepokan Eyang Djugo, Arif Yulianto Wicaksono ( Mbah Semar )


“Berdasarkan catatan yang ada, beliau merupakan cucu dari Pangeran Diponegoro dan memiliki keterkaitan historis dengan dinamika internal Keraton Mataram pada masa Perang Diponegoro (1825–1830). Semasa hidupnya, beliau berkontribusi dalam membuka lahan pertanian, menyediakan sumber air, serta pengobatan masyarakat,” ujarnya.


Ia menambahkan, sejak 2004 pihaknya menginisiasi inovasi kultural seperti Kirab Pusaka dan napak tilas guna meningkatkan literasi sejarah dan kesadaran budaya di kalangan generasi muda.


Momen kirap pusaka

Kirab pusaka sendiri sarat nilai sakral dengan pakem budaya Jawa (Kejawen). Peserta mengenakan busana tradisional seperti lurik, beskap, dan surjan. Pusaka yang dikirab meliputi keris, tombak, pedang, hingga mata luku, yang sebelumnya disemayamkan secara ritual di makam leluhur.


Selain sebagai bentuk penghormatan historis, kegiatan ini juga berfungsi sebagai medium edukasi kultural dan transmisi nilai-nilai leluhur kepada generasi milenial. Tradisi tumpeng, polo pendem, dan hasil bumi menjadi simbol rasa syukur kolektif sekaligus memperkuat kohesi sosial masyarakat desa.


Peringatan Haul Eyang Djugo ke-156 ini menunjukkan bahwa integrasi antara spiritualitas, budaya, dan ekonomi lokal mampu menciptakan ekosistem pembangunan berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan.


Kontributor : Agus

Editor : Tim EDUKASI-R I 

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2

Labels

EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts