Kota Batu Dorong Posyandu Disabilitas dan Program Kemandirian Inklusif
Kota Batu – Upaya mewujudkan kota ramah disabilitas semakin konkret melalui forum diskusi terpadu lintas sektor yang digelar di Rumah Inklusi, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Sabtu (28/3/2026). Pertemuan ini menjadi titik awal perumusan strategi pemberdayaan berbasis pendekatan holistik yang menitikberatkan pada kemandirian, peningkatan kualitas hidup, serta integrasi sosial penyandang disabilitas.
Diskusi tersebut menghadirkan unsur strategis, mulai dari tenaga medis, pemerintah daerah, hingga lembaga pemberdayaan masyarakat. Hadir di antaranya Dokter Kepala RS Karsa Husada Batu Dr. Ferdinandus S. Kakiay, perwakilan Dinas Sosial Kota Batu, perwakilan Camat Batu Joko Utomo, Camat Bumiaji Thomas Maydo, Ketua Rumah Inklusi Ariyati, serta manajemen Berkah Rangkul.
Forum ini menghasilkan kesepakatan penting berupa pergeseran paradigma kebijakan, dari pendekatan karitatif menuju pendekatan pemberdayaan berbasis human capital development. Artinya, intervensi tidak lagi sekadar berupa bantuan fisik, tetapi diarahkan pada peningkatan kapasitas individu agar mampu hidup mandiri, produktif, dan berdaya saing.
“Fokus utama bukan sekadar bantuan alat, tetapi bagaimana membekali kemampuan adaptif agar mereka dapat menjalani kehidupan secara mandiri dan bermartabat,” menjadi salah satu kesimpulan utama diskusi.
![]() |
| Suasana diskusi |
Program yang dirancang bersifat integratif dan berkelanjutan, mencakup sektor ekonomi melalui Job Center, pelatihan keterampilan vokasional, penguatan kapasitas personal, serta layanan kesehatan inklusif. Dalam konteks kesehatan, pemerintah merencanakan implementasi sistem fast-track bagi penyandang disabilitas di fasilitas layanan kesehatan, guna menjamin akses yang setara dan tanpa diskriminasi.
Pendekatan yang digunakan juga bersifat individualistik atau person-by-person, dengan penunjukan koordinator khusus untuk memastikan sinkronisasi lintas sektor. Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa setiap individu disabilitas memiliki karakteristik dan kebutuhan yang unik, sehingga memerlukan intervensi yang spesifik dan terukur.
Selain itu, penguatan peran keluarga menjadi perhatian utama. Pendekatan psikososial menempatkan orang tua sebagai aktor kunci dalam membangun resiliensi mental dan kepercayaan diri anak. Evaluasi terhadap program seperti Posyandu menunjukkan perlunya transformasi fungsi, dari sekadar layanan kesehatan dasar menjadi wahana edukasi mental dan sosial.
Dalam pemaparannya, Dr. Ferdinandus S. Kakiay menegaskan bahwa penyandang disabilitas memiliki hak konstitusional yang sama sebagai warga negara. Rumah sakit, menurutnya, harus berperan sebagai institusi pembina yang tidak hanya memberikan layanan medis, tetapi juga mendukung kesiapan mental dan keterampilan agar individu disabilitas dapat terserap di dunia kerja tanpa stigma.
![]() |
| Ketua Rumah Inklusi Kota Batu |
Sementara itu, Ariyati menyoroti urgensi deteksi dini dan skrining komprehensif terhadap berbagai kondisi disabilitas seperti tuna rungu, tuna daksa, hingga autisme. Ia juga mengungkapkan masih adanya hambatan kultural berupa stigma keluarga yang berdampak pada keterlambatan penanganan.
Sebagai solusi, direncanakan layanan home care bagi penyandang disabilitas dengan keterbatasan mobilitas, serta pengajuan bantuan alat bantu ke Kementerian Sosial bagi puluhan anggota Rumah Inklusi. Dukungan juga datang dari Dinas Sosial melalui penyediaan Mobil Inklusi guna meningkatkan aksesibilitas layanan.
Dari sisi ekonomi, Thomas Maydo menekankan pentingnya pemberdayaan berbasis keterampilan produktif. Pelatihan yang disiapkan meliputi sektor kuliner, kerajinan tangan, hingga batik sebagai produk unggulan lokal. Program ini tidak hanya berorientasi pada aktivitas, tetapi juga pada penciptaan ekosistem ekonomi inklusif yang berkelanjutan.
Perwakilan Dinas Sosial, Mustakim, mengapresiasi sinergi lintas sektor tersebut dan berharap program ini mendapat dukungan penuh dari Wali Kota Batu Nur Rochman Helly dalam rangka mewujudkan visi kota inklusif.
Sebagai tindak lanjut, hasil diskusi ini akan diajukan kepada pemerintah kota untuk peresmian Posyandu Disabilitas pertama di Kota Batu. Program ini diharapkan menjadi model integrasi layanan kesehatan, sosial, dan ekonomi berbasis inklusivitas.
Dengan pendekatan multidisipliner dan kolaboratif ini, Kota Batu menegaskan komitmennya untuk menjadi pionir dalam pembangunan inklusif di Jawa Timur, sekaligus menciptakan sistem sosial yang adil, adaptif, dan berkelanjutan bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I

.jpg)

