Prabowo Luncurkan PLTS 100 GWp, 14 Proyek Jadi Tahap Awal
BALI — Presiden Prabowo Subianto resmi meluncurkan program pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas total 100 gigawatt peak (GWp) sebagai bagian dari strategi pemerintah memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.
Program berskala besar tersebut diawali dengan peluncuran 14 proyek PLTS yang tersebar di enam provinsi, dengan kapasitas kumulatif mencapai sekitar *,3 GWp. Peresmian berlangsung di PLTS Site Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026).
Program ini menjadi salah satu langkah pemerintah dalam mempercepat transformasi bauran energi menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan. Pemanfaatan energi surya dinilai memiliki prospek strategis mengingat Indonesia memiliki potensi radiasi matahari yang relatif besar sepanjang tahun.
Keempat belas proyek PLTS yang menjadi tahap awal program tersebut meliputi:
1. PLTS Tembesi, Kepulauan Riau;
2. PLTS Pulau Sembur, Kepulauan Riau;
3. PLTS Pulau Rengit, Kepulauan Bangka Belitung;
4. PLTS Saguling, Jawa Barat;
5. PLTS Purwakarta, Jawa Barat;
6. PLTS Jatiluhur, Jawa Barat;
7. PLTS Cirata, Jawa Barat;
8. PLTS Jatigede, Jawa Barat;
9. PLTS Waduk Gajah Mungkur, Jawa Tengah;
10. PLTS Karangkates, Jawa Timur;
11. PLTS Madura, Jawa Timur;
12. PLTS Pasuruan, Jawa Timur;
13. PLTS Banyuwangi, Jawa Timur; dan
14. PLTS Site Gilimanuk, Bali.
Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menyampaikan optimisme terhadap implementasi program PLTS 100 GWp. Menurutnya, kapasitas energi surya yang dikembangkan secara masif, ditambah dengan pemanfaatan sumber energi lainnya, dapat memperkuat kemampuan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan energi secara mandiri.
Dari perspektif ketahanan energi, pengembangan pembangkit berbasis energi terbarukan memiliki arti strategis. Diversifikasi sumber energi dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis sumber energi sekaligus meningkatkan resilien sistem energi nasional dalam menghadapi dinamika kebutuhan listrik dan perubahan kondisi global.
Pemerintah menargetkan pembangunan **PLTS 100 GWp dapat direalisasikan dalam kurun waktu tiga tahun**. Target tersebut tidak hanya diposisikan sebagai angka perencanaan, tetapi harus diterjemahkan menjadi proyek konkret yang menghasilkan kapasitas pembangkitan secara terukur.
Presiden menegaskan bahwa ambisi tersebut membutuhkan kerja nyata serta capaian yang dapat diverifikasi. Dengan demikian, keberhasilan program tidak semata-mata diukur dari besarnya target kapasitas terpasang, tetapi juga dari efektivitas pembangunan, kesinambungan operasional, serta kontribusinya terhadap kebutuhan listrik nasional.
Pengembangan PLTS dalam skala 100 GWp berpotensi menjadi katalisator bagi akselerasi transisi energi Indonesia. Selain meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan, ekspansi pembangkit surya juga dapat mendorong penguatan ekosistem industri pendukung, investasi infrastruktur kelistrikan, serta pengembangan teknologi energi bersih.
Peluncuran 14 PLTS dengan kapasitas awal 5,3 GWp menjadi indikator dimulainya tahapan implementasi program tersebut. Pemerintah selanjutnya dituntut menjaga konsistensi pembangunan agar target 100 GWp dapat dicapai sesuai jadwal dan memberikan dampak nyata terhadap ketahanan energi Indonesia.
Dengan pendekatan yang terintegrasi antara pembangunan pembangkit, penguatan jaringan listrik, investasi teknologi, dan tata kelola energi, program PLTS 100 GWp diharapkan mampu menjadi fondasi penting bagi sistem energi nasional yang lebih mandiri, berkelanjutan.
Kontributor : Abdul
Editor : Tim EDUKASI-RI







