Menjaga Identitas Budaya Dalam Satu Abad Merti Bumi Tulungrejo
Batu — Ribuan warga Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, memadati sejumlah ruas jalan desa dalam Karnaval Budaya Merti Bumi, Rabu (5/8/2026). Perhelatan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-100 Desa Tulungrejo sekaligus momentum menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Karnaval tidak hanya menghadirkan kemeriahan melalui beragam pertunjukan seni, tetapi juga merefleksikan keberlanjutan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat selama satu abad. Di tengah akselerasi teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat, Merti Bumi menjadi medium untuk memperkuat identitas kolektif sekaligus mempertahankan kohesi sosial masyarakat desa.
![]() |
| Para penggiat budaya di Desa Tulungrejo |
Mengangkat tema “Luhuring Rasa Wilasitaning Gusti”, kegiatan tersebut sarat dengan nilai filosofis. Ungkapan Jawa itu merepresentasikan sikap luhur berupa rasa syukur, penghormatan terhadap kehidupan, serta kesadaran bahwa keberlimpahan yang diperoleh masyarakat tidak terlepas dari kehendak Tuhan.
Nilai tersebut memiliki relevansi kuat dengan karakter masyarakat agraris Tulungrejo yang secara historis memiliki hubungan erat dengan lingkungan alam. Tradisi Merti Bumi pada akhirnya tidak hanya berfungsi sebagai ritual budaya, tetapi juga menjadi instrumen sosial untuk mentransmisikan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi berikutnya.
![]() |
| Kepala Desa Tulungrejo, Suliono bersama Istri |
Kepala Desa Tulungrejo, Suliono, mengapresiasi keterlibatan masyarakat dalam peringatan satu abad desa tersebut. Menurutnya, antusiasme warga menjadi representasi nyata dari semangat kebersamaan yang terus dipelihara dari generasi ke generasi.
Keterlibatan masyarakat terlihat hampir di seluruh unsur kewilayahan. Jajaran dusun, RW, lembaga adat, Karang Taruna, Tim Penggerak PKK hingga Linmas Wanita turut ambil bagian dalam karnaval. Mereka menampilkan berbagai bentuk ekspresi budaya, mulai dari mobil hias, tari kreasi, drumband anak-anak TK, Sanduk, hingga beragam busana tradisional Nusantara.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan di tingkat lokal masih memiliki daya kohesif yang kuat. Partisipasi lintas kelompok masyarakat menjadikan karnaval bukan semata-mata tontonan, melainkan ruang interaksi sosial yang mempertemukan berbagai generasi dalam satu perayaan bersama.
Salah satu penampilan yang menarik perhatian masyarakat datang dari anggota DPRD Kota Batu, Khamim Tohari, S.Sos. Ia tampil dengan konsep visual bernuansa kerajaan dan didampingi pasukan berkuda. Penampilan tersebut menjadi salah satu daya tarik dalam rangkaian karnaval yang berlangsung meriah.
![]() |
| Khamim Tohari |
Khamim Tohari yang dikenal turut aktif dalam pelestarian budaya di Dusun Gondang menilai tradisi Merti Bumi merupakan bagian dari identitas suatu wilayah yang harus terus diwariskan.
Menurutnya, pelestarian budaya perlu dikemas dengan pendekatan yang mampu menjangkau generasi muda, terutama kelompok milenial dan Gen Z yang tumbuh dalam ekosistem digital.
“Ini merupakan tanda atau identitas suatu wilayah. Ke depan, kami akan terus menyuguhkan budaya-budaya yang wajib diketahui bagi anak-anak milenial dan Gen Z. Memberikan tontonan yang bisa menjadi tuntunan bagi anak-anak zaman digitalisasi saat ini,” ujarnya.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pelestarian tradisi membutuhkan proses adaptasi. Kebudayaan tidak harus ditempatkan sebagai artefak masa lalu, tetapi dapat kontekstualisasi dengan perkembangan zaman sehingga tetap memiliki relevansi sosial bagi generasi muda.
Karnaval Merti Bumi juga memberikan dampak terhadap mobilitas masyarakat. Dengan melibatkan lebih dari 25 unit sound horeg, pemerintah desa melakukan pengaturan arus kendaraan dan mengimbau warga maupun wisatawan menggunakan jalur alternatif untuk mengurangi kepadatan di ruas utama Bumiaji–Tulungrejo.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga datang dari pengelola destinasi wisata Mikutopia yang memilih menutup sementara operasionalnya pada hari pelaksanaan karnaval. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap kelancaran kegiatan budaya sekaligus pengelolaan mobilitas masyarakat.
Terlepas dari rekayasa lalu lintas dan kepadatan kendaraan, antusiasme masyarakat tetap tinggi. Warga dari berbagai kelompok usia memenuhi jalur karnaval untuk menyaksikan kreativitas peserta sekaligus merasakan atmosfer perayaan satu abad Desa Tulungrejo.
Momentum tersebut memperlihatkan adanya resiliensi budaya, yakni kemampuan masyarakat mempertahankan nilai dan identitas lokal di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.
Dengan semangat “Berakar Kuat, Melesat, Mendunia,” peringatan satu abad Desa Tulungrejo menjadi refleksi perjalanan masyarakat dalam menjaga warisan leluhur sekaligus membuka ruang bagi transformasi menuju masa depan.
Merti Bumi akhirnya tidak berhenti sebagai perayaan seremonial. Ia berkembang menjadi ruang artikulasi budaya, pendidikan sosial, penguatan solidaritas, sekaligus sarana regenerasi nilai-nilai lokal. Di tengah era disrupsi dan digitalisasi, Tulungrejo menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar tradisi, tetapi justru dapat menjadikan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan masyarakat yang berkarakter.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-RI










