Fenomena Okupansi Mikutopia saat May Day 2026, Disnaker Batu Formulasikan Apresiasi
![]() |
| Mikutopia pada May Day |
KOTA BATU – Fenomena okupansi massal menyelimuti kawasan wisata Mikutopia pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day, Jumat (1/5/2026) pagi. Ratusan, bahkan diprediksi mencapai ribuan pengunjung yang mayoritas merupakan tenaga kerja sektor informal dan formal dari berbagai wilayah di Jawa Timur, khususnya Kota Batu, memadati setiap sudut destinasi rekreasional tersebut. Momentum reflektif ini tak hanya menjadi ajang rekreasi, namun juga ruang dialog substantif mengenai dinamika hubungan industrial dan distribusi upah berbasis zonasi di daerah penyangga Malang Raya.
Panji, selaku Operational Manager yang mewakili manajemen Mikutopia, mengonfirmasi adanya puluhan pekerja lokal yang telah terlibat dalam rantai operasional destinasi wisata selama beberapa bulan terakhir. Menurutnya, struktur upah yang diberikan telah sesuai dengan standar upah minimum sektoral (UMS) maupun regulasi yang mengatur tentang kesejahteraan pekerja di lingkungan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kota Batu.
“Kami mengakomodasi tenaga kerja lokal dengan sistem penggajian yang merujuk pada rekomendasi Dinas Koperasi dan UMKM setempat. Meski belum mencapai nilai upah minimum kabupaten (UMK) secara penuh karena karakteristik usaha, kami berkomitmen pada aspek ekuitas sosial melalui bonus produktivitas,” ujar Panji.
Data empiris menunjukkan bahwa sektor pariwisata di Kota Batu memang memiliki elastisitas ketenagakerjaan yang tinggi, namun masih menghadapi tantangan dalam standardisasi kompensasi lintas skala usaha.
![]() |
| Momen petugas biang Lala, Awang dan Miko saat bersama pengunjung |
Sementara itu, seorang pegawai yang bertugas di wahana Biang Lala, Awang Bayu Wicaksono menyampaikan bahwa dirinya mendapatkan gaji sesuai UMR Kota Batu, dan harapannya ke depan ada peningkatan kesejahteraan bagi seluruh pekerja pariwisata. Ia mengakui bahwa upah layak sangat membantu kebutuhan hidup sehari-hari, terutama di tengah naiknya harga bahan pokok.
Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara manajemen objek wisata, pemerintah daerah, dan serikat pekerja perlu diintensifkan untuk menciptakan ekosistem ketenagakerjaan yang adaptif terhadap fluktuasi kunjungan wisatawan. Selain itu dengan adanya skema work-life balance terintegrasi, mengingat sektor pariwisata dikenal memiliki beban kerja yang tinggi pada peak season.
![]() |
| Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batu |
Ditempat terpisah, M.Furkan, selaku kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batu, juga mengapresiasi inisiatif Mikutopia yang telah menyerap puluhan tenaga kerja lokal. Menurutnya, hal ini menunjukkan adanya multiplier effect dari sektor pariwisata terhadap ketenagakerjaan subsisten. Namun, ia mengingatkan bahwa perlu dilakukan evaluasi berkala terhadap kepatuhan pemberian hak-hak dasar seperti cuti, jaminan sosial, dan keselamatan kerja.
“Kami akan melakukan inspeksi mendadak (sudden audit) secara random sampling untuk memastikan tidak ada eksploitasi terselubung di balik gemerlap destinasi wisata. Prinsip tripartit plus (pemerintah, pengusaha, pekerja, dan akademisi) harus dijalankan secara substansial,” Tuturnya kepada EDUKASI-RI.
Fenomena padatnya Mikutopia saat Hari Buruh tahun ini juga menjadi indikator adanya pergeseran paradigma perayaan May Day dari aksi demonstrasi monolitik menuju ruang dialog yang lebih cair dan rekreatif. Sejumlah sosiolog tenaga kerja menilai bahwa tren ini positif selama tidak mengaburkan tuntutan struktural seperti kenaikan upah dan kepastian kerja.
![]() |
| Suasana pengunjung pada May Day 2026 |
Panji, Operational Manager Mikutopia, mengaku pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Disnaker dan Dinas Pariwisata untuk menyediakan ruang ekspresi buruh yang aman sekaligus menghibur.
“Ke depan, kami ingin Mikutopia menjadi model kawasan wisata yang ramah pekerja, di mana hak-hak karyawan terpenuhi tanpa meninggalkan esensi bisnis yang berkelanjutan (sustainable tourism),” pungkasnya.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I




