Instansi dan Ormas di Kota Batu Bagikan Ribuan Takjil, Wali Kota Apresiasi Kolaborasi Sosial Multisektor
KOTA BATU - Semangat kebersamaan dan solidaritas sosial mewarnai pembagian takjil yang digelar di Jl. Sultan Agung, Kota Batu, pada Minggu (1/3/2026). Kegiatan yang diinisiasi oleh kolaborasi lintas instansi, organisasi kemasyarakatan (ormas), dan penggiat seni budaya ini dengan tema Merajut Kasih Dengan Berbagi Takjil dibulan Suci Ramadhan Bersama Ormas Kota Batu, semakin semarak dengan kehadiran Ibu Wali Kota Batu beserta rombongan. Momen berbagi di bulan suci ini tidak hanya menjadi ritual keagamaan semata, tetapi juga menjelma menjadi simpul integrasi sosial yang merekatkan heterogenitas elemen masyarakat.
Kehadiran kepala daerah beserta jajaran dalam agenda berbagi takjil ini mengonfirmasi tingginya perhatian pemerintah terhadap partisipasi publik dalam harmoni sosial. Interaksi langsung antara pemangku kebijakan dengan warga dalam situasi informal seperti ini menjadi ruang dialektika yang efektif untuk menyerap aspirasi sekaligus membangun kedekatan emosional. Hal ini sejalan dengan teori modal sosial yang menekankan pentingnya jejaring dan rasa saling percaya dalam pembangunan komunitas yang resilien.
![]() |
| Veteran, PPM , Brantas saat setelah kegiatan usai |
Sholikin, yang juga menjabat sebagai Ketua PPM dan bertindak selaku ketua pelaksana kegiatan, mengungkapkan bahwa inisiatif berbagi yang memasuki edisi kedua ini mendapat respons positif dan apresiasi langsung dari Ibu Wali Kota Batu.
"Respon Ibu Wali Kota ( Siti Fauziah ) sangat positif. Beliau mengapresiasi sinergitas antar elemen yang mampu menciptakan momentum kebersamaan seperti ini. Ini membuktikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, ormas, dan seniman mampu menghasilkan dampak sosial yang signifikan," ujar Sholikin di sela-sela kegiatan.
Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/batik-kamulyan-bulukerto-integrasi.html
Dalam kegiatan yang berlangsung sejak sore hari tersebut, panitia membagikan 2177 paket takjil kepada para pengendara dan masyarakat yang melintas. Distribusi pangan siap santap untuk berbuka puasa ini tidak hanya bersifat karitatif, tetapi juga memiliki dimensi edukatif dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya berbagi di tengah disparitas ekonomi perkotaan.
![]() |
| Ketua PPM bersama Dekranasda Batu |
Lebih lanjut, Sholikin memaparkan bahwa agenda ini direncanakan sebagai program berkelanjutan yang tidak hanya berhenti pada pembagian takjil. Visi jangka panjang yang diusung adalah mentransformasi kegiatan insidental menjadi gerakan sosial terstruktur yang mampu menjawab problematika urban.
"Harapan ke depannya, kita bisa memperluas jangkauan manfaat. Tidak hanya saat Ramadhan, tapi juga pada momen-momen lain. Kita ingin membangun ekosistem sosial yang kuat, di mana instansi, ormas, dan pelaku seni menjadi garda terdepan dalam penguatan ketahanan sosial masyarakat Kota Batu," imbuhnya.
![]() |
| Momen bagi takjil |
Pernyataan ini menegaskan adanya pergeseran paradigma dari filantropi tradisional menuju pemberdayaan masyarakat yang lebih progresif dan berkelanjutan.
Sementara itu, Siti Fauziah, Ketua Dekranasda sekaligus TP PKK Kota Batu, turut mengutarakan pandangannya mengenai sinergi antara sektor ekonomi kreatif dengan kegiatan sosial keagamaan. Menurutnya, momen seperti ini adalah medium strategis untuk mempromosikan kearifan lokal sekaligus memberdayakan pelaku usaha mikro.
"Kehadiran pengrajin dan pelaku UMKM binaan Dekranasda diharapkan nantinya bisa berkolaborasi lebih jauh. Kami membayangkan ke depan, takjil yang dibagikan bisa menggunakan kemasan tradisional atau produk lokal lainnya. Ini adalah bentuk integrasi antara tradisi berbagi dengan penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya," terang Siti Fauziah. Kepada EDUKASI-RI
![]() |
| Momen Dekranasda, TP PKK Batu dalam berikan Sambutan |
Perspektif ini menunjukkan adanya upaya kontekstualisasi antara nilai-nilai tradisional dengan pengembangan kapital ekonomi masyarakat. Pendekatan multidimensional seperti ini dinilai lebih adaptif terhadap dinamika sosial ekonomi kontemporer.
Titik temu antara aparat penegak hukum dengan kegiatan sosial kemasyarakatan juga terlihat dalam acara ini. Pihak Kejaksaan Negeri Batu yang turut hadir menegaskan komitmennya dalam mendukung program-program yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
Dari pihak Kejaksaan Negeri Batu, disampaikan bahwa kehadiran institusi hukum dalam kegiatan sosial memiliki makna simbolik yang kuat. Hal ini merepresentasikan bahwa penegakan hukum tidak selalu identik dengan represi, tetapi juga hadir dalam wajah humanis sebagai bagian dari pelayanan publik.
"Kami mendukung penuh kegiatan kolaboratif seperti ini. Ke depan, kami berharap sinergi antara Kejaksaan dengan elemen masyarakat tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menyentuh aspek penyuluhan hukum dan pendampingan legal bagi komunitas. Ini penting untuk membangun kesadaran hukum yang berkeadaban," tutur Kasi Intel Kejari Batu Wisnu Sanjaya.
Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/tak-sekadar-takjil-mi-bustanul-ulum.html
Camat Batu yang diwakili Sekretarisnya juga mengapresiasi kegiatan bagi takjil ini dan kedepannya semoga menjadi agenda tahunan yang senantiasa ada di sepanjang jalan Sultan Agung, dan terimakasih kepada Putra Panca Marga Kota Batu sehingga kegiatan Mukti sektoral ini terlaksana dengan baik." Ungkapnya.
Puncak kemeriahan acara semakin terasa dengan kehadiran penggiat seni Sanduk dari Labuni Batu. Kelompok seni yang membawakan tradisi tarian dengan pendekatan kontemporer ini berhasil menghadirkan nuansa berbeda di tengah antrean pembagian takjil.
![]() |
| Momen bersama, Camat Bumiaji, Dekranasda, Disabilitas, Veteran,Piveri |
Thomas Maydo, selaku pembina Labuni Batu,tokoh seni budaya, sekaligus Camat Bumiaji, menjelaskan bahwa partisipasi komunitas seni dalam kegiatan sosial merupakan bentuk aktualisasi peran seniman sebagai agen perubahan.
"Seni Sanduk bukan sekadar hiburan, tapi medium komunikasi sosial yang efektif. Kami dengan iringan musik tradisional dan modern mengandung nilai-nilai kebajikan, kritik sosial yang membangun, sekaligus ajakan untuk memperkuat solidaritas. Ini adalah implementasi dari fungsi seni sebagai instrumen pembangunan karakter bangsa," jelas Thomas dengan penuh antusias.
Kehadiran elemen seni dalam kegiatan pembagian takjil ini menjadi bukti bahwa ruang publik dapat difungsikan sebagai arena ekspresi budaya yang edukatif. Interseksi antara ritual keagamaan, aksi sosial, dan ekspresi artistik menciptakan sintesis budaya yang memperkaya khazanah lokal Kota Batu.
Secara makro, kegiatan kolaboratif ini merefleksikan maturitas civil society di Kota Batu yang mampu mengorganisir diri dalam aksi kolektif bernuansa kebangsaan. Sinergitas antara institusi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan komunitas seni menjadi prototipe ideal pembangunan partisipatoris yang mengedepankan gotong royong sebagai modal utama pembangunan.
Dengan mengusung nilai-nilai inklusivitas dan keberlanjutan, kegiatan berbagi takjil di Jl. Sultan Agung ini diharapkan dapat menginspirasi lahirnya inisiatif-inisiatif serupa yang tidak hanya berorientasi pada distribusi materi, tetapi juga pada penguatan kohesi sosial dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal di tengah arus modernitas yang semakin kompleks.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Dekranasda ,Veteran,Piveri,PPM, Kejaksaan Negeri Batu, Koramil, Kecamatan Batu, Kecamatan Junrejo, Kecamatan Bumiaji, KNPI, Gema MKGR, LABUNI, Disabilitas, Brantas, KPU.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I








