Pawai Budaya Selamatan Desa Beji ke-148 Meriah, Tradisi dan Ekonomi Warga Menggeliat
KOTA BATU – Pemerintah Desa (Pemdes) Beji, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, menggelar Pawai Budaya sebagai puncak rangkaian Selamatan Desa Beji ke-148, Sabtu (8/8/2026). Perhelatan budaya yang berlangsung semarak tersebut menjadi ruang ekspresi masyarakat sekaligus medium pelestarian tradisi dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Ribuan warga dan wisatawan tampak antusias menyaksikan iring-iringan peserta yang menampilkan beragam kesenian, kreativitas, serta potensi budaya lokal. Pawai yang digelar setiap dua tahun sekali ini juga menjadi momentum reflektif bagi masyarakat untuk memanjatkan rasa syukur sekaligus memperkuat kohesi sosial antar warga.
Kepala Desa Beji, Deny Cahyono, mengatakan Selamatan Desa merupakan bagian penting dari tradisi masyarakat yang terus dipertahankan secara turun-temurun. Menurutnya, keberlangsungan kegiatan tersebut tidak terlepas dari partisipasi aktif masyarakat.
![]() |
| Momen Kepala Desa Beji , bersama warga |
“Ini adalah rangkaian kegiatan Selamatan Desa Beji tahun 2026. Melalui pawai budaya ini, kami ingin mengangkat potensi seni dan tradisi yang ada di desa, sekaligus mempererat semangat guyub rukun dan swadaya masyarakat,” kata Deny.
Pawai budaya tahun ini melibatkan kontingen dari tiga dusun, yakni Dusun Karang Jambe, Dusun Jambe Rejo, dan Dusun Krajan.
Partisipasi masyarakat juga terorganisasi melalui enam Rukun Warga (RW) dan 24 Rukun Tetangga (RT). Keterlibatan lintas generasi membuat pawai tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi juga menjadi ruang partisipasi sosial yang memperlihatkan kuatnya modal sosial masyarakat Desa Beji.
Anak-anak, pemuda, hingga masyarakat dewasa tampil dengan beragam atraksi dan kreasi budaya. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa regenerasi pelaku seni dan pewarisan nilai-nilai tradisional masih berjalan di tengah dinamika kehidupan masyarakat perkotaan.
![]() |
| Sesi foto bersama salah satu peserta pawai |
Semarak acara turut diperkuat oleh keterlibatan sektor swasta dan pelaku usaha lokal. Sejumlah perusahaan dan penyedia jasa pariwisata, di antaranya Jatim Park 3 dan Hotel Singhasari, serta pelaku usaha kuliner, ikut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.
Pawai budaya tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Kota Batu dari Fraksi Gerindra, Agung, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu Onny Ardianto, Camat Junrejo Parman, Kepala Desa Beji Deny Cahyono beserta jajaran Pemerintah Desa Beji.
Kehadiran unsur pemerintah dan legislatif tersebut memperlihatkan adanya sinergi kelembagaan dalam mendorong pengembangan kebudayaan yang bertumpu pada partisipasi masyarakat.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu, Onny Ardianto, mengapresiasi tingginya keterlibatan warga dalam pawai budaya tersebut.
Menurut Onny, dominasi masyarakat lokal sebagai penampil menjadi indikator bahwa kesadaran kolektif untuk mempertahankan identitas budaya masih relatif kuat.
![]() |
| Kepala Dinas Pariwisata Batu, Onny Ardianto |
“Melihat antusiasme masyarakat ini sungguh luar biasa. Mayoritas penampil dan partisipan murni berasal dari warga sekitar Desa Beji. Hal ini membuktikan bahwa semangat gotong royong dalam merawat budaya lokal masih sangat terjaga,” ujarnya.
Selain aspek kebudayaan, Onny melihat Pawai Budaya Desa Beji memiliki dimensi ekonomi yang cukup strategis.
Kehadiran lapak-lapak UMKM di sekitar lokasi kegiatan memberikan ruang bagi masyarakat untuk memasarkan produk sekaligus memperoleh manfaat ekonomi secara langsung dari meningkatnya aktivitas pengunjung.
Menurutnya, pengembangan kegiatan budaya dapat diarahkan menjadi bagian dari ekosistem pariwisata berbasis masyarakat. Konsep tersebut memungkinkan kebudayaan tidak hanya diposisikan sebagai warisan sosial, tetapi juga sebagai aset ekonomi kreatif yang mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat.
Dinas Pariwisata Kota Batu pun berencana memberikan dukungan lebih konkret terhadap kegiatan tersebut. Salah satunya dengan mendorong Pawai Budaya Desa Beji masuk dalam kalender resmi pariwisata Kota Batu pada tahun mendatang.
Dukungan pemerintah nantinya tidak hanya berkaitan dengan aspek penganggaran, tetapi juga promosi terpadu agar potensi budaya Desa Beji memiliki jangkauan publikasi yang lebih luas.
![]() |
| Antusias peserta pawai |
“Harapannya, selain memperkenalkan dan melestarikan budaya Kota Batu kepada khalayak luas, kegiatan ini juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat sekitar secara berkelanjutan,” tutur Onny.
Dengan keterlibatan pemerintah desa, masyarakat, legislatif, pemerintah daerah, sektor swasta, serta pelaku UMKM, Selamatan Desa Beji ke-148 menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pembangunan ekonomi lokal.
Pawai budaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa tradisi yang dikelola secara partisipatif memiliki potensi menjadi instrumen penguatan identitas daerah, kohesi sosial, sekaligus daya ungkit bagi pengembangan pariwisata berbasis komunitas di Kota Batu
.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-RI









