Kamis, 12 Februari 2026

Atasi Darurat Sampah, Kodam I/BB Ciptakan Incinerator Mobile dan Rumahan

Gambar 1




Medan – Di tengah krisis persampahan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, inovasi tepat guna dari lingkungan militer hadir sebagai angin segar. Kodam I/Bukit Barisan (BB) resmi meluncurkan incinerator ramah lingkungan skala rumah tangga dan mobile yang dirancang untuk menekan volume sampah secara efektif, khususnya di area permukiman padat dan titik-titik strategis di Kota Medan.


Pembuatan alat ini dilaksanakan oleh Satuan Peralatan Kodam I/BB di Bengrah I/Medan, Jalan Helvetia. Proses produksi yang dimulai sejak Selasa (10/2/2026) ini merupakan respons cepat institusi militer terhadap kondisi darurat sampah yang kian mendesak.


Kapendam I/BB, Kolonel Inf Asrul Kurniawan Harahap, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar proyek teknis, melainkan bagian dari kontribusi nyata TNI dalam pemulihan lingkungan.


"Ini bentuk komitmen Kodam I/BB mendukung penanganan darurat sampah nasional. Kami menghadirkan solusi teknologi sederhana yang ramah lingkungan, ekonomis, dan bisa langsung digunakan masyarakat," ujarnya, Kamis (12/2/2026).


Desain Fungsional untuk Kebutuhan Berbeda


Inovasi ini menghadirkan dua varian incinerator dengan spesifikasi yang disesuaikan berdasarkan skala penggunaan.


Pertama, incinerator mobile. Sesuai namanya, unit ini dirancang portabel menggunakan rangka baja beroda sehingga mudah dipindahkan ke lokasi-lokasi yang membutuhkan penanganan sampah darurat. Sistem pembakaran memanfaatkan drum logam sebagai ruang bakar yang dilengkapi saluran udara optimal.


incinerator mobile

Keunggulan utama dari incinerator mobile terletak pada sistem filtrasi asap. Sebelum dilepaskan ke udara, asap hasil pembakaran dialirkan melalui filter berbahan penyaring khusus yang mampu menekan polutan. Teknologi ini menjawab kekhawatiran warga selama ini terhadap pencemaran udara akibat pembakaran sampah terbuka.

Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/01/poltekad-ubah-sampah-plastik-jadi-bahan.html

Sementara untuk skala permukiman, Kodam I/BB merancang incinerator rumah tangga dengan dimensi lebih kecil dan sistem keamanan yang ditingkatkan. Alat ini tetap mengandalkan drum logam sebagai ruang bakar, namun dilengkapi rak pembakaran dan saluran sirkulasi udara yang membuat api lebih terkendali.


Proses pembuatan incinerator rumah tangga


Yang tak kalah penting, saluran asap pada unit rumah tangga diarahkan menjauhi bangunan utama. Hal ini membuatnya aman digunakan di area terbuka terbatas seperti pekarangan belakang atau lingkungan perumahan dengan pengawasan.


Dampak Ganda: Ekologi dan Edukasi


Kehadiran incinerator buatan anak bangsa ini diharapkan membawa dampak ganda. Secara ekologis, alat ini mampu menekan volume sampah rumah tangga secara signifikan. Namun di luar aspek teknis, Kodam I/BB juga menyelipkan misi edukasi.


Menurut Kapendam, pembakaran sampah yang tertib dan terkontrol sejatinya merupakan tahap akhir dari proses pengelolaan. Masyarakat didorong untuk lebih disiplin dalam memilah sampah organik dan anorganik sebelum dimasukkan ke dalam incinerator.


"Alat ini praktis dan mudah digunakan. Dengan tersedianya sarana yang memadai, kami berharap kesadaran masyarakat terhadap pemilahan sampah meningkat. Lingkungan bersih dan berkelanjutan dimulai dari kebiasaan kecil di rumah tangga," imbuh Kolonel Asrul.


Solusi Jangka Pendek untuk Krisis Panjang


Pemilihan teknologi incinerator skala kecil-menengah dinilai tepat mengingat kondisi darurat yang membutuhkan penanganan cepat. Berbeda dengan pembakaran liar yang menghasilkan asap beracun dan residu berbahaya, incinerator buatan Kodam I/BB dirancang dengan prinsip pembakaran efisien dan minim residu.


Meski begitu, alat ini tetap direkomendasikan untuk diawasi penggunaannya. Pengoperasian yang benar—termasuk menjaga kelembaban sampah dan kapasitas muatan—menjadi kunci agar alat berfungsi optimal tanpa menimbulkan gangguan lingkungan.


Ke depan, Kodam I/BB membuka peluang untuk memperbanyak unit produksi jika respons masyarakat positif. Dengan sumber daya bengkel lapangan yang dimiliki, bukan tidak mungkin teknologi tepat guna ini direplikasi di wilayah-wilayah lain di Sumatera Utara.


Di tengah lambannya penyediaan infrastruktur persampahan oleh sektor formal, langkah Kodam I/BB ini membuktikan bahwa solusi tidak harus selalu menunggu proyek besar. Inovasi lokal yang aplikatif, didukung niat tulus menjaga lingkungan, bisa menjadi pilar penting dalam memutus mata rantai krisis sampah nasional.


Kontributor: Johan

Editor: Tim EDUKASI-R I

Sumber: Pendam I

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2

Labels

EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts