TRUST ISSUE BIKIN HUBUNGAN SETIPIS TISU
![]() |
| Arinta Aisyah Larasati/1A Mahasiswa Fakultas Psikologi | Universitas Muhammadiyah Malang |
TRUST ISSUE BIKIN HUBUNGAN SETIPIS TISU
Kalian, khususnya Gen Z, mungkin seringkali merasa curiga sama orang. Mikir negatif berlebihan. Sering waspada, seolah-olah semua orang mau jahat ke kalian. Susah percaya omongan orang lain. Atau bahkan kalian makin sering stalking doi sampai ke akar-akarnya. Kalau benar, itu artinya kalian lagi ngalamin yang namanya “Trust Issue”. Nah, apa sih Trust Issue itu? Jadi Trust Issue ini adalah sebuah kondisi berkepanjangan dimana seseorang kesulitan untuk percaya dalam hubungan sosialnya, akibat dari pengalaman buruk atau traumatis yang pernah ia alami. Dan perlu kalian ketahui kalau ini bukan kondisi “mengada-ada”, fenomena ini benar-benar bisa jadi pengaruh besar dan gangguan di kehidupan seseorang.
Fenomena ini semakin banyak muncul seiring berkembangnya zaman yang makin cepat berubah. Orang-orang saat ini seringkali menghalalkan banyak cara buat memenuhi kebutuhan ego mereka tanpa memikirkan dampak buruk yang akan diterima orang lain kedepannya. Apalagi dengan adanya media sosial, itu bisa bikin realita kita makin rumit lagi. Misalnya, kamu lagi adu pendapat sama seseorang di grup chat. Karena dia tidak mau kalah, dia kasih omongan buruk dan malah menyebar aib mu di grup. Sehingga orang-orang disana jadi ikut menjelekkan kamu, tanpa sadar kalau kelakuan mereka itu salah.
KENAPA TRUST ISSUE BISA MUNCUL?
Fenomena ini tidak muncul begitu saja pada di seseorang, tentu saja ada pengalaman yang melatarbelakanginya. Contohnya, seorang siswi polos yang berada di circle toxic, teman-temannya sering memanipulasi dia pakai kalimat manis. Ia disuruh ini itu dan disebut tega kalau nolak permintaan mereka, selalu
jadi tameng kalau mereka punya masalah. Lama-lama ia merasa tidak dihargai di hubungan itu, karena perlakuan kayak gitu bikin seseorang merasa dirinya cuma alat. Kejadian kayak gitu bikin batin makin luka, bikin kita makin takut dan ragu buat percaya lagi sama orang lain.
Sebenarnya, pengalaman buruk kayak gitu bisa kita alami di keluarga juga. Misalnya, ada seorang anak saat kecil yang sering bercerita tetapi hanya mendapat respons seadanya. Ketika remaja, ia mulai curhat soal konflik yang ia alami, orang tua malah menyalahkannya. Ketika ia menangis karena tersakiti, orang tua menunjukkan kemarahan seolah menangis itu tidak wajar. Akhirnya ia merasa bahwa orang tuanya bukan tempat aman untuk bercerita. Ia pun tumbuh menjadi pribadi yang lebih tertutup dan pendiam.
Apalagi pengalaman traumatis di hubungan romantis yang juga jadi penyebab dari banyaknya orang yang mengalami Trust Issue. Muncul istilah-istilah baru yang beredar di media sosial, tentunya dari pengalaman dengan pasangan yang toxic seperti Mommy/Daddy issue, Gaslighting, Love-bombing, dan lainnya. Pendapat “Cinta itu bikin logika kita mati” itu benar, karena tanpa sadar kita akan dibuat gila oleh para orang toxic itu. Dimanipulasi, dijadikan pelampiasan, dan dikhianati buat kepuasan mereka sendiri, hal itu bikin kepercayaan korbannya hancur sampai butuh waktu dan usaha yang sangat banyak buat pulih.
KENAPA FENOMENA INI SEMAKIN BANYAK TERJADI DI GENERASI SEKARANG?
Kondisi sosial sekarang yang dimana interaksi kita banyak terjadi secara digital, sehingga kondisi itu cukup menjadi salah satu pengaruh munculnya fenomena ini. Chat yang baru terkirim sekian menit belum dibalas pun bisa bikin kita secepat itu overthinking. Media sosial kebanyakan dipakai buat bangun “image palsu”. Orang manipulatif bisa ditutupi dengan unggahan yang terlihat layaknya orang baik. Orang yang terlihat perhatian sekali, ternyata dia haus validasi. Jadi, semua kepalsuan dan ketidakpastian ini bikin seseorang makin sulit percaya pada siapapun.
Selain itu, ada juga budaya kompetitif dan individualistis yang bikin orang menjadi selalu berjaga-jaga. Banyak yang bilang “Kalau kamu terlalu baik, kamu bakal diinjak”. Ucapan kayak gitu bikin kamu mikir bahwa setiap orang bisa jadi ancaman. Kamu mulai curiga sama niat orang, merasa harus selalu menang agar tidak dimanfaatkan. Pola pikir ini akhirnya bikin hubungan terasa seperti kompetisi. Kamu sibuk mempertahankan diri dan kamu lupa bahwa hubungan seharusnya jadi ruang aman untuk saling dukung, bukan tempat yang bikin kamu terus bersiap diserang.
TRUST ISSUE ITU BUKAN ALAY, LEBAY, ATAU MENGADA-ADA
Banyak orang masih sering meremehkan fenomena ini. Mereka bilang orang yang punya Trust Issue itu si paling drama, sensitif, dan baperan. Padahal kondisi ini muncul dari pengalaman hidup yang berat, juga bukan keinginan buat cari perhatian sana sini. Banyak orang tidak sadar bahwa yang mereka sebut “lebay” itu sebenarnya reaksi normal dari seseorang yang pernah disakiti atau merasa tidak aman akibat pengalaman sebelumnya.
Contoh-contoh tadi menunjukkan bahwa Trust Issue punya akar yang jelas dan nyata. Kondisi ini bukan sekadar “Aku gak mau percaya orang lain”, tapi ada proses panjang dan pengalaman pahit yang mereka pendam sendiri. Orang yang menganggap enteng, biasanya belum pernah merasakan rasa sakit yang sama. Atau mungkin mereka sedang mengalami Trust Issue tanpa disadari, Karena mereka terbiasa defensif. Biasanya mereka akan menyeran orang lain untuk terlihat kuat, padahal itu cara mereka menutupi ketakutannya sendiri.
Ini soal rasa aman seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Tentang kepercayaan yang pernah hancur dan sulit dipulihkan. Jadi wajar sekali kalau seseorang masih berjuang menata diri mereka, tidak ada yang salah dengan hal itu. Tidak ada kata terlambat selagi kamu masih punya niat dan usaha untuk mengembalikan rasa percaya dan memperbaiki diri sendiri.
DAMPAKNYA NYATA BANGET DALAM HUBUNGAN SOSIAL
Trust Issue ini bikin hubungan kayak tisu, rapuh dan tipis banget gampang robek. Kamu jadi sering salah paham, curiga, dan merasa orang lain berubah hanya karena mereka lagi capek. Kamu juga jadi takut cerita dengan jujur karena mikir semua orang bisa jadi musuh. Hubungan sosial yang harusnya jadi tempat aman, malah jadi sumber utama stress buat kamu.
Di lingkungan pertemanan dan pekerjaan. Orang yang punya Trust Issue ini sering menarik diri, susah diajak kerjasama ataupun ngobrol yang terlalu dalam. Seringkali memilih untuk kerja sendirian, yang akhirnya dia kelihatan antisosial. Bukan karena sombong, tapi ia mikir kalau orang-orang ini bakal mengkhianatinya lagi.
Di lingungan keluarga dan hubungan romantis. Trust Issue ini bikin komunikasi makin berkurang, kayak masalah apapun bakal kamu simpan sendirian. Sehingga jarak emosionalnya makin besar, bikin hubungannya terasa dingin dan kaku. Kamu bakal merasa tidak aman, tidak tenang, dan tidak bebas melakukan apapun ketika bersama orang lain.
BAGAIMANA CARA MENGATASINYA?
Membangun kembali kepercayaan itu butuh waktu. Kamu bisa mulai dari langkah kecil, seperti belajar mengenali emosi, terbuka pada orang yang kamu anggap aman, berlatih komunikasi yang jujur, dan kamu bisa coba mencari dukungan profesional kalau merasa trauma terlalu berat.
Disini, lingkungan juga mempunyai peran, sehingga kita harus berhenti meremehkan Trust Issue, membantu teman dengan mendengarkan, menjaga rahasianya, tidak memanipulasi, tidak mempermainkan perasaannya, serta memberikan dukungan yang bisa mengembalikan sedikit demi sedikit rasa aman. Trust issue memang bikin hubungan mudah retak, tapi bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Kamu pasti bisa pulih, kamu bisa membangun ulang kepercayaan yang sempat runtuh itu. Kamu bisa punya hubungan yang lebih sehat kalau kamu berani memulai langkah kecil hari ini.
Kontributor : AGS
Editor : Tim EDUKASI-R I

