Selamatan Desa Oro Oro Ombo ke-113, Warga Lestarikan Tradisi dan Kearifan Lokal
Kota Batu — Selamatan Desa Oro Oro Ombo ke-113 tahun 2026 berlangsung khidmat dengan mengangkat nilai kearifan lokal sebagai manifestasi pelestarian adat budaya bagi generasi mendatang. Kegiatan tersebut digelar di kediaman Kepala Desa Oro Oro Ombo, Senin (25/5/2026) pagi.
![]() |
| Ahmad Sholikhin |
Ketua Pelaksana Selamatan Desa, Ahmad Sholikhin, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan tahun ini dikemas dengan pendekatan budaya berbasis tradisi leluhur yang sarat nilai historis dan spiritualitas masyarakat agraris Jawa.
“Beberapa rangkaian kegiatan di antaranya tabur bunga di makam para sesepuh desa, macapat, kirim doa di Talang Kutukan, siraman seluruh perangkat desa, tayuban hingga pagelaran wayang kulit,” jelasnya.
Ia berharap agenda tahunan tersebut tidak sekadar menjadi seremoni budaya, namun juga mampu memperkuat kohesi sosial masyarakat sekaligus menjadi instrumen edukatif bagi generasi muda agar tetap memahami akar identitas budaya lokal di tengah arus modernisasi.
![]() |
| Wiweko Kepala Desa Oro Oro Ombo |
Sementara itu, Kepala Desa Oro Oro Ombo, Wiweko, menuturkan bahwa selamatan desa tahun ini lebih memprioritaskan upaya konservasi adat budaya lokal yang terus berdampingan dengan perkembangan zaman.
“Pada prosesi tabur bunga, kami mengunjungi makam leluhur di beberapa dusun sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para pendahulu. Kemudian ada macapat yang berisi tembang doa dan petuah kehidupan,” ujarnya.
![]() |
| Suasana Macapat |
Usai prosesi tersebut, seluruh peserta bersama-sama menuju sumber mata air yang dahulu menjadi jalur saluran air buatan para sesepuh desa dari kawasan pegunungan untuk dimanfaatkan masyarakat Oro Oro Ombo. Lokasi itu dikenal dengan sebutan Talang Kutukan.
“Ritual doa di Talang Kutukan menjadi simbol penghormatan terhadap warisan ekologis dan sistem pengelolaan sumber daya air yang telah dibangun leluhur,” tambah Wiweko.
![]() |
| Saat pelaksanaan Macapat |
Ia menjelaskan, dalam sesi siraman, seluruh perangkat desa menyiramkan air ke empat penjuru mata angin yang memiliki makna filosofis berupa harapan kemakmuran, ketenteraman, serta harmonisasi sosial bagi seluruh warga desa.
“Harapannya tradisi ini tetap lestari dan mampu diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Desa Oro Oro Ombo,” katanya.
![]() |
| Salah satu pelestari Macapat, Oca |
Menariknya, pelestarian budaya tersebut juga melibatkan generasi muda. Salah satu penggiat macapat yang masih duduk di bangku kelas 5 SDN 02 Punten, oca mengaku bangga dapat ikut ambil bagian dalam tradisi budaya desa. Ia menilai macapat bukan hanya seni tembang Jawa, tetapi juga media pembelajaran nilai moral, etika, dan spiritualitas yang penting dikenalkan sejak usia dini.
![]() |
| Ketua Lembaga Adat Oro Oro Ombo, Sukirman |
Ketua Lembaga Adat Desa Oro Oro Ombo Sukirman mengungkapkan bahwa selamatan desa merupakan warisan budaya leluhur yang memiliki dimensi spiritual, sosial, dan ekologis yang harus terus dijaga keberlangsungannya.
Menurutnya, tradisi tersebut bukan sekadar agenda seremonial tahunan, melainkan media kolektif untuk memperkuat nilai gotong royong, harmoni sosial, serta penghormatan terhadap sejarah dan alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat desa.
![]() |
| Pengiring tembang Macapat |
“Selamatan desa ini menjadi ruang refleksi bersama agar masyarakat tidak melupakan akar budaya dan jasa para leluhur. Tradisi seperti macapat, doa bersama hingga ritual di sumber mata air memiliki makna filosofis yang sangat mendalam, terutama dalam membangun kesadaran sosial dan spiritual masyarakat,” ungkapnya.
Ia menambahkan, keterlibatan generasi muda dalam seluruh rangkaian kegiatan menjadi indikator penting dalam menjaga keberlanjutan budaya lokal di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi modern.
“Ketika anak-anak mulai mengenal macapat, wayang, hingga tradisi adat sejak dini, maka secara tidak langsung mereka sedang membangun identitas budaya dan karakter kebangsaan yang kuat,” tambahnya.
![]() |
| Para orang tua pelestari Macapat |
Sementara itu, salah satu orang tua peserta berharap keterlibatan anak-anak dalam kegiatan budaya mampu menjadi motivasi positif, baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Semoga anak-anak semakin semangat belajar budaya daerah dan tidak melupakan tradisi leluhur di tengah perkembangan teknologi saat ini,” ujarnya.
Selamatan Desa Oro Oro Ombo ke-113 menjadi refleksi penting bahwa revitalisasi budaya lokal tidak hanya berfungsi menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial, identitas kolektif, serta warisan intelektual masyarakat berbasis nilai-nilai kultural Nusantara.
Kontributor : Agus
Editor : Tim EDUKASI-R I









