Jumat, 18 September 2026

BSFF ke-9 Digelar di Kota Batu, 40 Tenan Ramaikan Festival Kuliner

 


KOTA BATU –

EDUKASI-RI


Batu Street Food Festival (BSFF) kembali hadir untuk memperkuat ekosistem kuliner dan pariwisata Kota Batu. Memasuki penyelenggaraan ke-9, festival kuliner tersebut resmi dibuka dengan mengusung tema “Sae Rasane Sae Suasanane” di halaman Balai Kota Among Tani, Kamis (17/9/2026)pagi.

BSFF 2026 berlangsung selama tiga hari, mulai 17 hingga 19 September. Sebanyak 40 tenan dari unsur hotel, restoran, anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta sejumlah mitra strategis turut ambil bagian dalam perhelatan tersebut.

Kehadiran puluhan pelaku usaha kuliner menjadikan BSFF bukan sekadar agenda hiburan, tetapi juga ruang interaksi ekonomi yang mempertemukan pelaku industri hospitality, wisatawan, dan masyarakat. Aktivitas tersebut diharapkan menciptakan multiplier effect terhadap sektor perdagangan, jasa, dan pariwisata lokal.

Pembukaan BSFF ke-9 dihadiri Wali Kota Batu H. Nurochman, S.H., M.H., Wakil Wali Kota Batu H. Heli Suyanto, S.H., M.H., Ketua BPC PHRI Kota Batu H. Sujud Hariadi, S.E., Kapolres Batu, Kajari Batu, Sekretaris Daerah, perwakilan DPRD Kota Batu, jajaran kepala SKPD, serta pimpinan hotel dan restoran.

Ketua Pelaksana BSFF ke-9, Agus Lukyanto, LIE, mengatakan penyelenggaraan festival tahun ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, asosiasi industri pariwisata, dunia usaha, dan berbagai mitra pendukung.

Momen Ketua Pelaksana BSFF ke-9, Agus Lukyanto, LIE dengan Wakil Walikota Batu

“Pelaksanaan BSFF ke-9 tahun 2026 ini diikuti oleh 40 tenan yang terdiri dari perwakilan hotel, restoran, anggota Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta mitra strategis,” ujar Agus.

Festival tersebut juga mendapat dukungan sejumlah sponsor dan mitra strategis, antara lain BRI, Jatim Park Group, Selecta, Pakuwon, Kaliwatu, Global Extreme, BPD PHRI Jawa Timur, serta Forum Asosiasi Industri Pariwisata (ASITA).

Ketua BPC PHRI Kota Batu, H. Sujud Hariadi, memberikan apresiasi terhadap dukungan Pemerintah Kota Batu dalam penyelenggaraan BSFF. Menurutnya, keterlibatan pemerintah menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kesinambungan agenda pariwisata dan ekonomi kreatif di Kota Batu.

Ketua BPC PHRI Kota Batu, H. Sujud Hariadi, saat berikan sambutan

Ia juga menyoroti latar belakang Wali Kota Batu yang pernah berkecimpung di industri perhotelan dan organisasi pekerja pariwisata. Pengalaman tersebut dinilai memberikan perspektif tersendiri dalam memahami dinamika industri hospitality.

Pemilihan September sebagai waktu pelaksanaan BSFF juga dilakukan dengan pertimbangan kondisi cuaca. Periode tersebut dipilih sebelum memasuki Oktober yang secara historis berpotensi menghadirkan intensitas hujan lebih tinggi, sehingga penyelenggara berharap kenyamanan wisatawan tetap terjaga.

Sementara itu, Wali Kota Batu H. Nurochman mendorong agar BSFF segera memperoleh perlindungan kekayaan intelektual. Menurutnya, legalitas merek festival penting untuk membangun identitas yang konsisten sekaligus membuka peluang pengembangan event ke tingkat yang lebih luas.

Wali Kota Batu H. Nurochman, saat proses memasak 

“Kegiatan ini harus segera didaftarkan agar BSFF memiliki intellectual property sendiri. Dengan menjadi merek resmi, acara ini dapat kita bawa dan promosikan secara konsisten ke seluruh penjuru Nusantara, sehingga mendatangkan lebih banyak wisatawan ke Kota Batu,” tegas Nurochman.

Selain BSFF, ia menyebut sejumlah agenda wisata dan ekonomi kreatif lainnya juga perlu memperoleh perhatian serupa, termasuk Fashion on The River dan Festival Padang Bulan.

Penyelenggaraan BSFF ke-9 juga memiliki relevansi dengan agenda Kota Batu dalam mengembangkan identitas sebagai kota kreatif bidang gastronomi. Penguatan sektor gastronomi tidak hanya bertumpu pada cita rasa makanan, tetapi juga mencakup sejarah, tradisi, budaya, kreativitas, hingga pengalaman wisata yang terbentuk di sekitar produk kuliner.

Konteks tersebut sejalan dengan upaya Kota Batu mengikuti jejaring UNESCO Creative Cities Network (UCCN) pada bidang Gastronomi. Kuliner tradisional yang memiliki nilai historis dan keterkaitan dengan kehidupan sosial masyarakat menjadi salah satu potensi yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari diferensiasi destinasi.

Susana malam hari

Melalui pendekatan tersebut, kuliner diposisikan bukan sekadar produk konsumsi, melainkan sebagai bagian dari tourism experience dan instrumen penguatan identitas daerah.

BSFF ke-9 diharapkan mampu memperluas dampak ekonomi bagi pelaku usaha sekaligus memperkaya pengalaman wisatawan. Perputaran transaksi selama festival berpotensi memberikan efek berantai kepada sektor transportasi, akomodasi, perdagangan, UMKM, hingga industri kreatif.

Dengan demikian, BSFF tidak hanya menjadi ruang menikmati ragam kuliner, tetapi juga bagian dari strategi pengembangan pariwisata berbasis ekonomi kreatif yang berorientasi pada kolaborasi dan keberlanjutan.

Di tengah atmosfer sejuk Kota Batu, festival yang berlangsung hingga 19 September tersebut menjadi salah satu momentum untuk mempertemukan kekuatan kuliner, pariwisata, dan kreativitas lokal dalam satu ekosistem ekonomi yang saling terhubung.


Kontributor : Agus

Editor : Tim EDUKASI-RI 

Gambar 2 Gambar 2 Gambar 1
gambar 2 Gambar 1 Gambar 3
 Gambar 1  Gambar 2  Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3
gambar 3 Gambar 2 Gambar 1
gambar 1 gambar 2 gambar 3

Labels

EDUKASI-RI

Dengan maraknya asupan informasi yang telah berganti dari era cetak menjadi online, maka kami suguhkan informasi yang transparan , jelas dan sesuai kondisi dilapangan, sebagai literasi edukasi kepada seluruh pembaca , terimakasih atas kunjungan anda dan semoga menjadikan lebih bermakna, MERDEKA

Popular Posts

Popular Posts