Long March Untuk Gaza Serukan Perlindungan dan Akhir Pendudukan
BERLIN, JERMAN. Langit kelabu musim dingin di Berlin, Selasa (16 Desember 2025) malam, tak menyurutkan langkah ribuan warga yang memadati jalan-jalan ibukota Jerman. Aksi long march atau jalan kaki panjang yang berbeda dari biasanya menyita perhatian: puluhan keluarga dengan anak-anak, dari balita hingga remaja, turut serta, membawa spanduk dan pesan-pesan haru untuk Gaza. Mereka berjalan beriringan, bukan hanya sebagai aktivis, tetapi sebagai ayah, ibu, dan anak-anak yang hatinya tersentuh oleh penderitaan yang terjadi ribuan kilometer jauhnya.
Aksi ini, menurut pengamatan di lokasi dan seperti dilaporkan oleh sejumlah media, digelar sebagai bentuk solidaritas mendesak terhadap warga Gaza. Sorakan dan yel-yel yang biasa terdengar dalam unjuk rasa berganti dengan dialog antara orang tua dan anak, serta poster berwarna-warni buatan tangan anak-anak yang bertuliskan “Stop the War” dan “Protect Gaza’s Children”.
“Saya membawa anak-anak saya hari ini karena ini tentang kemanusiaan. Mereka harus tahu bahwa hak untuk hidup dan aman berlaku untuk semua anak di dunia, termasuk di Gaza,” ujar Sarah, seorang ibu dua anak asal Berlin yang enggan menyebut nama lengkapnya, sambil memegang erat tangan anak perempuannya yang masih kecil.
Aksi long march ini merupakan bagian dari gelombang solidaritas global yang terus menguat sejak eskalasi terbaru di Gaza. Peserta long march tidak hanya menyerukan gencatan senjata segera, tetapi juga tekanan politik yang lebih keras dari pemerintah Jerman dan Uni Eropa untuk menghentikan apa yang mereka sebut sebagai “pendudukan dan blokade ilegal” yang berlarut-larut. Tuntutan inti mereka adalah perlindungan menyeluruh bagi warga sipil Gaza dan penghentian penderitaan rakyat Palestina.
“Ini bukan konflik yang setara. Ini tentang manusia yang terjebak, tanpa tempat yang aman untuk lari. Dunia harus bertindak sekarang,” kata salah satu koordinator aksi yang berbicara di depan kerumunan, suaranya terbata-bata diterpa angin dingin.
Kehadiran keluarga dan anak-anak dalam unjuk rasa politik di Jerman menjadi poin penting. Hal ini menunjukkan bagaimana isu Gaza telah menembus ruang domestik, mendorong percakapan lintas generasi tentang hak asasi manusia, keadilan, dan tanggung jawab global. Psikolog anak, Dr. Lena Meyer, yang diwawancarai terpisah, menyatakan, “Ketika anak-anak diajak dalam aksi damai seperti ini, mereka belajar tentang empati dan kepedulian terhadap sesama. Penting bagi orang tua untuk menjelaskan konteksnya dengan bahasa yang sesuai usia.”
Pemerintah Jerman sendiri, di bawah Kanselir Olaf Scholz, memiliki posisi resmi yang kompleks, mengakui hak Israel untuk membela diri namun juga menyerukan kepatuhan pada hukum humaniter internasional. Aksi-aksi sipil seperti long march ini kerap mengecam apa yang mereka anggap sebagai “kebijakan ambigu” yang tidak cukup melindungi nyawa warga sipil Palestina.
Aksi berjalan dengan tertib dan damai, diawasi ketat oleh polisi setempat. Tidak ada insiden yang dilaporkan. Rute long march membentang dari kawasan simbolis seperti dekat Gedung Bundestag, menyampaikan pesan bahwa suara rakyat harus didengar oleh para pembuat kebijakan.
Saat matahari musim dingin mulai tenggelam, para peserta berkumpul di titik akhir. Lagu-lagu perdamaian dan puisi dibacakan. Seorang anak lelaki berusia sekitar sepuluh tahun berdiri di atas panggung darurat, membacakan daftar nama-nama anak Gaza yang menjadi korban. Suara kecilnya yang lantang di tengah heningnya kerumunan meninggalkan kesan mendalam: solidaritas untuk Gaza telah melampaui retorika politik, menyentuh naluri paling dasar sebagai manusia untuk melindungi yang lemah.
Sebagaimana dilaporkan oleh sumber-sumber lokal, aksi ini menjadi bukti bahwa isu Palestina tetap menjadi luka moral bagi banyak warga dunia, yang kini disuarakan oleh generasi muda dan tua, bersama-sama, di jantung Eropa.
Kontributor : Ind Winarmi
Editor : Tim EDUKASI-R I


