Tradisi Murak Berkat Bumiaji, Harmoni Syukur dan Konservasi Budaya di Lereng Arjuna
BATU – Gemuruh langkah kaki dan alunan doa menyatu dalam balutan senja di Gelora Arjuna, Desa Bumiaji, Sabtu (27/6/2026). Ribuan warga memadati kawasan tersebut untuk menyaksikan puncak rangkaian Selamatan Desa Bumiaji yang mengusung tema filosofis "Hametri Bumi Kang Aji" sebuah konsep bermakna "menyayangi bumi yang mulia".
Tradisi tahunan ini menampilkan atraksi utama berupa pawai atau arak-arakan gunungan hasil bumi yang dikemas dalam 12 tumpeng raksasa, masing-masing mewakili Rukun Warga (RW) di Desa Bumiaji. Sejumlah laporan bahkan menyebutkan bahwa total tumpeng yang diarak mencapai 15 buah, mencerminkan antusiasme luar biasa dari komunitas pedesaan setempat. Beragam komoditas pertanian mulai dari sayuran segar, buah-buahan, pala pendem (umbi-umbian), hingga jajanan pasar tradisional disusun secara estetis di atas kendaraan pikap, menciptakan mozaik visual yang merepresentasikan anugerah agraris Bumiaji.
![]() |
| Suasana murah tumpeng |
Kreativitas tanpa batas terpancar dari tumpeng perwakilan RW 09 yang dihias menyerupai sosok naga raksasa. Dalam kosmologi Jawa, naga dipercaya sebagai simbol pelindung bumi. "Struktur sisik dan tubuh naga yang memanfaatkan hasil bumi lokal ini adalah representasi visual dari rasa syukur atas anugerah rezeki yang melimpah," ujar Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto.
Gelaran ini semakin semarak dengan kehadiran Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, S.H., M.H., bersama Ketua Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (PERWOSI) Kota Batu serta rombongan. Dalam sambutannya yang kental dengan nuansa kearifan lokal, Heli Suyanto menyampaikan harapan mendalam bagi kemakmuran warga Bumiaji.
![]() |
| Wakil Wali Kota Batu, Heli Suyanto, S.H., M.H. |
"Mugi-mugi Bumiaji tata titi tentrem. Tandurane sae-sae, payune larang, utange lunas sedanten" (Semoga Bumiaji tertib, aman, dan sentosa. Tanamannya baik-baik, harga panennya tinggi, utangnya lunas semua), ucapnya dalam pidato yang langsung mengena di hati ribuan warga.
Lebih lanjut, orang nomor dua di Kota Batu itu menekankan dimensi spiritual dan sosial dari tradisi ini. "Selamatan Desa merupakan bentuk rasa syukur masyarakat sekaligus doa bersama agar hasil pertanian terus melimpah dan kehidupan warga semakin sejahtera," tegasnya. Ia berharap para petani Bumiaji tidak hanya diberi hasil panen melimpah, tetapi juga terbebas dari jeratan utang sebagai indikator fundamental kesejahteraan ekonomi.
Sementara itu, Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto, memaparkan esensi mendalam dari tradisi "Murak Berkat Hasil Bumi" yang telah mengakar kuat dalam kesadaran kolektif masyarakat. Menurutnya, filosofi utama dari ritual ini adalah sintesis antara syukur dan solidaritas sosial.
![]() |
| Kepala Desa Bumiaji, Edi Suyanto |
"Mayoritas warga kami hidup dari hasil pertanian. Saat kita merasa diberi kelebihan rezeki, kita wajib berbagi. Ada pengharapan besar di sana dengan saling berbagi dan menikmati hasil bumi bersama, semoga Desa Bumiaji ke depan benar-benar gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo," paparnya penuh optimisme.
Edi Suyanto juga menyoroti fenomenologi partisipasi masyarakat yang luar biasa, di mana beberapa RW bahkan membawa lebih dari satu tumpeng secara swadaya. Ia berharap tingginya antusiasme ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota Batu agar tradisi dapat dikemas menjadi agenda wisata tahunan yang berskala lebih besar, sekaligus menjadi wahana edukasi tentang ketahanan pangan dan konservasi budaya agraris.
![]() |
| Momen masyarakat desa Bumiaji saat proses arak arakan tumpeng |
Tradisi "Murak Berkat" bukanlah titik akhir, melainkan pembuka dari rangkaian ritual yang akan memuncak pada Jumat 3 Juli 2026 melalui prosesi Ider Dungo napak tilas ke sejumlah makam leluhur desa.
Kehadiran Wakil Wali Kota Heli Suyanto dalam acara ini juga menjadi sinyal kuat komitmen Pemerintah Kota Batu terhadap penguatan sektor pertanian sebagai pilar utama ketahanan pangan daerah. Tradisi Selamatan Desa Bumiaji tidak hanya menjadi pentas ekspresi budaya, tetapi juga ruang publik untuk memperkuat kohesi sosial dan modal sosial (social capital) di tengah gempuran modernisasi.
![]() |
| Saat masyarakat dalam Murak Berkat |
Dengan mengangkat nilai gotong royong, rasa syukur, serta penghormatan terhadap hasil bumi dan kerja keras para petani, tradisi ini dipastikan akan terus dijaga kelestariannya dari generasi ke generasi. Di sela hiruk-pikuk perebutan berkah, tampak jelas bahwa Bumiaji sedang membangun narasi besar tentang harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta sebuah narasi yang relevan tidak hanya bagi masa kini, tetapi juga bagi keberlanjutan peradaban di masa depan.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I





