Sabtu, 07 Februari 2026

Kebun Alpukat di Batu Kagumkan Guru Australia

Gambar 1
Gambar 1

 


KOTA BATU – Keberhasilan sebuah kebun alpukat seluas 2 hektar di lereng Kota Batu menarik perhatian internasional. Kebun yang terletak di Dusun Sabrang Bendo, Desa Giripurno, Bumiaji, itu dikunjungi oleh Dave, seorang guru bahasa Inggris asal Australia yang mengajar di sebuah sekolah internasional di Jawa Timur, pada Sabtu pagi, 7 Februari 2026.


Kebun bernama Galuh Purba Bumi Perdikan Batu, yang beralamat di Jalan Arjuna ini, menampilkan sekitar 2000 pohon alpukat dari berbagai jenis unggulan, seperti Alpukat Susu, Mentega, dan Aligator. Keberagaman dan skala penanamannya sukses memikat Dave, yang melihat potensi besar untuk direplikasi di daerah lain, khususnya Nusa Tenggara Timur (NTT).


Dave, yang dalam kesehariannya mendidik, mengutarakan kekagumannya terhadap konsep dan tata kelola kebun. “Saya sangat terkesan dengan kerapian dan perencanaan kebun ini. Sistem penanaman, perawatan, dan varietas alpukat yang dikembangkan di sini sangat maju. Ini bukan sekadar perkebunan, tapi tampak seperti agro-edupark yang terkelola dengan sangat baik,” ujarnya.


Dave saat bersama Robiyan , pemilik kebun Alpukat

Ia melihat model seperti ini sangat cocok untuk dikembangkan di wilayah dengan karakteristik seperti NTT. “Saya melihat potensi besar untuk menerapkan konsep serupa di NTT, dengan adaptasi tentunya. Fokus pada komoditas bernilai tinggi, manajemen air yang efisien, dan pendekatan agrowisata bisa menjadi solusi untuk meningkatkan ekonomi sekaligus ketahanan pangan di sana. Saya berharap bisa membawa ide-ide dari sini untuk didiskusikan dengan mitra-mitra lokal di NTT,” papar Dave penuh antusias.


Selain menguatkan pangsa pasar domestik, langkah strategis selanjutnya adalah berekspansi ke daerah-daerah tertentu di Australia. Pilihan ini bukan tanpa alasan, melainkan didorong oleh keunggulan kompetitif unik yang dimiliki produk buah Indonesia. 


Mayoritas perkebunan di Indonesia, terutama yang dikelola oleh petani lokal dan UMKM, menerapkan praktik pertanian organik dengan penggunaan bahan alami yang minim kimia. Ini menghasilkan buah dengan cita rasa autentik, lebih aman, dan bernilai gizi tinggi.

Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/sanggar-budaya-sangguran-membaca.html

Keunggulan lain yang tak kalah penting adalah kesegaran absolut. Buah-buahan dari Indonesia dipanen tepat pada puncak kematangannya, atau fress seperti istilah yang akrab di pasar lokal. Artinya, buah langsung dipetik dari pohon saat sudah optimal, memastikan tekstur, rasa, dan aromanya terjaga sempurna. Kondisi ini sering kali berbeda dengan buah dari negara lain yang, karena siklus musim atau kebutuhan logistik jarak jauh, terpaksa dipanen sebelum matang sempurna atau melalui proses pengawetan dan pengolahan yang panjang sebelum sampai ke konsumen.


Pemilik kebun, Robiyan, menjelaskan bahwa kebun alpukatnya memang dirancang sebagai percontohan dan pusat pembelajaran. “Kebun ini kami kembangkan sejak beberapa tahun lalu dengan filosofi ‘Bumi Perdikan’, yakni tanah yang memberi kemakmuran. Kami tidak hanya mengejar produksi, tetapi juga keberlanjutan dan edukasi. Setiap pohon dipilih varietasnya untuk mendapatkan hasil optimal, baik dari segi rasa, ketahanan penyakit, maupun nilai jual,” jelas Robiyan.


Ia memaparkan, Alpukat Susu dipilih karena dagingnya yang lembut dan rasa manisnya khas, Alpukat Mentega terkenal dengan produktivitas dan teksturnya, sementara Aligator menarik karena ukuran buahnya yang besar dan kandungan minyaknya tinggi. “Perawatan kami lakukan secara intensif dengan perpaduan organik dan teknologi modern untuk memastikan kesehatan tanaman dan kualitas buah,” tambahnya.


Momen kebersamaan , Dave, Robiyan dan Giono saat lakukan kunjungan

Kehadiran pengunjung seperti Dave, menurut Robiyan, adalah salah satu tujuan dari pengembangan kebunnya. “Kami ingin tempat ini menjadi sumber inspirasi. Banyak petani, pelajar, bahkan wisatawan yang datang untuk belajar. Ketika ada seorang guru dari Australia yang melihat potensi penerapan ilmu dari sini untuk daerah lain seperti NTT, itu adalah penghargaan yang luar biasa bagi kami. Artinya, apa yang kami bangun memiliki dampak yang lebih luas,” ucap Robiyan.


Diharapkan ke depannya, sinergi dan pertukaran pengetahuan semacam ini dapat terus berjalan. “Model pengembangan pertanian terpadu yang kami terapkan di Batu ini semoga bisa menjadi blueprint, tentu dengan penyesuaian, untuk daerah-daerah lain di Indonesia. Kami terbuka untuk kolaborasi, termasuk untuk program-program pengembangan di NTT yang disebutkan oleh Tuan Dave juga dari Australia, Intinya, kami percaya inovasi di sektor pertanian harus dibagikan,” harap Robiyan.


Kunjungan singkat di pagi hari itu pun berakhir dengan kesan mendalam. Dave berjanji akan membawa dokumentasi dan pengetahuannya dari kebun alpukat Batu sebagai bahan studi dan diskusi dalam upaya mengembangkan pertanian berkelanjutan di NTT dan Australia. Sementara itu, Kebun Alpukat Galuh Purba Bumi Perdikan Batu terus membuktikan bahwa inovasi pertanian di tanah air tidak hanya produktif, tetapi juga mampu menarik perhatian dan menjadi mercusuar pengetahuan bagi siapapun, dari lokal hingga internasional.

Lihat juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/dokar-wisata-kota-batu-berhenti-operasi.html

Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/apa-itu-kbli-73100-ini-pengertian.html

Interaksi ini mengindikasikan bahwa praktik pertanian modern dan berkelanjutan di Indonesia memiliki daya tarik global dan potensi transfer pengetahuan yang signifikan. Perkebunan alpukat di Batu tersebut bukan hanya tentang menghasilkan buah, melainkan juga tentang menumbuhkan ide-ide baru untuk masa depan agrikultur Indonesia, dari Jawa Timur hingga Nusa Tenggara Barat.


Selain menguatkan pangsa pasar domestik, langkah strategis selanjutnya adalah berekspansi ke daerah-daerah tertentu di Australia. Pilihan ini bukan tanpa alasan, melainkan didorong oleh keunggulan kompetitif unik yang dimiliki produk buah Indonesia. 


Mayoritas perkebunan di Indonesia, terutama yang dikelola oleh petani lokal dan UMKM, menerapkan praktik pertanian organik dengan penggunaan bahan alami yang minim kimia. Ini menghasilkan buah dengan cita rasa autentik, lebih aman, dan bernilai gizi tinggi.


Keunggulan lain yang tak kalah penting adalah kesegaran absolut. Buah-buahan dari Indonesia dipanen tepat pada puncak kematangannya, atau fress seperti istilah yang akrab di pasar lokal. Artinya, buah langsung dipetik dari pohon saat sudah optimal, memastikan tekstur, rasa, dan aromanya terjaga sempurna. Kondisi ini sering kali berbeda dengan buah dari negara lain yang, karena siklus musim atau kebutuhan logistik jarak jauh, terpaksa dipanen sebelum matang sempurna atau melalui proses pengawetan dan pengolahan yang panjang sebelum sampai ke konsumen.


memastikan konsumen Australia dapat menikmati buah segar dan organik dengan kualitas terbaik sepanjang tahun. Inilah komitmen kami: menghubungkan kebermanjaan alam Indonesia dengan meja makan dunia, tanpa mengorbankan esensi kesegaran dan keberlanjutannya.

Kontributor : AGS

Editor : Tim EDUKASI-R I 

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2

Labels

EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts