Kepulangan dan Gema Inna Lillahi: Refleksi Koeboe Sarawan
Kota Batu, Jum'at 24 Oktober 2025. Hari Santri Nasional 2025 ini yang sekaligus rangkaian Hari jadi Kota Batu ke 24, pameran seni rupa kaligrafi Nasional digelar di Graha Pancasila Balai Kota Among Tani yang dibuka 22 Sampai 28 Oktober 2025 menarik perhatian berbagai kalangan , berikut essay karya puisi,penyair asal Kota Batu bersama pelukis nasional Koeboe Sarawan.
Kepulangan dan Gema Inna Lillahi: Refleksi Koeboe Sarawan
Oleh : Akaha Taufan Aminudin
Dalam Pameran "The Power of Qur'an: Aksara Ilahi", di tengah dominasi kanvas yang berteriak dengan akrilik tebal, hadir sebuah karya Koeboe Sarawan yang memilih berbisik dengan medium yang lembut: Cat Air di atas Kertas.
Berdasarkan karya Koeboe Sarawan yang berjudul "Pulang Adalah Akhir Perjalanan", dengan media Cat Air di atas Kertas, berukuran 61 x 51 cm, dan visual lukisan yang menampilkan kaligrafi di atas figur yang terbaring. Karyanya yang menarik dan penuh refleksi.
Karyanya, yang berjudul "Pulang Adalah Akhir Perjalanan", bukan sekadar lukisan, melainkan sebuah epilog visual yang merangkum esensi spiritualitas dalam satu bingkai.
Karya ini secara visual terbagi menjadi dua dunia yang terhubung secara filosofis: dunia aksara di atas, dan dunia raga di bawah.
Kontras Raga dan Kata
![]() |
| Akaha Taufan A , bersama Koeboe Sarawan |
Di bagian atas, kita dapati kaligrafi yang tertulis indah dan terukir timbul (relief), mengutip ayat suci: "Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un" (Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kita akan kembali).
Diksi kaligrafi ini ditulis dengan gaya yang kokoh dan berwibawa, seolah-olah kata-kata tersebut adalah Dekrit Ilahi yang tak terbantahkan. Pemilihan warna emas atau ochre lembut pada aksara memberikan kesan cahaya dan keabadian.
Namun, yang membuat karya ini begitu menggugah adalah kontrasnya dengan bagian bawah. Di sana, Koeboe Sarawan menempatkan dua figur manusia yang terbaring kaku, diselimuti kain kafan yang lusuh dan terlipat longgar. Cat air, dengan karakter lembutnya, memberikan efek transparansi dan kesementaraan pada figur tersebut. Figur ini mewakili "perjalanan" yang telah usai; sebuah raga yang kini diam, tidak lagi digerakkan oleh hiruk pikuk dunia.
Pulang sebagai Finalitas
Judul "Pulang Adalah Akhir Perjalanan" adalah kunci filosofis karya ini. Koeboe Sarawan tidak menggambarkan kematian sebagai akhir yang tragis, melainkan sebagai finalitas spiritual yang agung. Dua figur yang terbaring adalah metafora bagi setiap jiwa.
Di atas mereka, kalimat istirja’ (pernyataan kembali) berdiri sebagai pintu gerbang menuju Keilahian.
Aksara kaligrafi di sini bukan hiasan; ia adalah Narasi Abadi yang memeluk raga yang fana. Ia memberikan makna transenden pada kesenyapan kematian. Raga telah berhenti bergerak, tetapi kalimat suci itu abadi, menegaskan bahwa kepemilikan dan tujuan akhir sejati jiwa adalah Kembali kepada-Nya.
Melalui medium cat air yang ringkih, Koeboe Sarawan berhasil menyampaikan bobot makna yang kolosal. Kertas yang rapuh melawan kekekalan kalimat Qur'an; raga yang diam melawan janji kepulangan.
Karya ini menjadi "seni yang meneduhkan" sejati, memaksa pemirsa untuk merenungkan siklus hidup dan mati, dan menemukan kedamaian dalam kepastian "Pulang"—sebuah destinasi yang telah ditetapkan bahkan sebelum perjalanan dimulai.
Kamis Pon 23 Oktober 2025
Drs. Akaha Taufan Aminudin
Sisir Gemilang Kampung Baru Literasi SIKAB Himpunan Penulis Pengarang Penyair Nusantara HP3N Kota Batu Wisata Sastra Budaya SATUPENA JAWA TIMUR
Kontributor : AGS
Editor : Tim EDUKASI-R I


