Yayasan Ujung Aspal dan Ladon Entertainment Gelar Podcast Kolaboratif, Bahas Strategi Pengembangan Desa Wisata Berbasis Alam dan Kearifan Lokal
KOTA BATU . Yayasan Ujung Aspal ( YUA ) Kota Batu Kota Batu, berkolaborasi dengan Ladon Entertainment, kembali menunjukan komitmennya dalam mengembangkan pariwisata berkelanjutan dengan menyelenggarakan Diskusi Interaktif bertajuk pengembangan desa wisata. Inisiatif ini menjadi wadah strategis bagi para pelaku dan pemangku kepentingan untuk merumuskan arah pembangunan desa yang mengedepankan kelestarian alam dan nilai-nilai kearifan lokal, juga membedah tantangan dan peluang pembangunan kota melalui desa wisata yang Berbasis Potensi Alam dan Kearifan Lokal ini berlangsung di Durian Fantasi (Dufan), Kelurahan Ngaglik, Kamis (8/1/2026).
Podcast yang dimoderatori oleh Hendy, Ladon Entertainment bersama Wakil Ketua IMAKOBA, Yani Handoko, ini menghadirkan sejumlah narasumber kunci. Turut hadir Kadisparta Kota Batu, Onny Ardianto; Anggota DPRD Komisi B Kota Batu, Sudjono Djonet; Ketua Asosiasi Petinggi dan Lurah (APEL), Wiweko; serta Ketua Pokja Peningkatan Status Kota Batu, Andrek Prana, M Dadik Ketua BUMDES Desa Tulungrejo dan perwakilan masyarakat Soehardono Frans. Acara ini mendapat antusiasme tinggi dari perwakilan tokoh masyarakat, tokoh agama, penggiat lingkungan, dan undangan lainnya.
![]() |
| Kenakan Topi, Penyelenggara Alex Yudawan, YUA saat sesi foto bersama |
Ketua Penyelenggara Alex Yudawan ( YUA ) menjelaskan, kegiatan ini berawal dari keprihatinan atas minimnya wadah diskusi yang mengintegrasikan potensi alam dengan nilai-nilai budaya setempat dalam perencanaan pariwisata.
Diharapkan, diskusi ini dapat menghasilkan rekomendasi strategis dan memantik kolaborasi konkret antar pemangku kepentingan untuk membangun desa wisata yang berkelanjutan dan autentik.
![]() |
| Andrek Prana selaku Ketua Pokja Peningkatan Status Kota Batu |
Dalam paparan pembukanya, Andrek Prana selaku Ketua Pokja Peningkatan Status Kota Batu menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dan kelestarian. “Pembangunan desa wisata di Kota Batu tidak boleh meninggalkan akar kearifan lokal dan keberlanjutan ekologi. Peningkatan status kota harus sejalan dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat asli dan pelestarian alam sebagai modal utama,” ujarnya.
![]() |
| Sudjono Djonet, Anggota DPRD Kota Batu |
Pendapat serupa disampaikan oleh Sudjono Djonet, Anggota DPRD Kota Batu, yang lebih menitikberatkan pada aspek regulasi dan dukungan anggaran. Ia menyoroti perlunya payung hukum dan kebijakan fiskal yang berpihak pada pengelola desa wisata. “Dukungan dari sisi regulasi dan anggaran dari pemerintah daerah mutlak diperlukan. Ini untuk memastikan bahwa pengembangan desa wisata tidak hanya konsep, tetapi bisa diimplementasikan dengan dukungan yang konkret, termasuk dalam hal pembinaan dan pemasaran,” jelas Sudjono.
Dari sisi pemerintahan desa dan kelurahan, Wiweko, selaku Ketua APEL, menuturkan perihal kesiapan dan tantangan di tingkat akar rumput. Ia mengungkapkan pentingnya peningkatan kapasitas bagi perangkat desa dan kelurahan dalam mengelola destinasi wisata. “Para petinggi dan lurah butuh pemahaman yang sama tentang tata kelola wisata yang baik. Sinergi antara pemerintah desa/kelurahan dengan kelompok masyarakat dan pelaku usaha lokal adalah kunci untuk menciptakan pengalaman wisata yang autentik dan berdampak ekonomi merata,” tutur Wiweko.
Sementara itu, apresiasi terhadap inisiatif kegiatan dan optimisme untuk masa depan pariwisata Kota Batu disampaikan oleh Onny Ardianto, Kepala Dinas Pariwisata Kota Batu. Ia menyatakan bahwa diskusi semacam ini menjadi platform penting untuk menyelaraskan visi. “Pemerintah Kota Batu sangat mengapresiasi kolaborasi ini. Podcast ini adalah ruang dialog yang sangat berharga. Kami di dinas berkomitmen untuk menampung semua aspirasi dan merumuskannya menjadi program yang terukur. Ke depan, pengembangan desa wisata akan menjadi salah satu fokus utama, dengan tetap menjunjung tinggi prinsip sustainable tourism, desa wisata sebagai salah satu pendukung dari eco tourism/sustainable tourism dan sebagai potensi luar biasa untuk pariwisata di kota batu” papar Onny.
Dalam podcast tersebut, M. Dadik, Ketua BUMDes Desa Tulungrejo, menegaskan pentingnya pendekatan berbasis komunitas. "Pengembangan desa wisata harus berpusat pada pemberdayaan masyarakat dan menjaga ekosistem. BUMDes hadir sebagai penggerak ekonomi lokal, memastikan manfaat wisata langsung dirasakan warga sekaligus menjamin keberlanjutan sumber daya alam yang menjadi daya tarik utama," ujarnya.
![]() |
| Momen foto penyelenggara bersama para narasumber |
Pendapat senada disampaikan oleh perwakilan masyarakat, Soehardono Frans. Ia menekankan bahwa kearifan lokal bukan sekadar pelengkap, tetapi roh dari setiap pembangunan. "Setiap desa di Batu memiliki identitas dan cerita unik. Strategi pengembangannya harus lahir dari pemahaman mendalam terhadap budaya, tradisi, dan kearifan masyarakat setempat. Dengan begitu, kita tidak hanya menjual pemandangan, tetapi juga pengalaman yang otentik dan bermakna," jelas Soehardono.
Acara podcast ini dinilai telah membuka ruang dialog inklusif yang jarang terjadi. Kolaborasi antara eksekutif, legislatif, asosiasi pemerintahan desa, kelompok kerja, serta komunitas ini diharapkan dapat menghasilkan peta jalan pengembangan desa wisata Kota Batu yang lebih terintegrasi dan aplikatif.
Dengan lokasi yang strategis di kawasan Dufan Ngaglik, acara ini juga secara simbolis menunjukkan potensi pengembangan wisata di berbagai sudut kota, tidak terpusat pada destinasi utama saja. Langkah ini dianggap sebagai terobosan komunikasi publik yang efektif untuk mengakselerasi pembangunan pariwisata Kota Batu yang berkelanjutan dan berbasis komunitas, menuju peningkatan status kota yang diimpikan.
Kolaborasi melalui podcast ini diharapkan dapat melahirkan model pengembangan yang inklusif, di mana keberlanjutan ekologi, keadilan ekonomi, dan pelestarian budaya berjalan seiring, memperkuat posisi Kota Batu sebagai destinasi wisata alam dan budaya yang unggul dan bertanggung jawab.
Kontributor : AGS
Editor : Tim EDUKASI-R I





