Rabu, 17 Juni 2026

99 Takir Jenang Suro Warnai Ritual Budaya di Dusun Pagergunung Kota Batu

 


BATU – Antusiasme masyarakat dalam memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah atau yang dikenal dalam tradisi Jawa sebagai 1 Suro tampak begitu semarak di Dusun Pagergunung, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, pada Rabu (17/6/2026) sore. Ribuan warga dari berbagai kalangan tumpah ruah menyaksikan dan mengikuti pawai hasil bumi serta atraksi kearifan lokal yang digelar di sepanjang wilayah dusun tersebut.

Momen menuju pemberangkatan

Salah satu elemen yang menjadi pusat perhatian dalam peringatan tahun ini adalah penyajian 99 takir jenang Suro dan 99 takir nasi tumpeng yang disiapkan secara gotong royong oleh warga di setiap Rukun Warga (RW). Angka 99 dipilih bukan tanpa alasan, melainkan merepresentasikan nilai-nilai filosofis yang berkaitan dengan kesempurnaan sifat-sifat ketuhanan serta menjadi simbol refleksi spiritual bagi masyarakat.


Momen warga membawa hasil bumi

Selain itu, warga juga menyajikan berbagai hasil pertanian berupa tumpeng jajan pasar dan pala pendem sebagai manifestasi rasa syukur atas keberlimpahan rezeki yang diperoleh sepanjang tahun. Tradisi tersebut mencerminkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta yang menjadi fondasi dalam kearifan lokal masyarakat agraris.


Iringan sangsaka melambangkan kejayaan

Rangkaian kegiatan diawali sejak pagi dengan pelaksanaan khataman Alquran di dua lokasi yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat setempat, yakni Punden Jati Tunggal yang diyakini sebagai petilasan Syekh Jumadil Kubro serta Punden Maringin Tunggal biasa dikenal dengan Ki Demang Lasem, Ritual ini menjadi bagian penting dalam memperkuat dimensi religius peringatan Bulan Suro.


Memasuki sore hari setelah salat asar, suasana berubah menjadi lebih khusyuk melalui kegiatan doa bersama dan istighasah yang dipimpin oleh kaum ibu. Momentum tersebut menjadi sarana mempererat kohesi sosial sekaligus memperkuat solidaritas antarwarga dalam bingkai kehidupan bermasyarakat yang harmonis.


Ketua lembaga Adat, Sujono Djonet, menegaskan bahwa pelestarian tradisi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh elemen masyarakat. Menurutnya, keberlanjutan budaya lokal menjadi faktor penting dalam menjaga eksistensi identitas suatu komunitas di tengah transformasi sosial yang terus berkembang.

Ketua lembaga Adat , Sujono Djonet

“Ini adalah sebuah kewajiban bagi kita untuk memberikan teladan kepada generasi berikutnya. Budaya Jawa harus tetap dijaga agar identitas dan karakter masyarakat tidak hilang ditelan zaman,” ujarnya.


Rangkaian peringatan Bulan Suro di Dusun Pagergunung dijadwalkan ditutup dengan pagelaran hiburan rakyat pada malam hari. Kehadiran berbagai agenda budaya dan religius tersebut menunjukkan bahwa tradisi tidak hanya berfungsi sebagai warisan masa lalu, melainkan juga sebagai modal sosial yang efektif dalam membangun kerukunan, memperkuat ketahanan budaya, serta menumbuhkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.


Melalui konsistensi masyarakat dalam merawat tradisi, peringatan Bulan Suro di Dusun Pagergunung menjadi contoh konkret bagaimana kearifan lokal dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai esensial yang diwariskan oleh para leluhur.

Devina, salah satu peserta pawai 1 Muharam 1448 H

Salah satu perwakilan warga, Devina, mengutarakan apresiasinya terhadap kegiatan yang dinilainya memiliki nilai edukatif yang tinggi. "Kegiatan ini sangat baik sekali, selain sudah menjadi tradisi juga edukasi yang harus dilestarikan, sehingga bisa dilaksanakan berkelanjutan pada setiap tahunnya," tuturnya. Pernyataan Devina merefleksikan kesadaran generasi muda akan urgensi transmisi nilai-nilai budaya kepada generasi penerus sebagai bagian dari proses reproduksi budaya yang berkelanjutan.


Iringan pawai semarakan 1 Muharam 1448 H

Dari perspektif antropologi budaya, tradisi pawai hasil bumi pada peringatan 1 Suro di Dusun Pagergunung dapat dipahami sebagai bentuk ritual agraris yang merepresentasikan hubungan simbiotis antara masyarakat dengan ekosistem pertanian di sekitarnya. Hasil bumi yang diarak bukan sekadar komoditas, melainkan simbol keberkahan dan rasa syukur atas karunia yang telah diberikan. Tradisi serupa juga ditemukan di berbagai wilayah Nusantara, seperti di Lereng Gunung Semeru dengan tradisi Grebeg Suro yang mengarak gunungan hasil bumi sebagai bentuk syukur atas hasil pertanian dan air yang melimpah.

Iringan rombongan sang saka

Kota Batu, yang terletak pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut dengan suhu rata-rata 21,5 derajat Celsius, memiliki potensi agraris yang melimpah. Kekayaan alam ini menjadi fondasi utama bagi berkembangnya tradisi-tradisi agraris seperti pawai hasil bumi yang digelar di Dusun Pagergunung. Tradisi ini sekaligus menjadi penguat identitas kultural Kota Batu sebagai destinasi yang tidak hanya menawarkan wisata artifisial, tetapi juga wisata budaya yang autentik dan berbasis kearifan lokal.


Penyelenggaraan pawai 1 Muharam di Dusun Pagergunung juga memiliki dimensi strategis dalam pengembangan pariwisata budaya di Kota Batu. Sebagaimana disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu sebelumnya, desa-desa di Kota Batu memiliki potensi besar yang dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis budaya. Dusun Pagergunung, dengan pemandangan pegunungan yang indah serta potensi pertanian tanaman hias dan buah jeruk, memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang mencari pengalaman berbeda.

Momen kemeriahan warga 

Keberlanjutan tradisi ini menjadi indikator penting bagi resilensi budaya masyarakat Dusun Pagergunung dalam menghadapi arus globalisasi. Dengan melibatkan generasi muda dalam setiap perhelatan, proses enkulturasi berjalan secara organik, memastikan bahwa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam tradisi Suro'an tidak tergerus oleh waktu. Semangat gotong royong dan kebersamaan yang terpancar dalam pawai ini merupakan modal sosial yang tak ternilai bagi penguatan kohesivitas masyarakat.

Menikmati aneka sajian hasil bumi dalam kebersamaan

Pawai 1 Muharam 1448 H di Dusun Pagergunung bukanlah sekadar perayaan tahun baru, melainkan sebuah deklarasi budaya bahwa di tengah kemajuan zaman, masyarakat Kota Batu tetap berkomitmen untuk merawat, menjaga, dan mewariskan kekayaan budaya leluhur. Tradisi ini adalah cermin jati diri bangsa yang harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan arus modernitas. Dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur yang tulus, masyarakat Dusun Pagergunung telah membuktikan bahwa tradisi dan modernitas dapat berjalan beriringan dalam harmoni.

Kontributor : Agus

Editor Tim EDUKASI-R I 


Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2

Labels

EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts