Selasa, 24 Februari 2026

Wamen Viva Yoga Dorong Kebangkitan Sukun sebagai Pangan Alternatif dan Komoditas Masa Depan


pemerintah sebenarnya pernah menjalankan program pengembangan sukun pada era 1990-an melalui kebijakan sukunisasi di kawasan transmigrasi


JAKARTA – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kembali mengarah pada potensi lokal yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi menilai tanaman sukun berpeluang besar menjadi komoditas strategis sekaligus sumber pangan masa depan Indonesia.

Hal tersebut disampaikan saat menerima audiensi Yayasan Sukun Nusantara Sejahtera di Gedung C Kompleks Kantor Kementerian Transmigrasi Republik Indonesia, Kalibata, Jakarta, Selasa (24/2/2026).

Menurut Viva Yoga, pemerintah sebenarnya pernah menjalankan program pengembangan sukun pada era 1990-an melalui kebijakan sukunisasi di kawasan transmigrasi. Program tersebut kala itu menempatkan pohon sukun sebagai tanaman pekarangan untuk mendukung kebutuhan pangan keluarga transmigran.

“Kehadiran yayasan ini mengingatkan kembali bahwa sukun pernah menjadi bagian dari program nasional dan layak dikaji ulang untuk dikembangkan secara lebih luas,” ujarnya.

Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/inovasi-poltekad-dari-sampah-plastik.html

Diversifikasi Pangan dan Ketahanan Nasional

Viva Yoga menilai sukun memiliki sejumlah keunggulan dibanding tanaman pangan lain. Selain mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan, tanaman ini relatif mudah dibudidayakan karena tidak membutuhkan perawatan intensif pada masa awal tanam.

Wamentrans saat berikan pemaparan sukunisasi

Buah sukun juga dikenal sebagai sumber karbohidrat alternatif pengganti beras. Kandungan gizinya dinilai cukup untuk mendukung program diversifikasi pangan sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap satu jenis bahan pokok.

“Sukun dapat menjadi pilihan pangan masa depan sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional,” katanya.

Saat ini Kementerian Transmigrasi mengelola lebih dari 150 kawasan transmigrasi di berbagai wilayah Indonesia. Beragam komoditas telah dikembangkan, mulai dari padi, jagung, singkong, hingga komoditas perkebunan dan sektor wisata. Namun, budidaya sukun masih bersifat sporadis dan belum menjadi program unggulan.

Peluang Industrialisasi Sukun

Selain sebagai bahan pangan, sukun juga dinilai memiliki prospek ekonomi yang luas. Komoditas ini dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti tepung sukun, beras analog, makanan ringan, mie instan, produk pangan bayi, hingga bahan pakan ternak.

Viva Yoga mendorong yayasan dan pelaku usaha untuk menentukan kawasan potensial pengembangan sukunisasi sekaligus membuka peluang industrialisasi berbasis masyarakat di wilayah transmigrasi.

Menurutnya, pengembangan sukun tidak hanya berdampak pada diversifikasi pangan, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga.

Baca juga : https://www.edukasi-ri.com/2026/02/kecelakaan-maut-di-kota-batu-truk-rem.html

Edukasi Masyarakat Jadi Kunci

Pemerintah menilai tantangan terbesar pengembangan sukun bukan pada aspek teknis penanaman, melainkan pada tingkat pemahaman masyarakat terhadap nilai ekonomi tanaman tersebut.

Ia mencontohkan bagaimana dahulu masyarakat belum memahami potensi ekonomi kelapa sawit. Namun seiring edukasi dan pengembangan industri, komoditas tersebut kini menjadi salah satu penopang ekonomi nasional.

“Ke depan, masyarakat bisa saja melihat sukun sebagai komoditas unggulan baru,” ungkapnya.

Melalui sosialisasi berkelanjutan, kolaborasi pemerintah, yayasan, dan pelaku usaha diharapkan mampu menghidupkan kembali gerakan sukunisasi sebagai solusi pangan berkelanjutan Indonesia.


Kontributor : Adi W

Editor : Tim EDUKASI-R I 

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
 Gambar 1  Gambar 2  Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2 Gambar 1
gambar 1 gambar 2 gambar 3

Labels

Aceh AFK Agro Akademik Associantion of Polri ATR BPN Bali Bantengan BHP BI Bilateral Blitar BMKG BPBD Budaya Budaya Jawa Bumiaji Catur cuaca Daerah Delegasi Desa Desa Tulungrejo Destinasi Disabilitas Dishub Dispendukcapil Disperkim DPUPR Dusun Junggo education Edukasi Esai essay Event Lokal Futsal Gempa gibran Grebek Suro Gubernur Gusdur Hotel Hukum dan Kriminal Hukum dan HAM Hukum dan Kriminal Info Pasar informasi publik Inklusi Internasional Jakarta Jawa Timur Jenang Kabupaten Malang Kalbar Kalimantan Kampung Warna-Warni Batu Kampung Wisata Batu Karnaval Kartini Karya Bakti KBLI Kecelakaan Kehutanan Kemah 2024 Kesehatan Koni Kota Baru Kota Batu KPPPA KPU Kuda Lumping Lakalantas Lampung Lingkungan Madrasah Malang Malqng Mancanegara Medan Memberamo Tengah MI Mikutopi Mikutopia MTs Hasyim Asy'ari Musik Muslimat Nasional Nasional. TNI AD National Police Chief Ngantang Non Akademik OJol Olahraga Opini OSS Palestina Papua Papua Barat Papua Pegunungan Pawai PBB PDI Pekanbaru pekerja migran Pelajar Pendem Pendidiian Pendidikan Penghijauan Perhutani Peristiwa Pertanian Piala Dunia Poktekad Polda Jatim Police Polisi Polres Batu Poltekad Pontianak PPM Primbon Jawa PSSI Puasa Membisu Pujon Religi Ritual Kearifan Lokal Kota Batu RUN FUN Rupiah Sambas Sampah Sanduk Sarpras satgas pamtas Sekda Selamatan Desa Seni Seni Budaya Spiritualitas Masyarakat Adat Sumberbrantas Surabaya Suro Suroan tentang Kami Timor Timur TMP TNI TNI AL TPU Tradisi Selamatan Desa Bumiaji Transmigrasi UMKM UMKM Batu Universitas Universitas Terbuka Malang Veteran Vidio Berita Wapres RI WBTB Wisata Budaya Batu Wisata Kota Batu Yonif 512/DIY
EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts