Grebek Suro Sumberejo Batu Angkat Tradisi Lesung sebagai Warisan Budaya dan Perekat Sosial
![]() |
| Suasana Grebek Suro Sumberejo Kota Batu |
KOTA BATU – Semangat pelestarian budaya lokal berpadu dengan penguatan kohesi sosial dalam perayaan Grebek Suro dan Selamatan Desa Sumberejo ke-116 yang digelar pada Senin (15/6/2026). Tradisi tahunan yang bertepatan dengan malam 1 Suro tersebut menjadi momentum revitalisasi kearifan lokal sekaligus sarana memperkuat solidaritas masyarakat lintas generasi.
![]() |
| Rukun Kematian Desa Sumberejo, Kelompok Penggali Kubur |
Kegiatan yang diinisiasi Kelompok Penggali Kubur (KPK) atau Rukun Kematian Desa Sumberejo itu menghadirkan atraksi budaya berupa Arak Lesung, sebuah tradisi yang kini berkembang menjadi ikon budaya desa. Prosesi arak-arakan dimulai dari Dusun Santrean dan Sumbersari menuju Balai Desa Sumberejo dengan melibatkan ratusan warga.
Kepala Desa Sumberejo, Riyanto, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi masyarakat dalam menjaga eksistensi budaya warisan leluhur.
![]() |
| Kepala Desa Sumberejo saat sampaikan sambutan |
“Kelompok Penggali Kubur memiliki inisiatif menggelar kegiatan yang dipadukan dengan selamatan desa dan malam satu Suro. Ini menjadi ruang bersama untuk memperkuat kebersamaan warga,” ujarnya.
Daya tarik utama pawai budaya itu adalah lesung kuno milik warga setempat yang dihias aneka hasil bumi sebagai simbol sedekah bumi dan rasa syukur atas keberlimpahan rezeki. Selain lesung, sejumlah jodang berisi hasil pertanian turut dibawa warga dari berbagai dusun sebagai representasi kemakmuran dan gotong royong masyarakat agraris.
![]() |
| Peserta pawai lesung dari Drumband Nada Hidayah |
Perayaan semakin semarak dengan partisipasi 14 kelompok seni tradisional, mulai dari Jaran Kepang, Bantengan, Sanduk, hingga Drum Band. Keberagaman pertunjukan tersebut mencerminkan kekayaan ekspresi budaya yang masih hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
![]() |
| Momen saat pawai lesung |
Pemerintah Desa Sumberejo mengalokasikan anggaran sekitar Rp20 juta untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut. Menurut Riyanto, investasi sosial-budaya semacam ini memiliki nilai strategis dalam memperkuat identitas kolektif masyarakat desa.
“Harapannya, semangat kebersamaan semakin meningkat sehingga Desa Sumberejo menjadi desa yang guyub, rukun, dan sejahtera,” katanya.
Setelah prosesi arak-arakan berakhir menjelang Magrib, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pertunjukan campursari yang menghadirkan penyanyi Silvi Kumalasari di halaman Kantor Desa Sumberejo.
![]() |
| Iringan pembawa lesung |
Rustamaji, Penjaga Tradisi Lesung dan Penggerak Aksi Sosial
Di balik eksistensi Arak Lesung, terdapat sosok Rustamaji atau yang akrab disapa Pak Jasam. Pada usia 70 tahun, ia masih aktif merawat dan mengembangkan kesenian lesung sebagai bagian dari upaya konservasi budaya Jawa.
Selama kurang lebih delapan tahun terakhir, Rustamaji konsisten mengelola kelompok lesung secara mandiri. Baginya, pelestarian budaya bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga identitas kultural masyarakat di tengah arus modernisasi.
“Hanya ingin melestarikan budaya Jawa agar tetap dikenal generasi berikutnya,” tuturnya.
![]() |
| Kenakan Topi hitam , Rustamaji |
Selain aktif di bidang kebudayaan, Rustamaji juga menjadi anggota Kelompok Penggali Kubur yang bergerak dalam pelayanan sosial kemasyarakatan tanpa memungut biaya. Saat ini kelompok tersebut memiliki lebih dari 30 anggota yang tersebar di berbagai dusun dan siap membantu warga yang membutuhkan.
Menurutnya, keberadaan kelompok sosial berbasis sukarela menjadi manifestasi nyata nilai gotong royong yang telah lama menjadi fondasi kehidupan masyarakat pedesaan.
![]() |
| Peserta pawai |
Rustamaji berharap generasi muda dapat lebih aktif terlibat dalam kegiatan budaya maupun sosial. Keterlibatan mereka dinilai penting untuk menjamin keberlanjutan tradisi sekaligus memperkuat modal sosial masyarakat di masa depan.
Melalui Grebek Suro dan Arak Lesung, Desa Sumberejo tidak hanya merawat warisan budaya leluhur, tetapi juga membangun ruang interaksi sosial yang memperkuat persaudaraan, identitas kolektif, serta ketahanan budaya masyarakat di tengah dinamika perkembangan zaman.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I







