Rumah Sakit Al-Shifa Beroperasi Pulihkan Layanan Kesehatan dari Dampak Perang
GAZA. Setelah menjalani upaya rekonstruksi ekstensif pasca kerusakan parah, sebuah bagian baru dari kompleks Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza akhirnya mulai beroperasi kembali. Pengumuman ini disampaikan oleh sumber-sumber media, termasuk Yeni Safak, yang melaporkan bahwa pembukaan fasilitas baru ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memulihkan layanan kesehatan dasar di wilayah yang terkepung tersebut, Kamis 25 Desember 2025.
Rumah Sakit Al-Shifa, yang selama ini dikenal sebagai kompleks medis terbesar di Jalur Gaza, mengalami kehancuran signifikan akibat konflik bersenjata yang melanda kawasan itu. Proses renovasi yang dilakukan difokuskan pada penyediaan layanan penting, mencakup unit gawat darurat (UGD), fasilitas perawatan rawat jalan, serta ruang perawatan rawat inap. Keberadaan layanan ini diharapkan dapat sedikit meredakan beban sistem kesehatan Gaza yang selama berbulan-bulan nyaris kolaps di bawah tekanan konflik, blokade, dan krisis kemanusiaan.
Peliputan Yeni Safak menyebutkan bahwa kerusakan yang melanda infrastruktur kesehatan Gaza, termasuk Al-Shifa, merupakan akibat dari apa yang mereka sebut sebagai "genosida dan pemboman oleh pasukan teroris Israel." Narasi ini mencerminkan salah satu perspektif yang banyak beredar dalam pemberitaan internasional mengenai konflik berkepanjangan di wilayah tersebut. Namun, perlu dicatat bahwa klaim dan terminologi spesifik mengenai peristiwa di Gaza sering kali menjadi bahan perdebatan dan liputan yang berbeda-beda di berbagai media global, tergantung sudut pandang editorialnya.
Terlepas dari perbedaan narasi tersebut, fakta di lapangan menunjukkan bahwa operasional kembali sebagian dari Al-Shifa merupakan kabar penting bagi warga Gaza. Sebelumnya, rumah sakit ini tidak hanya berfungsi sebagai pusat rujukan medis utama, tetapi juga menjadi tempat berlindung bagi ribuan warga sipil yang mengungsi dari daerah pertempuran. Kerusakan infrastrukturnya telah memperdalam krisis kemanusiaan, dengan minimnya akses terhadap layanan kesehatan esensial, obat-obatan, dan pasokan listrik yang stabil.
Pemulihan layanan di Al-Shifa, meski sebagian, menandai titik terang dalam upaya membangun kembali Gaza yang telah luluh lantak. Namun, para pengamat kesehatan masyarakat dan organisasi bantuan internasional mengingatkan bahwa jalan menuju pemulihan total sistem kesehatan Gaza masih sangat panjang. Tantangan seperti keterbatasan pasokan alat medis, obat-obatan kronis, kurangnya tenaga kesehatan, serta kerusakan infrastruktur pendukung seperti air bersih dan listrik, tetap menjadi hambatan besar.
Keberhasilan rekonstruksi bagian rumah sakit ini juga menyoroti ketahanan pihak berwenang kesehatan lokal dan organisasi bantuan yang bekerja di tengah kondisi yang sangat menantang. Operasional kembali fasilitas gawat darurat khususnya diharapkan dapat menangani kasus-kasus akut dan menyelamatkan lebih banyak nyawa.
Pembukaan bagian baru Rumah Sakit Al-Shifa ini merupakan langkah kritis, meski simbolis, dalam perjuangan untuk mengembalikan hak dasar warga Gaza atas kesehatan. Keberlanjutan layanan ini ke depan akan sangat bergantung pada situasi keamanan yang stabil dan dukungan berkelanjutan dari komunitas internasional untuk rekonstruksi yang lebih menyeluruh.
Sumber : Yeni Safak
Kontributor : Susi
Editor : Tim EDUKASI-R I



