80.000 Jamaah Padati Masjid Al-Aqsa Jumat Pertama di Bulan Suci Ramadan
Yerusalem, Tepi Barat – Suasana khusyuk menyelimuti Masjid Al-Aqsa pada Jumat (21/2/2026) saat sekitar 80.000 warga Palestina melaksanakan salat Jumat pertama di bulan suci Ramadan. Namun, di balik kekhidmatan ibadah di situs tersuci ketiga umat Islam tersebut, terhampar realitas pahit bagi ribuan warga Palestina lainnya yang berasal dari Tepi Barat. Otoritas setempat melaporkan bahwa hanya sekitar 10.000 jamaah dari wilayah itu yang berhasil mencapai Yerusalem Timur yang diduduki akibat penerapan pembatasan ketat oleh otoritas Israel.
Departemen Wakaf Islam di Yerusalem, lembaga yang mengelola urusan Masjid Al-Aqsa, mengonfirmasi angka kehadiran tersebut dalam sebuah pernyataan singkat pada hari yang sama. “Sebanyak 80.000 jamaah melaksanakan salat Jumat pertama bulan suci Ramadan di Masjid Al-Aqsa yang diberkati,” demikian bunyi pernyataan yang dikutip oleh Anadolu Agency.
Momen pertama Ramadan di Al-Aqsa selalu menjadi magnet spiritual yang kuat bagi umat Islam dari berbagai penjuru dunia, khususnya warga Palestina. Kedatangan ribuan jamaah ini tidak hanya untuk menunaikan ibadah, tetapi juga sebagai bentuk penegasan identitas dan ikatan historis mereka dengan Yerusalem. Masjid Al-Aqsa, yang merupakan kiblat pertama umat Islam, seringkali menjadi titik sentral ketegangan politik dan keagamaan di kawasan tersebut.
![]() |
| Suasana saat pelaksanaan sholat Jum'at |
Namun, euforia ibadah tahun ini kembali diwarnai dengan hambatan birokrasi dan keamanan. Sumber dari pejabat setempat menyebutkan bahwa angka 80.000 jamaah sebenarnya jauh di bawah kapasitas maksimal Masjid Al-Aqsa yang mampu menampung hingga 400.000 orang. Penyebab utamanya adalah kebijakan pembatasan yang diterapkan oleh otoritas pendudukan Israel.
Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/01/gaza-wisuda-230-dokter-baru-di-tengah.html
Pembatasan ini secara khusus berdampak pada warga Palestina yang tinggal di Tepi Barat. Untuk bisa memasuki Yerusalem Timur dan mencapai Masjid Al-Aqsa, mereka diwajibkan memiliki izin masuk khusus dari otoritas Israel. Proses perolehan izin ini kerap kali dipersulit, dengan persyaratan yang ketat dan kuota yang sangat terbatas.
“Tahun ini, Israel hanya mengizinkan sekitar 10.000 warga Tepi Barat untuk masuk,” ungkap seorang sumber dari komite setempat yang memantau perizinan. “Sebagian besar dari mereka adalah pria di atas 55 tahun, wanita di atas 50 tahun, dan anak-anak dengan persyaratan tertentu. Ribuan pemohon lainnya ditolak tanpa alasan yang jelas.”
Selain pembatasan usia dan kuota, warga Tepi Barat yang berhasil mendapatkan izin pun harus melewati prosedur pemeriksaan keamanan yang panjang dan ketat di pos-pos pemeriksaan militer (checkpoint) yang mengelilingi Yerusalem. Antrean panjang dan waktu tunggu berjam-jam menjadi pemandangan biasa, yang tidak jarang membuat mereka terlambat atau bahkan kehilangan kesempatan untuk melaksanakan salat Jumat berjamaah di pelataran Masjid Al-Aqsa.
Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2025/12/gaza-pulihkan-masjid-omari-warisan.html
Situasi ini semakin diperparah dengan ketegangan yang terus meningkat di kawasan tersebut. Dalam beberapa pekan terakhir, terutama menjelang Ramadan, sering terjadi insiden kekerasan antara pemukim ilegal Israel dan warga Palestina di berbagai titik di Tepi Barat. Kehadiran ribuan pasukan keamanan Israel di sekitar kota tua Yerusalem dan Al-Aqsa pun menambah suasana mencekam.
Bagi warga Palestina di Tepi Barat, hambatan untuk mencapai Al-Aqsa bukan sekadar soal logistik, melainkan luka kolektif. Mereka merasa terasing dari pusat spiritual dan budaya mereka sendiri. “Al-Aqsa adalah hati kami. Setiap Ramadan, kami berharap bisa mencium tanahnya, tapi dinding pemisah dan checkpoint selalu menghalangi,” keluh seorang warga Nablus yang izinnya ditolak, dalam sebuah unggahan di media sosial.
Di sisi lain, para jamaah yang berhasil mencapai Al-Aqsa berusaha memanfaatkan momen ibadah dengan sebaik-baiknya. Suara azan bergema di seluruh penjuru kota tua Yerusalem, diiringi lantunan doa dan harapan akan kedamaian. Pelataran masjid dipenuhi sajadah, tempat warga Yerusalem dan segelintir jamaah dari luar kota duduk berdampingan, larut dalam ibadah di bawah sinar matahari musim semi.
Lihat juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/260-jurnalis-tewas-di-gaza-israel.html
Pemerintah Israel sendiri jarang berkomentar secara detail mengenai kebijakan pembatasan di bulan Ramadan. Pihak berwenang biasanya beralasan bahwa pembatasan tersebut diberlakukan untuk alasan keamanan dan untuk mencegah potensi gangguan ketertiban umum di tengah meningkatnya ketegangan politik. Mereka juga mengklaim telah melakukan berbagai upaya untuk memfasilitasi kebebasan beragama, selama situasi keamanan memungkinkan.
Namun, klaim tersebut dibantah oleh berbagai organisasi hak asasi manusia internasional yang menilai pembatasan itu sebagai bagian dari kebijakan diskriminasi dan apartheid yang sistematis terhadap rakyat Palestina. Mereka menyerukan agar akses ke tempat-tempat suci di Yerusalem Timur dibuka tanpa diskriminasi bagi semua pemeluk agama.
Salat Jumat pertama ini hanyalah awal dari rangkaian panjang ibadah di bulan Ramadan. Ke depan, pertanyaan besar masih menggantung, apakah ribuan warga Palestina lainnya akan mendapatkan kesempatan yang sama untuk menunaikan ibadah di Masjid Al-Aqsa, ataukah hambatan dan ketegangan akan terus membayangi bulan suci ini? Yang jelas, bagi rakyat Palestina, Al-Aqsa bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol perjuangan, identitas, dan harapan yang tak akan pernah padam.
Kontributor : Susi
Editor : Tim EDUKASI-R I
Sumber : Alwani


